Krrek. Krrek. Krrek. Suara starter motor yang gagal menyala berulang-ulang memecah keheningan gang jam setengah sebelas malam. Diikuti bunyi lampu sein yang berkedip tanpa henti, tik tik tik, seperti jantung yang berdebar panik.
Aku yang baru pulang dari bengkel menghentikan motorku. Di ujung gang yang gelap, seorang perempuan berdiri di samping motor maticnya yang mogok. Ia menekan starter berkali-kali dengan wajah putus asa. Lampu jalan di gang itu mati, hanya cahaya dari lampu HP yang ia jepit di bahu menerangi tangannya yang mungil.
Aku memarkir motorku dan menghampiri.
"Mbak, motornya kenapa?" tanyaku.
Ia menoleh, kaget. Di bawah cahaya remang, aku bisa melihat wajahnya. Cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang diikat ke belakang, umurnya mungkin akhir dua puluhan. Ia memakai jaket jeans dan celana panjang, tas selempang masih melingkar di badannya.
"Mogok, Mas. Tadi masih nyala, terus tiba-tiba mati di sini," katanya dengan suara sedikit bergetar. "Udah saya starter berkali-kali nggak mau."
"Boleh saya lihat?"
Ia mengangguk dan minggir. Aku jongkok di samping motornya. Namaku Riko, tiga puluh tiga tahun, montir di sebuah bengkel resmi di daerah Ciledug. Motor mogok adalah makanan sehari-hariku.
Aku memeriksa sekilas. Bensin masih ada. Aki sepertinya lemah, tapi yang paling mencurigakan adalah bunyi fuel pump yang tidak terdengar waktu kunci kontak diputar.
"Mbak, terakhir servis kapan?"
"Sebulan lalu kayaknya."
Aku membuka jok dan memeriksa sekring. Benar saja, sekring fuel pump putus. Untungnya aku selalu bawa sekring cadangan di dompet. Lima menit kemudian motornya menyala kembali dengan suara halus.
"Alhamdulillah," serunya lega. "Makasih banyak, Mas. Kalau nggak ada Mas, saya nggak tahu harus gimana. Gang ini sepi banget malam-malam."
"Santai, Mbak. Saya juga montir, udah biasa."
"Montir? Wah, pas banget." Ia tersenyum, dan senyum itu membuat dadaku aneh. "Nama saya Dara."
"Riko."
Kami berkenalan singkat di gang yang gelap itu. Ternyata Dara tinggal di gang sebelah, dua gang dari kosku. Ia baru pulang dari rumah temannya. Motornya memang sudah beberapa hari rewel, tapi ia belum sempat ke bengkel.
"Mas Riko, sebagai terima kasih, mampir dulu ke rumah saya. Saya buatin teh," katanya.
Aku melirik jam. Sudah hampir jam sebelas. Tapi menolak tawaran perempuan cantik yang baru kutolong rasanya tidak sopan. Aku mengikutinya ke gang sebelah.
Rumahnya kontrakan petak, tidak besar tapi rapi. Pagarnya rendah, halamannya ada pot-pot berisi tanaman cabai dan tomat. Ia membukakan pintu dan menyalakan lampu teras.
"Masuk, Mas."
Ruang tamunya sederhana. Sofa kain, TV kecil, foto-foto di dinding. Yang menarik perhatianku adalah sebuah foto pernikahan di rak. Dara dengan gaun putih, di samping seorang laki-laki.
"Itu..." aku menunjuk foto itu tanpa sadar.
Dara yang sedang membuat teh di dapur menoleh. "Mantan suami," katanya datar. "Udah cerai dua tahun lalu."
"Oh. Maaf."
"Nggak apa-apa." Ia keluar membawa dua gelas teh manis hangat. "Udah lama, udah ikhlas."
Kami duduk berhadapan. Dara bercerita, umurnya dua puluh sembilan, janda tanpa anak. Mantan suaminya selingkuh dengan rekan kerjanya, ketahuan, cerai. Sejak itu ia tinggal sendirian di kontrakan ini, kerja sebagai admin di sebuah perusahaan ekspedisi.
"Saya salut, Mbak berani tinggal sendirian," kataku.
"Awalnya takut. Lama-lama biasa. Lagian tetangga sini baik-baik." Ia menyeruput tehnya. "Cuma ya gitu, kalau ada apa-apa kayak motor mogok tadi, bingung sendiri."
"Kalau motor rewel lagi, panggil saya aja. Saya di gang sebelah, kos nomor tujuh."
"Beneran? Nggak ngerepotin?"
"Nggak. Sesama tetangga."
Ia tersenyum lagi. Senyum yang manis, tapi ada sepi di matanya. Sepi yang kukenali, karena aku juga merasakannya. Hidup sendirian di kos, pulang malam, makan sendirian. Sepi itu universal.
Malam itu aku pulang jam setengah dua belas dengan perasaan aneh. Senang, tapi juga gelisah. Ada sesuatu tentang Dara yang menempel di pikiranku.
Tiga hari kemudian, HPku berdering. Nomor tidak dikenal.
"Halo, Mas Riko? Ini Dara."
"Oh, Mbak Dara. Gimana?"
"Motor saya bunyi aneh lagi. Kretek-kretek gitu. Mas bisa lihat?"
Aku datang sore itu sepulang kerja. Ternyata cuma CVT-nya kotor, perlu dibersihkan. Setengah jam selesai. Dara memaksaku mampir minum es teh.
"Makasih ya, Mas. Saya nggak ngerti motor sama sekali."
"Makanya punya kenalan montir," kataku bercanda.
Sejak itu, Dara jadi sering menghubungiku. Kadang soal motor, kadang soal hal lain. Keran wastafel bocor, aku yang benerin. Lampu teras mati, aku yang ganti. Colokan listrik konslet, aku yang periksa.
Aku tidak keberatan. Malah senang. Ada kepuasan tersendiri bisa membantu, apalagi yang dibantu perempuan cantik yang selalu menyambutku dengan senyum dan teh manis.
Suatu Sabtu sore, Dara menelepon dengan suara panik.
"Mas Riko, tolong! Ada tikus di dapur! Gede banget!"
Aku tertawa sambil mengambil kunci motor. "Saya ke sana sekarang."
Sampai di sana, Dara sudah berdiri di atas kursi ruang tamu, wajahnya pucat.
"Itu, di dapur! Tadi lewat!" katanya sambil menunjuk.
Aku masuk dapur dengan sapu. Setelah lima menit mengobrak-abrik kolong meja dan belakang kulkas, aku menemukan pelakunya. Seekor tikus got sebesar botol aqua. Aku mengusirnya keluar lewat pintu belakang dengan sapu.
"Aman," kataku sambil kembali ke ruang tamu.
Dara turun dari kursi dengan napas lega. "Makasih, Mas. Kamu pahlawanku."
Ia memelukku sekilas. Pelukan singkat, tapi cukup untuk membuatku sadar betapa wanginya dia. Wangi sabun mandi bercampur parfum lembut. Tubuhnya ramping dan hangat.
"Eh, maaf," katanya sambil melepas pelukan, pipinya memerah.
"Nggak apa-apa," kataku cepat. Jantungku berdegup kencang.
Malam itu ia memaksaku tinggal untuk makan malam. Ia masak ayam goreng dan sayur asem. Kami makan berdua di meja kecil dapurnya, seperti suami istri. Pikiran itu membuatku tersenyum sendiri.
"Mas Riko kok senyum-senyum?" tanya Dara.
"Nggak apa-apa. Enak masakannya."
"Bohong. Pasti mikir yang aneh-aneh."
Kami tertawa. Suasana jadi hangat dan cair. Setelah makan, kami pindah ke teras. Malam itu langit cerah, bintang bertaburan. Dara duduk di kursi rotan, aku di kursi sebelahnya.
"Mas Riko nggak kepikiran nikah?" tanya Dara tiba-tiba.
Aku terkejut. "Kok nanya gitu?"
"Kepo aja. Umur tiga puluh tiga, mapan, baik. Kok masih sendiri?"
"Belum ketemu yang cocok."
"Atau terlalu pemilih?"
Aku tertawa. "Mungkin."
"Kalau saya?" tanyanya pelan. "Janda umur dua puluh sembilan, nggak punya apa-apa. Masih laku nggak?"
Aku menatapnya. Di bawah cahaya lampu teras, wajahnya terlihat cantik dan rapuh. Ada keberanian dan ketakutan bercampur di matanya.
"Dara," kataku pelan. "Kamu cantik. Siapa pun beruntung dapat kamu."
Ia menatapku lama. Lalu ia bergeser, duduk lebih dekat. Tangannya terulur dan menggenggam tanganku yang ada di armrest kursi.
"Riko," bisiknya. "Aku capek sendirian."
Dadaku sesak. Aku membalik tanganku dan menggenggam tangannya erat.
"Aku juga," kataku jujur.
Kami duduk diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan sesekali motor lewat di jalan depan. Tangannya hangat di genggamanku.
Lalu Dara berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Pintu ditutupnya. Lampu ruang tamu dimatikannya, hanya menyisakan lampu kecil di sudut.
Kami berdiri berhadapan dalam temaram. Aku bisa mencium wangi tubuhnya. Daster rumahan yang ia kenakan sederhana, tapi di tubuhnya terlihat memikat.
"Dara," bisikku. "Yakin?"
Ia mengangguk, lalu memejamkan mata. Aku mendekat dan mencium bibirnya dengan lembut. Awalnya ragu, tapi kemudian ia membalas dengan lapar. Seperti orang yang kehausan menemukan air setelah lama berjalan di gurun.
Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping. Tubuhnya merapat padaku. Daster tipisnya bukan penghalang apa-apa. Aku bisa merasakan setiap lekuknya.
Ciuman kami makin dalam. Lidahnya bermain dengan lidahku. Tangannya meremas kaosku, lalu menyusup ke dalamnya, menyentuh punggungku dengan jari-jari yang gemetar tapi bersemangat.
"Ke kamar," bisiknya di sela ciuman.
Kamarmnya kecil tapi rapi. Sprei bermotif bunga, bantal-bantal disusun rapi, boneka beruang di sudut. Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai di bantal.
Aku berlutut di tepi ranjang dan menciumi kakinya, naik perlahan ke betis, ke paha. Ia menggeliat dan mendesah pelan.
"Riko..."
Tanganku menyingkap dasternya. Ia memakai pakaian dalam berwarna biru muda. Sederhana, tapi di tubuhnya terlihat seksi.
Aku melepas dasternya perlahan. Lalu pakaian dalamnya, satu per satu. Ia tidak menutupi dirinya. Malah menatapku dengan berani, meski pipinya memerah.
Tubuhnya indah. Ramping, kulit putih mulus, dadanya tidak besar tapi kencang dan ranum. Perutnya rata. Kakinya jenjang.
"Cantik," bisikku.
Ia tersenyum malu, lalu menarikku ke atasnya. Aku menanggalkan pakaianku sendiri dengan cepat. Kulit bertemu kulit. Hangat.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah keras waktu mulutku menemukan putingnya. Tangannya menjambak rambutku.
Tanganku turun, menyusuri perutnya, menemukan tempat yang sudah basah dan siap. Ia mengangkat pinggulnya, mengundang.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar-lebar untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang lambat dulu. Saling merasakan. Setiap tusukan disambut erangan kecil darinya. Kukunya mencakar punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.
"Lebih cepat," pintanya dengan suara serak.
Aku mempercepat gerakanku. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Keringat bercampur. Di luar sana gang yang sepi, di dalam sini dunia milik kami berdua.
Ia mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku.
Melihat dan merasakannya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang masih memburu. Kepalanya bersandar di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Aku yang mulai. Aku yang ngajak masuk."
"Jangan minta maaf," kataku. "Aku juga mau. Dari malam pertama ketemu di gang itu, aku udah mikirin kamu."
Ia mengangkat wajahnya menatapku. "Serius?"
"Serius."
Ia tersenyum, senyum yang paling lepas yang pernah kulihat darinya. Tidak ada lagi sepi di matanya.
Malam itu aku pulang jam dua pagi. Dara mengantarku sampai pagar, mencium pipiku sekilas.
"Hati-hati di jalan," bisiknya.
Sejak malam itu, hidupku berubah. Bukan cuma soal motor mogok atau keran bocor lagi. Setiap malam sepulang bengkel, aku mampir ke gang sebelah. Kadang cuma minum teh dan ngobrol. Kadang lebih dari itu.
Dara juga berubah. Ia lebih ceria. Tetangga-tetangganya sampai bertanya, kenapa ia sekarang sering senyum-senyum sendiri.
Satu bulan kemudian, Dara menyerahkan kunci duplikat rumahnya padaku.
"Biar kalau saya butuh tolong, Mas Riko bisa langsung masuk," katanya. Tapi kami berdua tahu itu bukan alasan sebenarnya.
Aku menerima kunci itu dengan tangan bergetar. Bukan cuma kunci rumah. Itu kepercayaan. Itu undangan untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Malam itu kami merayakannya dengan cara kami sendiri. Di kamar yang kecil itu, di atas ranjang bermotif bunga, kami bercinta dengan lambat dan dalam. Tidak terburu-buru. Seperti kami punya seluruh waktu di dunia.
Setelahnya kami berbaring berdampingan, menatap langit-langit yang gelap.
"Riko," bisik Dara.
"Ya?"
"Jangan bosen ya."
Aku mengecup keningnya. "Nggak akan."
Dan aku bersungguh-sungguh. Perempuan yang kutemui di gang gelap karena motor mogok itu, yang suaranya bergetar waktu minta tolong, sekarang adalah rumahku.
Bukan kos nomor tujuh di gang sebelah. Tapi dia. Dara.
