CERITA DEWASA

Mbak Laundry Langgananku

Namaku Bagas, tiga puluh tahun, karyawan swasta yang ngekos di daerah Tebet. Sebagai anak kos yang malas nyuci, laundry adalah penyelamat hidupku. Dan laundry langgananku, "Laundry Bersih Wangi", ada di ujung gang, lima menit jalan kaki dari kos.

Pemiliknya Mbak Sari. Umurnya tiga puluh dua, dua tahun lebih tua dariku. Badannya mungil tapi berisi, kulitnya putih bersih, rambutnya pendek sebahu dan sering diikat asal waktu kerja. Senyumnya manis, dan ia hafal semua pelanggannya. Termasuk aku.

"Mas Bagas, yang biasa Jumat ya?" katanya waktu pertama kali aku datang, delapan bulan lalu.

Sejak itu aku jadi pelanggan tetap. Setiap Jumat sore aku mengantar sekeranjang baju kotor, setiap Senin sore aku mengambilnya. Sudah wangi, sudah disetrika, sudah dilipat rapi. Kadang ada permen di dalam kantongnya. Perhatian kecil yang bikin betah.

Mbak Sari sudah menikah. Suaminya, Mas Eko, kerja sebagai satpam di sebuah gedung perkantoran, shift malam. Jadi setiap malam, Mbak Sari sendirian di laundry sampai tutup jam sembilan. Kadang dibantu adiknya, Dina, tapi Dina kuliah dan cuma bantu siang hari.

Aku sering ngobrol dengannya waktu mengantar atau mengambil cucian. Obrolan ringan soal kerjaan, soal harga deterjen yang naik, soal pelanggan yang rewel. Ia asyik diajak ngobrol, dan tawanya renyah.

Suatu Jumat sore aku datang mengantar cucian seperti biasa. Tapi hari itu ada yang beda. Wajah Mbak Sari terlihat lelah. Matanya sembap seperti kurang tidur.

"Mbak, sakit?" tanyaku.

"Nggak, Mas. Cuma kurang tidur. Mesin cuci yang gede rusak semalam, aku lembur nyuci manual sampai jam dua pagi."

"Ya ampun. Udah dibenerin?"

"Belum. Tukang servisnya baru bisa besok." Ia menghela napas. "Cucian numpuk, pelanggan nungguin. Pusing."

Aku menaruh keranjangku di meja. "Mesinnya kenapa?"

"Bocor. Airnya rembes dari bawah. Aku nggak ngerti mesin."

"Boleh aku lihat?"

Ia menatapku heran. "Mas bisa?"

"Dikit-dikit. Di kos aku sering benerin keran sama kipas angin."

Ia tertawa kecil, lalu mengangguk. "Ya udah, coba aja. Di belakang."

Aku mengikutinya ke ruang belakang. Ruangan itu penuh mesin cuci industri yang besar, rak-rak berisi cucian pelanggan, dan jemuran gantung. Mesin yang rusak ada di pojok, genangan air di bawahnya.

Aku jongkok dan memeriksa. Selang pembuangannya lepas dari dudukannya, itu saja masalahnya. Lima menit, selesai. Aku memasang kembali selangnya, mengencangkan klemnya, lalu menyalakan mesin untuk tes. Berjalan normal, tidak bocor.

"Udah beres," kataku sambil berdiri dan mengelap tangan.

Mbak Sari melongo. "Serius? Gitu doang?"

"Gitu doang. Selangnya lepas."

Ia tertawa lega, lalu tanpa aba-aba memelukku sekilas. "Makasih banyak, Mas Bagas! Kamu nyelametin aku."

Pelukan itu singkat, tapi cukup untuk membuatku sadar betapa wanginya dia. Wangi deterjen bercampur parfum melati. Dan tubuhnya yang mungil ternyata empuk.

"Eh, maaf," katanya sambil melepas pelukan, pipinya memerah.

"Nggak apa-apa," kataku cepat. Jantungku berdegup aneh.

Sejak hari itu, ada yang berubah. Mbak Sari jadi lebih perhatian padaku. Cucianku selalu jadi prioritas, selalu selesai duluan. Kadang ia menyelipkan nota bertuliskan "makasih ya :)" di kantong bajuku. Kadang ia menawariku teh atau kopi kalau aku mampir.

Rabu sore minggu berikutnya aku mampir dengan alasan kaos ketinggalan. Sebenarnya tidak ada kaos yang ketinggalan. Aku cuma pengen lihat dia.

"Wah, Mas Bagas rajin banget mampir," godanya sambil tersenyum. "Kangen laundry ya?"

"Kangen yang punya laundry," kataku spontan.

Ia tertegun, pipinya memerah. "Mas bisa aja."

Tapi ia tidak marah. Malah tawanya lebih renyah dari biasanya. Ia membuatkanku es teh manis dan kami ngobrol hampir satu jam di sela ia melayani pelanggan. Setiap ada pelanggan datang, ia pamit sebentar, lalu kembali duduk di sebelahku. Dina yang waktu itu sedang bantu-bantu sampai melirik kami dengan senyum menggoda.

"Mbak, Mas Bagas calon ya?" bisik Dina cukup keras sampai aku dengar.

"Dina! Jaga mulut," hardik Mbak Sari, tapi wajahnya merah padam.

Aku pulang hari itu dengan perasaan melayang. Ada sesuatu yang tumbuh di antara kami, pelan tapi pasti, seperti uap dari mesin cuci yang panas.

Aku juga jadi lebih sering mampir. Bukan cuma Jumat dan Senin, tapi kadang Rabu juga, dengan alasan yang dibuat-buat. "Mbak, kaosku ada yang ketinggalan nggak?" padahal aku tahu tidak ada.

Dua minggu setelah insiden mesin cuci, Senin malam aku datang mengambil cucian jam setengah sembilan, mepet tutup. Laundry sudah sepi. Lampu depan dimatikan sebagian. Mbak Sari sedang melipat cucian di meja kasir.

"Mas Bagas! Kirain nggak jadi ambil malam ini."

"Baru pulang kerja, Mbak. Lembur."

Ia menyerahkan kantong cucianku. "Nih. Udah wangi."

Aku membayar, tapi tidak langsung pulang. Entah kenapa kakiku berat melangkah.

"Mbak sendirian?" tanyaku.

"Iya. Dina udah pulang jam tujuh." Ia melirik jam dinding. "Mas Eko juga belum berangkat, masih di rumah. Shiftnya jam sepuluh."

Kami mengobrol. Awalnya soal kerjaanku yang lembur terus, lalu soal adiknya yang lagi skripsi, lalu entah bagaimana sampai ke soal rumah tangganya.

"Mas Eko shift malam terus ya?" tanyaku.

"Iya. Udah dua tahun. Ketemunya cuma pagi, itu pun aku sibuk buka laundry, dia tidur." Ia tersenyum, tapi senyumnya hambar. "Kadang seminggu nggak ngobrol beneran."

"Capek ya."

"Capeknya sih enggak. Sepinya yang capek." Ia menatapku. "Aneh nggak, Mas? Punya suami tapi ngerasa sendirian."

Aku menggeleng pelan. "Nggak aneh."

Ia bangkit dan mengunci pintu depan. "Udah jam sembilan. Tutup."

Klik. Suara kunci itu membuat ruangan jadi terasa lebih kecil, lebih intim. Hanya kami berdua, dikelilingi tumpukan cucian yang wangi.

Ia kembali duduk, tapi kali ini di kursi sebelahku, bukan di belakang meja kasir. Lutut kami hampir bersentuhan.

"Mas Bagas," katanya pelan. "Boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Aku suka ngobrol sama kamu. Tiap kamu mampir, hariku jadi lebih enak." Ia memainkan ujung bajunya. "Aku tahu ini salah diomongin. Tapi aku udah lama nggak ngerasa begini."

"Begini gimana?"

"Diperhatiin." Matanya berkaca-kaca. "Mas Eko baik, tapi dia nggak pernah nanya aku capek atau enggak. Kamu... kamu nanya."

Dadaku sesak. Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya. Tangannya halus tapi ada kapalan di ujung jari, tangan pekerja keras.

Ia tidak menarik tangannya. Malah menggenggam balik.

Kami duduk diam. Hanya suara mesin cuci yang masih berputar di belakang, ritmis dan menenangkan.

"Sari," kataku pelan, pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel Mbak.

Ia menoleh. Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu, memberi ruang untuk mundur.

Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Tangannya naik ke tengkukku. Ciuman itu makin dalam, makin lapar. Ada rasa teh manis di bibirnya.

Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping. Ia mungil, pas dalam pelukanku. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku. Wangi melatinya memenuhi hidungku.

Kami berdiri tanpa melepaskan ciuman. Ia menuntunku ke ruang belakang, ke sebuah ruangan kecil tempat ia istirahat. Ada sofa bed, kipas angin, dan dispenser. Pintu ditutupnya.

Di dalam ruangan yang sempit itu, kami saling menatap dengan napas memburu.

"Yakin?" tanyaku.

Ia mengangguk, lalu mulai membuka kancing dasternya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Daster itu melorot ke lantai, menyisakan ia dalam balutan bra dan celana dalam berwarna krem.

Tubuhnya indah. Mungil tapi proporsional. Kulitnya putih mulus. Dadanya penuh dan kencang.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat dan lembut. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Tanganku membuka pengait branya. Ia membiarkanku. Dadanya yang ranum menyambutku, putingnya sudah mengeras.

Aku membaringkannya di sofa bed. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai, pipinya memerah. Cantik sekali.

Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya menjambak rambutku, kakinya bergerak gelisah.

Waktu tanganku menyentuh tempat yang paling intim, ia sudah basah. Sangat basah. Ia mengangkat pinggulnya, tidak sabar.

Aku melepaskan pakaianku sendiri dengan cepat. Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar untukku, mengundangku masuk ke dunianya.

Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, sempurna. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan, saling menghafal.

Lalu kami bergerak. Pelan dulu, ritmis, mengikuti desah napas. Tangannya mengelus punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.

"Mas," bisiknya. "Jangan pelan-pelan."

Aku mempercepat gerakanku. Sofa bed berderit. Kipas angin berputar di atas kami. Di luar sana laundry yang sepi, di dalam sini dunia milik kami berdua.

Ia mendesah makin keras. Kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap tusukanku.

"Aku... aku mau..." katanya terputus-putus.

"Ya, sayang. Lepasin aja."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Gelombang kenikmatan itu menjalar ke tubuhku, dan beberapa detik kemudian aku meledak bersamanya dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah, dalam pelukan satu sama lain. Tangannya menggambar pola acak di dadaku.

"Maaf," bisiknya.

"Jangan minta maaf," kataku. "Aku yang mulai."

"Kita berdua yang mau." Ia tersenyum kecil. "Aku nggak nyesel."

Kami berpakaian kembali. Ia merapikan dasternya, aku merapikan kaosku. Tidak ada kecanggungan, hanya kehangatan yang aneh dan manis.

Sebelum aku pulang, ia menyelipkan sesuatu ke kantong celanaku. Permen, seperti biasa. Tapi kali ini ada catatan kecil.

"Jumat ya. Aku tunggu."

Sejak malam itu, Jumat jadi hari favoritku. Bukan cuma karena cucian wangi dan disetrika rapi. Tapi karena setelah laundry tutup, pintu dikunci, dan lampu dimatikan sebagian, ada dunia kecil milik kami berdua di ruang belakang.

Mas Eko tidak pernah tahu. Dina tidak pernah tahu. Para pelanggan tidak pernah tahu.

Yang mereka tahu, Laundry Bersih Wangi selalu wangi, selalu rapi, dan Mbak Sari selalu tersenyum.

Mereka tidak tahu, senyum itu sekarang ada alasannya.

Dan setiap Jumat sore, waktu aku mengantar keranjang cucian kotorku, Mbak Sari selalu menyambutku dengan kalimat yang sama.

"Mas Bagas, yang biasa Jumat ya?"

Aku selalu menjawab sama juga.

"Iya, Mbak. Yang biasa."

Padahal yang biasa itu sudah tidak biasa lagi. Tidak sama sekali.

bagikan