CERITA DEWASA

Mbak Fotocopy Langganan

Krek. Krek. Krek. Bunyi mesin fotokopi itu sudah seperti musik latar dalam hidupku. Setiap pagi jam setengah sembilan, aku berdiri di depan kios "Copy Cepat" dengan map berisi dokumen, menunggu giliran sambil menghirup bau tinta dan kertas panas.

Kios itu kecil, cuma tiga kali empat meter, terjepit di antara warung nasi dan toko pulsa di ruko dekat kantorku. Tapi mesinnya tiga, operatornya cekatan, dan yang paling penting, pemiliknya ramah luar biasa.

Namanya Dian. Umurnya tiga puluh dua, dua tahun lebih tua dariku. Janda. Suaminya meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung. Sejak itu ia menjalankan kios fotokopi ini sendirian, dibantu satu karyawan paruh waktu bernama Agus yang cuma datang siang hari.

Dian cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat. Kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang dan selalu diikat kuncir kuda waktu kerja. Badannya semampai, dan ia selalu wangi sabun mandi yang segar. Senyumnya manis, dan ia hafal kebiasaanku.

"Mas Bima, yang biasa ya? Bolak-balik, dijilid lakban," katanya setiap kali aku datang, tanpa perlu aku menjelaskan.

Aku Bima, tiga puluh tahun, karyawan swasta di perusahaan logistik. Kerjaanku banyak dokumen. Setiap hari aku fotokopi puluhan lembar. Kadang seratus. Kios Dian jadi tempat wajibku, seperti kantin bagi orang lapar.

Kami akrab. Bukan akrab basa-basi, tapi akrab beneran. Aku tahu ia suka kopi susu tanpa gula. Ia tahu aku benci antre lama. Kadang kalau kios sepi, kami ngobrol sambil menunggu mesin bekerja.

Suatu siang aku datang dengan dokumen yang tidak terlalu mendesak. Kios sedang sepi, Agus belum datang. Dian sedang makan siang, nasi bungkus di meja kasir.

"Mas Bima udah makan?" tanyanya.

"Belum."

"Duduk. Makan bareng." Ia membagi nasi bungkusnya jadi dua, menambah lauk dari kaleng sarden.

Kami makan berdua di dalam kios yang sempit, beralaskan koran. Nasi hangat, sarden pedas, kerupuk. Sederhana tapi nikmat.

"Kamu masak?" tanyaku.

"Nggak. Beli di warteg depan." Ia tertawa. "Aku nggak bisa masak. Suamiku dulu yang masak."

"Serius?"

"Serius. Dia koki di hotel. Makanya aku gemuk dulu." Ia menepuk perutnya yang rata. "Sekarang kurus lagi. Nggak ada yang masakin."

Ada sedih di tawanya. Aku mengerti. Kehilangan bukan cuma soal orangnya, tapi soal hal-hal kecil yang ikut hilang bersamanya.

"Kapan-kapan aku traktir makan beneran," kataku. "Bukan nasi bungkus dibagi dua."

"Janji ya."

"Janji."

Sejak makan siang itu, kami makin dekat. Ia mulai cerita soal anaknya, soal ibunya di kampung, soal rencana memperbesar kios. Aku cerita soal kerjaanku, soal bosku yang galak, soal mimpiku buka usaha sendiri.

"Mas Bima," tanyanya suatu pagi. "Nggak bosen fotokopi terus?"

"Bosen. Tapi ya gimana, kerjaan."

"Enak ya kerja kantoran. AC, duduk."

"Enak apanya. Dimarahin bos tiap hari." Kami tertawa.

Siang itu hari Selasa, aku datang jam dua dengan setumpuk dokumen tender. Dua ratus lembar, harus jadi jam empat. Agus sedang istirahat makan siang, jadi Dian yang melayani sendiri.

"Mas Bima, ini banyak banget," katanya sambil menimbang tumpukan kertas itu. "Sabar ya, aku kerjain sekarang."

Ia memasukkan kertas ke mesin satu per satu. Krek. Krek. Krek. Aku duduk di kursi plastik depan kios, main HP sambil menunggu.

Tiba-tiba bunyi mesin berubah. Krek... krek... srek. Lalu berhenti. Lampu merah menyala.

"Aduh, macet," gumam Dian.

Ia membuka tutup mesin, mengintip ke dalam. Kertas nyangkut di rol. Ia mencoba menariknya pelan-pelan, tapi kertasnya robek dan separuhnya tertinggal di dalam.

"Mas Bima, bentar ya. Aku panggil Agus."

"Agus lagi makan. Sini, biar aku coba."

Aku masuk ke dalam kios. Ruangannya sempit, kami berdua berdiri berdesakan di depan mesin yang terbuka. Aku bisa mencium wangi sabunnya dengan jelas.

"Kertasnya nyangkut di rol dalam," kataku. "Ada pinset?"

"Nih." Ia menyerahkan pinset.

Aku mencongkel sisa kertas yang robek dengan hati-hati. Butuh waktu hampir sepuluh menit. Dian berdiri di sebelahku, memperhatikan, sesekali menyerahkan tisu atau obeng kecil.

"Mas Bima bisa aja," katanya kagum waktu mesin akhirnya menyala normal lagi.

"Dulu sering benerin printer di kantor."

"Penyelamatku." Ia tersenyum lebar, lalu tanpa aba-aba mencubit pipiku. "Makasih ya."

Pipiku panas. Bukan cuma karena cubitan itu, tapi karena kedekatan kami. Di ruangan sempit itu, bahunya menyentuh bahuku. Wanginya memenuhi hidungku.

Sejak hari itu, ada yang berubah. Dian jadi lebih perhatian. Dokumenku selalu diprioritaskan. Kadang ia memberi diskon tanpa aku minta. Kadang ia menyelipkan permen di mapku.

Aku juga jadi lebih sering mampir. Bukan cuma fotokopi, tapi kadang cuma beli minum atau sekadar lewat dan mampir ngobrol lima menit.

Jumat sore, aku datang jam setengah enam. Kios sudah mau tutup. Agus sudah pulang. Dian sedang menghitung uang kasir.

"Mas Bima! Mau fotokopi?"

"Nggak. Cuma mampir." Aku menyerahkan kantong plastik. "Nih, martabak. Buat temen ngopi."

Ia terkejut. "Wah, makasih. Duduk."

Kami duduk di dalam kios, makan martabak sambil ngobrol. Di luar, jalanan mulai sepi. Ruko-ruko tetangga satu per satu mematikan lampu.

"Mas Bima baik banget," katanya tiba-tiba.

"Biasa aja."

"Nggak. Serius." Ia menatapku. "Sejak suamiku meninggal, jarang ada laki-laki yang baik sama aku tanpa maunya macem-macem."

Aku terdiam. "Maunya macem-macem gimana?"

Ia tertawa pahit. "Ya gitu. Ada pelanggan yang genit. Ada supplier yang nawarin bantuan tapi ujung-ujungnya ngajak jalan. Aku udah hapal."

"Kamu nggak pernah kepikiran nikah lagi?"

"Pernah. Tapi takut." Ia memainkan sedotan di gelasnya. "Takut salah pilih lagi. Takut anakku nggak bahagia."

Aku baru tahu ia punya anak. "Anakmu umur berapa?"

"Sembilan. Tinggal sama ibuku di kampung, biar fokus sekolah." Ia tersenyum tipis. "Aku kesini tiap dua minggu sekali."

"Berat ya."

"Beratnya bukan kerja, Mas. Beratnya sepi." Ia menatapku dalam-dalam. "Kontrakan sepi. Kios rame tapi cuma rame kerjaan. Pulang, sepi lagi."

Ada sesuatu di tatapannya yang membuat dadaku sesak. Kesepian yang jujur, tanpa dibuat-buat.

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya yang ada di meja. Tangannya halus, tapi ada bekas tinta di ujung jari yang tidak hilang meski dicuci.

Ia tidak menarik tangannya.

"Dian," kataku pelan, pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel Mbak.

Ia menoleh. Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, memberi kesempatan untuk mundur.

Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Ada rasa martabak manis di bibirnya. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat.

Kami berciuman di kios fotokopi yang sempit itu, dikelilingi tumpukan kertas dan bau tinta. Mesin-mesin diam, lampu neon berkedip pelan. Dunia luar tidak ada.

Tanganku melingkar di pinggangnya. Tubuhnya ramping tapi hangat. Ia mendesah di mulutku. Ciuman itu makin dalam, makin lapar.

"Mas," bisiknya di sela ciuman. "Kunci pintunya."

Aku berbalik dan mengunci pintu kios dari dalam. Klik. Lampu depan kumatikan, menyisakan lampu kecil di dalam.

Dian menuntunku ke ruang belakang yang kecil. Ada sofa usang, dispenser, dan tumpukan dus kertas. Pintu ditutupnya.

Di ruangan sempit itu, kami saling menatap dengan napas memburu.

"Yakin?" tanyaku.

Ia mengangguk, lalu mulai membuka kancing kemejanya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Kemeja itu terlepas, menyisakan ia dalam balutan bra krem dan rok span hitam.

Tubuhnya indah. Kulitnya kuning langsat mulus. Dadanya penuh dan kencang.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Roknya kuturunkan. Kakinya jenjang dan mulus. Ia melangkah keluar dari roknya dengan anggun.

Kami berbaring di sofa yang sempit itu. Sempit, tapi kami tidak peduli. Yang penting dekat. Kulit bertemu kulit.

Aku menciumi seluruh tubuhnya. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya menjambak rambutku. Badannya melengkung.

Waktu tanganku menyentuhnya, ia sudah basah. Ia menggigit bibirnya, menahan desahan.

Aku melepaskan pakaianku. Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku.

Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.

Kami bergerak pelan dulu. Sofa berderit mengikuti ritme. Napas kami memburu. Keringat mulai membasahi tubuh.

"Mas," bisiknya. "Jangan berhenti."

Aku mempercepat gerakanku. Ia mengimbangi dengan pinggulnya. Desahannya makin keras. Kukunya mencakar punggungku.

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama di sofa sempit itu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.

"Maaf," bisiknya.

"Untuk apa?"

"Aku janda. Kamu bujangan."

"Kita berdua yang mau." Aku mengecup keningnya. "Nggak ada yang salah."

Ia tersenyum kecil. "Kamu nggak takut orang ngomong?"

"Biarin."

Kami berpakaian kembali. Ia merapikan kemejanya, aku merapikan kaosku. Kios dibuka lagi, lampu dinyalakan. Tidak ada yang berubah di permukaan.

Tapi sejak malam itu, setiap kali aku datang fotokopi, ada yang beda. Senyum Dian lebih manis. Cubitan di pipiku lebih lama. Dan kadang, kalau kios sudah mau tutup dan Agus sudah pulang, ia mengunciku dari dalam.

Bukan mengunci pintu. Mengunciku. Di dalam dunianya.

Para pelanggan tidak tahu. Mereka cuma tahu Kios Copy Cepat cepat, murah, dan Mbak Dian ramah.

Mereka tidak tahu, di balik keramahan itu, ada perempuan yang akhirnya tidak sepi lagi.

Dan aku tidak tahu, sejak kapan fotokopi jadi kegiatan favoritku. Bukan karena dokumennya. Tapi karena yang menunggunya.

Setiap pagi jam setengah sembilan, aku tetap datang dengan map berisi dokumen.

"Mas Bima, yang biasa ya?"

"Iya. Yang biasa."

Padahal tidak ada yang biasa lagi. Tidak sama sekali.

Minggu lalu aku menepati janjiku. Aku mentraktirnya makan beneran, bukan nasi bungkus dibagi dua. Kami makan di rumah makan padang dekat ruko, pesan rendang, ayam pop, dan es teh manis dua gelas.

"Enak," katanya sambil menambah nasi. "Makasih, Mas Bima."

"Sama-sama."

Sepanjang makan kami tertawa terus. Ia cerita soal Agus yang kemarin salah memotong kertas sampai pelanggan komplain. Aku cerita soal dokumen tenderku yang akhirnya menang.

Waktu pulang, ia menggenggam tanganku di bawah meja. Sebentar saja. Tapi cukup.

Di parkiran, sebelum berpisah, ia berbisik.

"Besok fotokopi ya."

Aku tersenyum. "Iya. Yang biasa."

Kami berdua tertawa. Orang-orang di sekitar tidak mengerti apa yang lucu. Biarin. Itu rahasia kami.

Rahasia kios fotokopi di ujung ruko, yang mesinnya berbunyi krek krek krek setiap pagi, dan pemiliknya tersenyum setiap kali aku datang.

Krek. Krek. Krek. Musik latar dalam hidupku. Yang sekarang terdengar jauh lebih merdu.

bagikan