CERITA DEWASA

Guru Les Anak Tetangga

Namaku Hendra, tiga puluh tiga tahun, karyawan bagian logistik di sebuah perusahaan FMCG. Hidupku datar dan teratur. Berangkat jam tujuh pagi, pulang jam enam sore, makan, nonton TV, tidur. Begitu terus sampai aku mulai memperhatikan jadwal Selasa dan Kamis malam di rumah tetanggaku.

Tetanggaku Pak Tono, umur empat puluh lima, punya anak... maksudku, punya keponakan yang tinggal bersamanya. Namanya Rudi, tiga puluh tahun, karyawan bank yang sedang kejar promosi. Syarat promosinya harus lulus tes bahasa Inggris. Makanya setiap Selasa dan Kamis malam jam tujuh, ada guru les privat datang ke rumah Pak Tono.

Gurunya perempuan. Namanya Maya. Umur dua puluh delapan. Cantiknya bukan main.

Pertama kali aku melihat Maya, aku sedang menyapu halaman. Ia turun dari ojek online, menenteng tas ransel berisi buku-buku, memakai kemeja putih dan rok span selutut yang sopan tapi tetap memikat. Rambutnya panjang, diikat ekor kuda. Senyumnya ramah waktu berpapasan denganku.

"Malam, Mas," sapanya.

"Malam, Mbak," jawabku. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari seharusnya.

Sejak itu, setiap Selasa dan Kamis malam aku selalu menemukan alasan untuk ada di depan rumah jam tujuh kurang. Menyiram tanaman. Benerin lampu teras. Duduk-duduk nggak jelas. Apa saja, asal bisa lihat Maya lewat.

Pak Tono pernah cerita waktu kami ngobrol di pos ronda. "Guru lesnya Rudi itu pinter, Mas. Lulusan sastra Inggris. Bayarannya lumayan, tapi Rudi serius mau naik jabatan."

Aku mengangguk-angguk sambil dalam hati berpikir, aku juga mau les kalau gurunya kayak gitu.

Tiga minggu setelah pertama kali melihatnya, Selasa malam itu hujan rintik-rintik. Jam tujuh lewat sepuluh, aku duduk di teras sambil ngopi, menunggu seperti biasa. Tapi Maya tidak muncul-muncul. Jam tujuh lewat dua puluh, tetap tidak ada.

Aku hampir masuk ke dalam waktu melihat sosok berpayung berjalan dari ujung gang. Maya. Ia terlihat buru-buru, tapi juga seperti orang yang baru dapat kabar buruk.

Aku menyapanya dari teras. "Malam, Mbak Maya."

Ia menoleh, kaget. "Eh, malam, Mas. Mas Hendra, kan?"

"Iya. Kok telat? Biasanya jam tujuh udah masuk."

Ia menghela napas. "Lesnya batal. Rudi mendadak dinas luar kota. Baru ngabarin sepuluh menit lalu. Aku udah di jalan."

"Wah, sayang banget. Udah jauh-jauh datang."

"Iya nih. Mana ojek online susah hujan-hujan gini." Ia menatap HPnya. "Nunggu reda dulu deh."

Aku menunjuk warung kopi di seberang gang. "Mbak, daripada nunggu di pinggir jalan, ngopi dulu aja di sana. Aku juga mau ke sana."

Ia ragu sebentar, lalu mengangguk. "Boleh. Makasih, Mas."

Kami menyeberang ke warung kopi Pak Slamet. Warung tenda sederhana dengan bangku plastik, tapi kopinya enak dan murah. Kami duduk di sudut yang agak sepi. Hujan rintik masih turun di luar tenda.

"Kopi apa, Mbak?" tanyaku.

"Kopi susu. Nggak terlalu manis."

Aku memesan dua kopi susu. Sambil menunggu, kami ngobrol.

"Udah lama jadi guru les, Mbak?"

"Tiga tahun. Awalnya iseng bantuin teman, lama-lama malah jadi kerjaan tetap." Ia tersenyum. "Enaknya fleksibel. Nggak enaknya, ya gini. Murid batal, aku yang rugi waktu dan ongkos."

"Rudi serius nggak belajarnya?"

"Serius banget. Makanya aku heran dia batal mendadak. Biasanya dia yang paling disiplin." Ia menyeruput kopinya. "Mas Hendra kerja apa?"

"Logistik. Ngatur gudang dan pengiriman."

"Wah, tanggung jawab gede."

"Gede, tapi gajinya nggak segede tanggung jawabnya," candaku.

Ia tertawa. Tawanya renyah dan lepas. Aku suka cara ia tertawa, mata ikut menyipit.

Kami ngobrol hampir satu jam. Soal kerjaan, soal macetnya Jakarta, soal harga kos yang makin gila. Maya ternyata ngekos sendirian di daerah Cipinang, tidak jauh dari sini. Ia cerita, jadi guru les privat itu kadang sepi. Datang ke rumah orang, ngajar dua jam, pulang. Tidak punya teman kantor, tidak punya gosip pantry.

"Aku iri sama orang kantoran," katanya. "Punya teman ngobrol tiap hari."

"Tapi aku iri sama Mbak. Jam kerja bebas."

"Ya, ada plus minusnya."

Hujan reda jam sembilan. Ojek online akhirnya dapat. Sebelum pergi, ia tersenyum padaku.

"Makasih kopinya, Mas Hendra. Ngobrol sama kamu enak."

"Sama-sama. Hati-hati di jalan."

Malam itu aku senyum-senyum sendiri di kamar. Baru kali ini aku ngobrol lama sama Maya. Ternyata ia asyik, hangat, dan tidak jaim.

Kamis malam berikutnya, aku sengaja ke warung kopi Pak Slamet jam setengah tujuh. Alasanku ke diri sendiri: pengen ngopi. Alasan sebenarnya: siapa tahu Maya datang lebih awal.

Dan benar saja. Jam tujuh kurang sepuluh, Maya muncul. Ia kaget melihatku.

"Mas Hendra? Ngopi di sini juga?"

"Iya. Kopi di sini enak." Aku menunjuk kursi kosong. "Duduk."

Ia duduk. Kami ngobrol sampai jam tujuh, waktu ia harus masuk ke rumah Pak Tono untuk ngajar.

"Kapan-kapan ngopi lagi ya," katanya sebelum pergi.

"Kapan-kapan" itu ternyata jadi rutin. Setiap Selasa dan Kamis, kami ngopi bareng setengah jam sebelum les mulai. Kadang juga setelah les selesai, kalau ia tidak buru-buru pulang. Obrolan kami makin dalam. Soal keluarga, soal mimpi, soal takut.

Maya cerita, ia anak tunggal. Bapaknya sudah meninggal, ibunya di kampung. Ia merantau ke Jakarta lima tahun lalu dengan modal ijazah dan nekat. Pernah pacaran sama sesama guru les, tapi putus setahun lalu karena cowoknya nikah sama orang lain.

"Sejak itu aku males pacaran," katanya suatu malam. "Fokus kerja aja."

"Tapi sepi nggak?" tanyaku.

Ia menatapku lama. "Sepi banget, Mas."

Ada sesuatu di tatapannya malam itu. Sesuatu yang membuat dadaku sesak. Tapi les hampir mulai, ia pamit masuk ke rumah Pak Tono, dan aku pulang dengan pikiran campur aduk.

Minggu depannya, Selasa malam, hujan deras. Aku sudah di warung kopi duluan. Jam tujuh kurang lima, Maya belum datang. Aku mulai khawatir. Jam tujuh lewat, ia meneleponku. Kami sudah tukeran nomor minggu lalu, dengan alasan kalau les batal bisa kabarin.

"Mas, motorku mogok," katanya panik. "Di depan gang Cipinang. Hujan deres banget."

"Jangan panik. Share lokasi. Aku ke sana bawa jas hujan."

Aku naik motor menerobos hujan. Ketemu Maya di pinggir jalan, basah kuyup, motor matiknya tidak mau nyala. Aku coba starter berkali-kali, tetap mati. Busi kena air, dugaanku.

"Udah, tinggalin dulu motormu di sini. Titip ke tukang parkir. Kamu bonceng aku."

"Tapi les..."

"Telpon Rudi. Bilang batal karena hujan dan motor mogok. Dia pasti ngerti."

Maya menelepon. Rudi ternyata maklum, malah menyarankan les diganti hari lain. Kami bonceng berdua menembus hujan ke rumahku. Terasku cukup luas untuk berteduh.

Di teras, kami berdua basah kuyup dan tertawa. Lucu memang. Dua orang dewasa kehujanan seperti anak kecil.

"Masuk dulu. Ganti baju. Nanti masuk angin," kataku.

Ia ragu. "Aku nggak bawa baju ganti."

"Aku pinjemin kaos sama celana training. Longgar dikit, nggak apa-apa."

Ia masuk. Aku memberinya kaos oblong putihku dan celana training. Ia ganti di kamar mandi. Waktu keluar, kaosku kebesaran di tubuhnya, tapi justru terlihat menggemaskan. Rambutnya basah, wajahnya tanpa makeup, dan ia tetap cantik.

Aku membuatkan teh manis panas. Kami duduk di ruang tamu, menyeruput teh, mendengarkan hujan di luar.

"Maaf ngerepotin, Mas," katanya.

"Nggak ngerepotin. Santai aja."

Ia menatapku. "Mas Hendra baik banget. Dari pertama kenal, kamu selalu enak diajak ngobrol."

"Aku juga seneng ngobrol sama kamu."

Hening sejenak. Hanya suara hujan. Lalu ia berkata pelan, "Mas, aku boleh jujur?"

"Boleh."

"Aku nunggu-nunggu Selasa sama Kamis. Bukan karena lesnya. Tapi karena kopinya." Ia tersenyum tipis. "Kopi sama kamu."

Dadaku berdegup kencang. Aku meletakkan gelasku.

"Maya..."

"Aku tahu ini cepet. Kita baru kenal sebulan. Tapi aku udah lama nggak ngerasain deg-degan kayak gini." Ia menunduk. "Terakhir aku ngerasain ini... ya sama mantanku. Sebelum dia pergi."

Aku bergeser duduk, lebih dekat. Aku mengangkat dagunya pelan agar ia menatapku.

"Aku juga," kataku. "Tiap Selasa Kamis aku bela-belain ke warung kopi. Padahal di rumah ada kopi juga."

Ia tertawa kecil, lalu air matanya menetes. Bukan sedih. Tapi lega. Seperti bendungan yang akhirnya jebol.

Aku menghapus air matanya dengan ibu jariku. Lalu aku mendekat dan menciumnya. Pelan. Memberi kesempatan mundur.

Ia tidak mundur. Ia membalas. Bibirnya hangat, ada rasa teh manis. Tangannya meraih tengkukku.

Ciuman itu makin dalam. Napasnya memburu. Tanganku melingkar di pinggangnya. Kaos kebesaranku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku bisa merasakan tubuhnya yang ramping dan hangat.

"Mas," bisiknya di sela ciuman. "Aku mau. Tapi... di sini?"

"Di sini sepi. Nggak ada siapa-siapa."

Ia mengangguk. Aku menuntunnya ke kamarku. Sepanjang jalan ciuman kami tidak lepas.

Di kamar yang temaram, kami berdiri berhadapan. Hujan masih turun di luar jendela. Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dan di matanya tidak ada ragu lagi.

Aku melepas kaos pinjamanku dari tubuhnya. Perlahan. Di bawahnya ia masih memakai bra. Dadanya tidak besar tapi indah dan kencang.

"Kamu cantik," bisikku.

Ia tersipu, lalu mulai membuka kancing kemejaku. Tangannya gemetar sedikit, tapi mantap.

Kami saling menanggalkan pakaian dengan pelan. Tidak terburu-buru. Seperti kami punya seluruh malam. Waktu kami berdua telanjang, kami saling menatap cukup lama. Mengagumi. Menghafal.

Aku membaringkannya di ranjang. Spreiku yang biasa saja terasa mewah malam itu karena ada dia di atasnya. Rambutnya yang basah tergerai di bantal. Kulitnya mulus, berkilau sisa air hujan.

Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menjambak rambutku.

"Jangan berhenti," bisiknya.

Tanganku turun, menyusuri perutnya yang rata, menemukan tempat yang sudah basah dan siap. Ia mengangkat pinggulnya, mengundang.

Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, dalam, sempurna.

Kami bergerak pelan dulu. Saling merasakan. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus wajahku. Matanya tidak lepas dari mataku.

"Aku suka ini," bisiknya. "Suka banget."

Aku mencium keningnya sambil terus bergerak. Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang. Pinggulnya bergerak mengimbangi.

"Mas... aku mau..."

"Lepasin aja."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama. Hujan sudah reda di luar. Hanya napas kami yang masih memburu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang mulai kering.

"Gila ya," bisiknya. "Baru kenal sebulan."

"Sebulan yang intens."

Ia tertawa kecil. "Kamu nggak nyesel?"

"Nggak. Kamu?"

"Nggak juga. Malah... lega."

Kami berbaring sambil ngobrol sampai jam sebelas. Soal apa saja. Soal takut, soal harapan. Ia cerita, ia sempat berpikir tidak akan bisa percaya cowok lagi setelah mantannya. Tapi malam ini mengubah pikirannya.

"Aku nggak janji apa-apa, Mas," katanya. "Tapi aku mau coba. Sama kamu."

"Aku juga mau coba. Sama kamu."

Motornya diambil besok paginya. Ternyata cuma busi basah, kering sendiri setelah semalaman. Ia pulang ke kosnya dengan senyum yang tidak hilang-hilang.

Sejak malam itu, Selasa dan Kamis berubah artinya. Bukan cuma jadwal les Rudi. Tapi jadwal kami. Ngopi setengah jam sebelum les, seperti biasa. Tapi setelah les selesai, Maya tidak langsung pulang. Ia mampir ke rumahku. Kadang sejam, kadang sampai larut.

Pak Tono tidak tahu. Rudi tidak tahu. Tidak ada yang tahu.

Yang mereka tahu, Rudi makin lancar bahasa Inggrisnya. Tes promosinya tinggal dua bulan lagi.

Yang mereka tidak tahu, gurunya makin berseri-seri tiap Selasa dan Kamis. Dan tetangganya yang pendiam itu sekarang sering senyum-senyum sendiri di teras.

Rahasia kami sederhana. Segelas kopi susu di warung Pak Slamet. Lalu dunia milik berdua setelahnya.

Dan setiap kali hujan turun Selasa atau Kamis malam, aku berdoa motor Maya mogok lagi.

Biar ia kehujanan. Biar ia mampir. Biar ia tinggal.

bagikan