Brak!
Aku menoleh dari teras rumahku. Di seberang jalan, di depan rumah kosong yang sudah dua tahun tidak berpenghuni, sebuah kardus besar baru saja jatuh dari truk pindahan dan pecah di aspal. Isinya berserakan. Piring, gelas, bingkai foto, dan entah apa lagi.
Perempuan yang tadi berdiri mengawasi tukang angkut langsung berjongkok panik, memunguti pecahan sambil meneriaki sopir truk yang turun dengan wajah bersalah.
"Ya ampun! Hati-hati dong, Pak!" suaranya melengking.
Aku berdiri. Sebagai tetangga satu-satunya yang rumahnya berhadapan langsung, rasanya tidak sopan kalau cuma menonton. Aku menyeberang jalan.
"Perlu bantuan, Mbak?" tanyaku sambil ikut memunguti bingkai foto yang untungnya tidak pecah.
Ia menoleh. Dan saat itu aku mengerti kenapa jantungku berdegup aneh.
Ia cantik. Rambutnya panjang, wajahnya oval, kulitnya putih bersih. Keringat membasahi pelipisnya, tapi itu malah membuatnya terlihat hidup. Umurnya mungkin sekitar tiga puluhan. Dasternya sederhana, tapi tubuhnya...
"Eh, makasih, Mas," katanya lega. "Maaf ngerepotin."
"Nggak apa-apa. Namanya juga musibah." Aku mengangkat kardus yang sudah penyok. "Piringnya banyak yang pecah?"
"Beberapa. Ya sudahlah, nasib."
Tukang angkut meminta maaf berkali-kali. Perempuan itu, yang belakangan kuketahui bernama Lestari, cuma menghela napas dan menyuruh mereka lanjut mengangkat barang yang lain.
Aku ikut membantu mengangkat beberapa perabot ringan. Lemari kecil, meja lipat, koper-koper. Lumayan, sekalian olahraga.
"Makasih banyak ya, Mas," kata Lestari waktu truk akhirnya pergi dan barang-barang menumpuk di ruang tamu rumah barunya.
"Sama-sama. Saya Galih, rumah yang di seberang itu."
"Lestari. Baru pindah dari Bandung." Ia menyeka keringat di dahinya. "Suami saya masih di jalan, bawa mobil sendiri. Harusnya sampai sore."
Aku mengangguk. "Kalau butuh apa-apa, ketok aja rumah saya."
"Makasih, Mas Galih."
Aku pulang dengan perasaan aneh. Sudah lama aku tidak memperhatikan perempuan seperti itu. Maklum, aku ini wiraswasta berumur tiga puluh empat tahun yang hidupnya cuma kerja, makan, tidur. Pacar pun tidak punya. Jomblo kronis, kata teman-temanku.
Sore harinya sebuah mobil Avanza parkir di depan rumah sebelah. Laki-laki berumur sekitar akhir tiga puluhan keluar, langsung memeluk Lestari yang menyambut di pintu. Itu pasti suaminya. Hadi, begitu ia memperkenalkan diri waktu aku mampir membawakan es teh sore itu.
"Mas Galih, ini Hadi," kata Lestari. "Yang tadi bantuin angkat-angkat."
"Wah, makasih banyak, Mas," kata Hadi sambil menjabat tanganku erat. "Maaf ngerepotin."
"Santai aja."
Hadi orangnya ramah dan terbuka. Ia cerita, ia dipindah tugaskan ke Jakarta, kerja di sebuah perusahaan logistik. Lestari ikut, meninggalkan Bandung tempat mereka tinggal lima tahun.
Malam itu aku makan malam sendirian seperti biasa, tapi pikiranku melayang ke rumah seberang. Ke senyum Lestari. Ke caranya tertawa waktu kardus pecah tadi siang.
Minggu-minggu berikutnya, aku jadi kenal baik dengan pasangan itu. Hadi sering mengajakku ngopi di terasnya kalau sore. Lestari sering mengirimkan makanan lewat pagar. Rendang, sayur asem, kue lapis. Masakannya enak, jauh lebih enak dari masakan warteg langgananku.
Tapi ada satu hal yang cepat kusadari. Hadi jarang di rumah. Pekerjaannya menuntutnya dinas luar kota terus. Seminggu bisa empat hari di luar. Kadang seminggu penuh.
"Aduh, Mas Galih, maaf ya suamiku jarang ada," kata Lestari suatu sore waktu aku mampir. "Kerjanya gitu."
"Nggak apa-apa. Mbak nggak kesepian?"
"Kesepian sih. Tapi ya udah biasa." Ia tersenyum, tapi senyumnya tipis.
Sejak itu, Lestari sering memintaku tolong untuk hal-hal kecil. Lampu teras mati, aku yang ganti. Keran wastafel bocor, aku yang benerin. TV tidak dapat sinyal, aku yang naik ke atap menggeser antena.
Aku tidak keberatan. Malah senang. Ada kepuasan aneh bisa berguna untuk seseorang. Apalagi seseorang secantik Lestari.
Suatu malam sekitar jam sembilan, bel rumahku berbunyi. Aku membukakan pintu. Lestari berdiri di sana dengan wajah panik, masih pakai daster dan rambut diikat asal.
"Mas Galih, tolong! Ada tikus di dapur! Gede banget!"
Aku hampir tertawa, tapi wajahnya serius. "Ya udah, ayo."
Aku mengikutinya ke rumah sebelah. Dapur berantakan, panci-panci di lantai. Lestari menunjuk ke kolong meja dengan jari gemetar.
"Itu... itu di situ."
Aku jongkok dan mengintip. Seekor tikus got sebesar botol minum sedang menggerogoti bungkus mie instan. Aku mengambil sapu dan dengan sekali gebrak, tikus itu lari keluar lewat lubang di tembok belakang.
"Udah pergi," kataku.
Lestari menghela napas lega, lalu tiba-tiba tertawa. "Ya ampun, malu banget. Gara-gara tikus manggil tetangga."
"Nggak apa-apa. Tikus segede itu emang serem."
Ia membuatkanku teh manis sebagai ucapan terima kasih. Kami duduk di ruang tamu yang rapi. Foto pernikahan mereka terpajang di dinding. Lestari terlihat cantik sekali dalam balutan kebaya putih, Hadi gagah dengan jas hitam.
"Mas Galih nggak nikah-nikah kenapa?" tanya Lestari tiba-tiba.
Aku tersedak. "Lho, kok nanya gitu?"
"Kepo aja. Umur tiga puluh empat, mapan, ganteng. Kok betah sendiri?"
"Belum ketemu yang cocok."
"Atau terlalu pemilih?"
Aku tertawa. "Mungkin."
Kami ngobrol sampai hampir jam sebelas malam. Soal kerjaanku sebagai wiraswasta yang jualan sparepart motor online. Soal Bandung yang ia rindukan. Soal Hadi yang makin sibuk sejak pindah ke Jakarta.
"Kadang aku ngerasa kayak janda, Mas," katanya pelan, menatap cangkir tehnya. "Punya suami tapi nggak pernah ada."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Maaf, curhat," katanya cepat.
"Nggak apa-apa, Mbak."
"Lestari aja. Kita kan tetangga."
"Lestari."
Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk. Ada yang tumbuh di dadaku, dan aku tidak suka mengakuinya. Ia istri tetanggaku. Istri Hadi yang baik padaku.
Tapi aku juga laki-laki. Dan Lestari adalah perempuan yang kesepian.
Dua hari kemudian, Hadi berangkat dinas ke Semarang selama lima hari. Lestari mengantarkannya sampai pagar, melambaikan tangan sampai mobil hilang di tikungan. Aku melihat dari terasku.
Sore itu Lestari mengetuk pintu rumahku. Wajahnya murung.
"Mas Galih, temenin ngobrol dong. Sepi."
Aku tidak bisa menolak.
Kami duduk di terasku sampai magrib. Lalu ia mengajakku makan malam di rumahnya. Ia masak ayam goreng dan sambal terasi. Kami makan berdua di meja makan yang besar, yang seharusnya diisi empat orang.
"Mas," katanya di tengah makan. "Aku boleh nanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kalau kamu jadi aku, punya suami yang nggak pernah ada, kamu bakal gimana?"
Aku menatapnya. "Maksudnya?"
"Ya... apa aku salah kalau kadang pengen diperhatikan? Pengen ada yang nanya aku capek atau enggak?"
"Tidak salah," kataku pelan. "Kamu manusia."
Ia menatapku lama. Matanya berkaca-kaca.
Setelah makan, kami pindah ke ruang tamu. TV menyala tapi tidak ada yang menonton. Kami duduk di sofa yang sama, jarak di antara kami makin lama makin menyempit.
"Lestari," kataku.
"Iya?"
"Aku..."
Aku tidak menyelesaikan kalimatku. Karena ia sudah lebih dulu mendekat dan menciumku.
Ciuman itu lembut tapi penuh kerinduan. Seperti bendungan yang jebol. Bibirnya manis, ada rasa sambal terasi yang pedas. Tangannya mencengkeram kaosku.
Aku membalas ciumannya. Tanganku melingkar di pinggangnya. Tubuhnya yang selama ini cuma bisa kulihat dari jauh, sekarang ada dalam pelukanku. Hangat, wangi melati, dan gemetar.
Kami berciuman cukup lama di sofa itu. Dunia di luar tidak ada. Tidak ada Hadi di Semarang. Tidak ada tetangga yang mengintip. Hanya kami berdua dan malam yang sepi.
"Mas," bisiknya di sela ciuman. "Ke kamar."
Aku mengangguk. Ia menuntunku ke kamar tidur utama. Kamar yang seharusnya miliknya dan Hadi. Ranjang besar dengan sprei bermotif bunga. Foto pernikahan di meja samping tempat tidur.
Aku sempat ragu waktu melihat foto itu. Tapi Lestari memutar wajahku agar menatapnya.
"Jangan lihat dia. Lihat aku."
Aku menatapnya. Di matanya ada kesepian yang dalam, tapi ada juga keberanian yang baru.
Ia melepas dasternya sendiri. Perlahan. Di bawahnya ia hanya memakai pakaian dalam berwarna merah marun. Tubuhnya indah. Kulit putih mulus, lekuk yang sempurna, dada yang penuh.
Aku menelan ludah. "Kamu cantik banget."
"Jangan cuma diliatin," bisiknya.
Aku mendekat dan memeluknya. Kami berciuman lagi, lebih dalam, lebih lapar. Tanganku membuka pengait branya. Ia mendesah lega.
Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai di bantal. Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia melengkungkan punggungnya dan menjambak rambutku.
"Mas Galih," desahnya.
Aku terus turun. Perutnya yang rata, pusarnya, lalu lebih bawah lagi. Ia menggeliat dan mendesah makin keras. Tangannya mencengkeram sprei.
Waktu aku akhirnya naik ke atasnya dan masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, basah, sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang lambat. Saling merasakan. Setiap gerakan disambut erangan kecil darinya. Kakinya melingkar di pinggangku. Kukunya menancap di punggungku.
"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen banget disentuh."
Kalimat itu membuat dadaku sesak. Aku mencium keningnya sambil terus bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Bau melati bercampur bau tubuh.
Pelan-pelan kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak liar. Ranjang berderit.
"Jangan berhenti," pintanya. "Jangan pernah berhenti."
Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Kepalanya di dadaku. Jantung kami berdegup kencang, pelan-pelan melambat.
"Maaf," bisiknya.
"Untuk apa?"
"Hadi."
Aku mengecup ubun-ubunnya. "Kita berdua yang mau."
"Tapi dia suamiku. Dia baik."
"Aku tahu."
Ia menghela napas panjang. "Aku nggak nyesel, Mas. Cuma takut."
"Rahasia kita."
Malam itu aku pulang lewat jam dua belas. Lestari mengantarku sampai pintu, mencium pipiku sekilas, lalu menutup pintu dengan pelan.
Lima hari kemudian Hadi pulang dari Semarang. Ia membawakan oleh-oleh lumpia dan wingko. Ia mampir ke rumahku, bercerita soal perjalanannya dengan semangat.
"Lestari baik-baik aja kan, Mas?" tanyanya.
Aku mengangguk sambil menahan rasa bersalah yang menusuk dada. "Baik. Dia masak terus."
"Syukurlah. Makasih udah nemenin dia."
Aku hanya tersenyum kaku.
Sejak malam itu, pola baru terbentuk. Setiap kali Hadi dinas luar kota, yang hampir tiap minggu, Lestari mengetuk pintu rumahku. Atau aku yang mengetuk pintu rumahnya. Alasannya selalu sepele. Lampu mati. Keran bocor. Tikus.
Tapi kami berdua tahu, itu cuma alasan.
Yang sebenarnya adalah dua orang kesepian yang menemukan satu sama lain di seberang jalan.
Hadi tidak pernah tahu. Tetangga lain tidak pernah tahu.
Yang mereka tahu, aku tetangga yang baik. Yang selalu membantu.
Mereka tidak tahu, bantuan yang paling sering kuminta justru adalah alasan untuk mengetuk pintu rumah sebelah.
Dan setiap kali pintu itu terbuka, dan Lestari tersenyum dengan cara yang hanya aku yang mengerti, aku tahu.
Malam ini tidak akan sepi lagi.
