Namaku Yoga, umur dua puluh tujuh, kerja sebagai staf IT di perusahaan logistik. Dua minggu lalu aku pindah ke kost ini karena jaraknya cuma sepuluh menit dari kantor — naik motor santai, nggak perlu berdesakan di jalan raya jam tujuh pagi.
Kostnya tipe eksklusif, kata brosurnya. Kamar mandi dalam, AC, wifi kencang. Cuma satu yang nggak ditulis di brosur: dinding antar kamarnya tipis kayak triplek.
Malam pertama aku sudah sadar. Dari kamar sebelah kanan terdengar suara dengkuran. Dari kamar sebelah kiri — kamar nomor tujuh, kamarku nomor delapan — terdengar suara perempuan tertawa.
Tawa yang renyah. Tawa yang bikin penasaran.
Besoknya aku tanya ke penjaga kost, Pak Dedi. "Kamar tujuh itu siapa, Pak?"
"Oh, Mbak Sasa. Anaknya baik, ramah. Kerja di salon kecantikan, kadang pulangnya malam."
Mbak Sasa. Nama yang cocok sama tawanya.
Minggu pertama berjalan normal. Aku berangkat pagi, pulang malam, kadang berpapasan dengannya di lorong. Perempuan akhir dua puluhan, rambut panjang diwarnai cokelat, dandanannya rapi meski cuma pakai daster dan sandal jepit. Setiap ketemu ia selalu senyum dan menyapa duluan.
"Pagi, Mas Yoga."
"Pagi, Mbak Sasa."
Cuma itu. Singkat. Tapi senyumnya nempel di kepala sampai siang.
Masalahnya mulai malam Jumat minggu kedua.
Aku pulang lembur jam sebelas malam, mandi, rebahan sambil main HP. Lampu sudah kumatikan. Lalu dari dinding sebelah kiri terdengar suara.
Awalnya aku kira ia lagi teleponan. Suara perempuan, pelan, tertawa-tawa kecil. Lalu tawanya berhenti. Berganti desahan.
Aku langsung duduk. Kupingku kutempelkan ke dinding — dan aku langsung merasa bersalah sekaligus tidak bisa berhenti.
Suaranya jelas. Terlalu jelas untuk dinding setipis ini. Desahan, bisikan nama seseorang, bunyi ranjang berderit pelan.
Tanganku gemetar memegang HP. Aku bukan anak kecil — aku tahu persis apa yang sedang terjadi di kamar sebelah. Yang bikin dadaku sesak adalah kenyataan bahwa aku bisa mendengar semuanya, dan dia tidak tahu aku mendengar.
Atau... dia tahu?
Sepuluh menit kemudian semuanya sunyi. Aku berbaring menatap langit-langit kamar sampai jam dua pagi, tidak bisa tidur.
Besok paginya aku berangkat kerja dengan mata panda. Di lorong aku berpapasan dengan Mbak Sasa. Ia pakai kemeja putih dan rok hitam — seragam salonnya mungkin. Rambutnya masih basah.
"Pagi, Mas Yoga. Kok mukanya kuyu? Begadang ya?" katanya sambil tertawa.
Aku salah tingkah setengah mati. "Iya... eh, nggak... kerjaan, Mbak."
Ia menatapku sebentar, senyumnya melebar seperti tahu sesuatu. "Dinding sini tipis ya, Mas. Saya sampai hafal suara dengkuran kamar sembilan."
Jantungku berhenti sedetik. Dia tahu. Dia pasti tahu aku bisa mendengar.
"Maklum, kost murah," kataku asal, buru-buru pamit. "Saya berangkat dulu, Mbak."
Sepanjang hari di kantor aku tidak konsen. Bayangan suara tadi malam muter terus di kepala.
Malamnya aku pulang lebih awal, jam delapan. Sengaja. Aku mau tahu apakah tadi malam itu kebetulan atau rutinitas.
Jam sepuluh lewat, dari kamar tujuh terdengar suara TV. Jam sebelas, TV mati. Sunyi. Aku hampir kecewa — lalu sadar betapa berengseknya perasaanku itu.
Tepat tengah malam, suara itu datang lagi. Kali ini lebih lama. Lebih berani. Dan di sela-selanya aku mendengar ia menyebut sebuah nama — "Rian" — dengan suara bergetar.
Rian. Pacarnya, mungkin. Atau mantannya. Atau sekadar nama khayalan.
Aku tidak menempelkan kuping ke dinding kali ini. Tidak perlu. Suaranya menembus triplek itu dengan mudahnya, masuk ke kamarku, masuk ke kepalaku.
Pagi harinya aku memutuskan untuk tidak jadi pengecut. Kalau dindingnya setipis ini, cepat atau lambat akan jadi masalah. Lebih baik aku yang membuka omongan duluan, santai, seperti orang dewasa.
Sorenya aku beli dua bungkus pecel lele di depan gang. Satu untukku, satu untuk Mbak Sasa. Alasan: tetangga baru, basa-basi.
Aku mengetuk pintu kamar tujuh. Dibukakan. Ia pakai kaos oblong dan celana pendek, rambut diikat asal. Wajah tanpa makeup — dan ternyata tetap cantik.
"Mas Yoga? Tumben," katanya kaget.
"Ini, Mbak, pecel lele. Buat kenalan. Saya yang baru dua minggu di sini."
Ia tertawa, senang. "Wah, makasih! Masuk, Mas. Kebetulan saya belum makan."
Kamarnya mirip kamarku, tapi lebih rapi dan wangi. Ada boneka beruang di atas kasur, foto-foto ditempel di dinding — foto dia dengan teman-temannya, foto pantai.
Kami makan lesehan di lantai kamarnya. Ngobrol ngalor-ngidul. Ternyata ia umur dua puluh sembilan, sudah empat tahun kerja di salon, asalnya dari Semarang. Merantau sendirian ke sini.
"Pacarnya di mana, Mbak?" tanyaku — nekat, tapi penasaran setengah mati soal nama Rian itu.
Senyumnya sedikit pudar. "Sudah putus, Mas. Tiga bulan lalu. Rian itu... ya, mantan."
Jadi tadi malam... aku tidak berani menyimpulkan. Mungkin video call. Mungkin telepon. Bukan urusanku.
"Maaf, Mbak, kepo."
"Nggak apa-apa. Justru saya seneng ada yang ngajak ngobrol. Di kost ini saya paling akrab sama dinding," katanya sambil tertawa, lalu melirik ke arah dinding yang memisahkan kamar kami.
Aku ikut tertawa, tapi tengkukku panas.
"Mas Yoga denger ya?" tanyanya tiba-tiba, pelan.
Aku tercekat. "Denger apa?"
Ia menatapku lurus-lurus. Senyumnya tipis, bukan senyum mengejek — senyum orang yang sudah pasrah ketahuan.
"Dindingnya tipis, Mas. Saya tahu. Saya juga denger Mas kalau lagi... " ia menggoyangkan HP-nya, "nonton film sampai jam dua pagi."
Wajahku panas. Jadi dia juga mendengar aktivitasku. Impas.
Kami tertawa bersama, canggung tapi lega. Rahasia yang dibuka ternyata lebih ringan daripada disimpan.
"Mulai sekarang kita pura-pura budek aja ya, Mas," katanya.
"Deal, Mbak."
Malam itu aku pulang ke kamarku dengan perasaan aneh — lega, tapi juga ada yang mengganjal. Pintu yang tadinya tertutup rapat sekarang terbuka sedikit. Tinggal siapa yang berani mendorong.
Tiga malam kemudian, jam setengah dua belas, ada ketukan di pintu kamarku. Pelan, ragu-ragu.
Aku buka. Mbak Sasa berdiri di lorong dengan daster tidurnya, memeluk bantal.
"Mas, boleh numpang rebahan di sini sebentar? AC kamar saya mati, udah lapor Pak Dedi tapi katanya tukangnya baru bisa besok. Panas banget."
Jantungku berdegup sampai ke telinga. "Eh, iya, masuk aja, Mbak."
Ia masuk, menaruh bantalnya di sisi ranjangku yang kosong. Kamar kost ukurannya cuma tiga kali empat meter — ranjang single 120 cm. Kalau berdua, pasti bersentuhan.
"Maaf ya ngerepotin," katanya sambil berbaring miring menghadapku.
"Nggak apa-apa."
Lampu kamar kumatikan, tinggal lampu tidur kecil di sudut. Dalam temaram itu aku bisa melihat jelas wajahnya. Tidak ada makeup. Ada kantung mata tipis — tanda capek kerja seharian.
"Mas Yoga belum ngantuk?" bisiknya.
"Belum."
"Kita ngobrol aja ya. Saya nggak bisa tidur kalau panas."
Kami ngobrol pelan-pelan. Soal kerjaan, soal kampung halaman, soal kenapa dua orang dewasa yang merantau bisa merasa sepi di tengah kota yang ramai.
Lalu ia bertanya, dengan suara lebih pelan, "Mas, boleh saya tanya sesuatu yang agak pribadi?"
"Boleh."
"Tadi malam... Mas denger saya?"
Aku menelan ludah. "Iya."
Ia diam sebentar. "Saya malu sebenarnya. Tapi di sisi lain... saya juga tahu Mas dengerin. Dan Mas nggak pernah protes, nggak pernah ketok dinding."
"Ngapain protes? Saya juga manusia, Mbak."
Ia tertawa kecil. "Sejak putus sama Rian, saya... ya gitu. Kadang kangen. Kadang cuma butuh ngerasa ada yang... " ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Ada yang apa?"
Ia menatapku. Jarak wajah kami tidak sampai sejengkal. Napasnya hangat menyentuh pipiku.
"Ada yang peduli," bisiknya. "Walaupun cuma lewat dinding tipis."
Tangannya bergerak, menyentuh tanganku yang tergeletak di antara kami. Jari-jarinya dingin.
Aku tidak menarik tanganku. Ia menggenggamnya.
"Mas nggak keberatan kan saya di sini?" tanyanya.
"Justru saya seneng, Mbak."
Ia bergeser lebih dekat. Sekarang bahunya menempel di bahuku. Aroma sampo dari rambutnya memenuhi hidungku — wangi melati, sama seperti kamarnya.
"Mbak Sasa," kataku pelan, "kalau saya bilang saya juga sering kepikiran soal Mbak, Mbak marah nggak?"
Ia tersenyum dalam gelap. "Kepikiran yang gimana?"
"Yang... nggak sopan."
"Tunjukkan," bisiknya.
Dua kata itu meledakkan semua rem yang kutahan dua minggu terakhir.
Aku berbalik menghadapnya dan menciumnya. Bibirnya lembut dan hangat, sedikit gemetar. Awalnya ia kaku — lalu luluh, membalas ciumanku dengan intensitas yang membuatku terkejut. Tangannya melingkar di leherku, menarikku lebih dekat.
Daster tipisnya bukan halangan. Aku bisa merasakan tubuhnya yang lentur menempel padaku, dadanya yang penuh menekan dadaku. Tanganku menjelajah punggungnya, turun ke pinggang, berhenti ragu di batas celana pendeknya.
Ia mengambil tanganku dan menuntunnya sendiri. "Nggak usah ragu, Mas."
Izin itu — diucapkan dengan suara bergetar tapi tegas — menghapus sisa keraguanku.
Kami bercinta malam itu di ranjang kost yang sempit, dengan dinding triplek tipis yang dulu memisahkan kami. Ironisnya, justru dinding itulah yang mempertemukan kami. Setiap desahannya kali ini bukan lagi suara samar dari kamar sebelah — tapi nyata, di telingaku, di pelukanku.
Ia menggigit bibir bawahku saat mencapai puncaknya, menahan suaranya agar tidak terdengar sampai kamar sembilan. Aku menciumi lehernya yang berkeringat, membisikkan namanya.
Setelahnya kami berbaring berdempetan, berbagi bantal, berbagi selimut yang kekecilan.
"AC-nya beneran mati?" tanyaku iseng.
Ia mencubit pinggangku. "Beneran! Cuma... ya, saya juga kangen ada temennya."
"Besok lapor Pak Dedi lagi?"
"Nggak usah. Besok saya tidur sini lagi aja," katanya sambil menyembunyikan wajah di dadaku.
Aku tertawa dan mengecup ubun-ubunnya.
Sejak malam itu, kamar tujuh dan kamar delapan praktis jadi satu. Siang hari kami tetangga biasa yang saling sapa di lorong. Tapi ada kode rahasia di antara kami sekarang: kalau pintu kamarnya diketuk tiga kali pelan, artinya ia mau mampir. Kalau aku mengetuk dua kali, artinya aku yang kangen.
Pak Dedi sampai heran kenapa AC kamar tujuh tidak pernah jadi dibetulkan. "Udah nggak panas lagi, Pak," kata Mbak Sasa enteng setiap ditanya, sambil melirikku dan menahan tawa.
Malam hari, dinding triplek itu tidak lagi jadi penghalang — malah jadi saksi.
Dan setiap kali dari kamar sebelah terdengar suara, aku tidak perlu lagi menempelkan kuping ke dinding. Karena sumbernya sudah ada di pelukanku.