Lampu sorot berputar-putar di langit-langit hall pameran, memantul di kap mobil yang mengilap seperti cermin. Musik DJ berdentum dari panggung utama, bercampur riuh ribuan pengunjung yang berdesakan di antara booth. Aroma kopi dari food court menyusup di sela bau karpet baru dan parfum promosi yang disemprotkan tiap jam. Rizal melangkah masuk sambil mengibas-ngibaskan tiket di tangannya, matanya menyapu deretan booth otomotif yang berderet sejauh mata memandang.
Rizal, 31 tahun, wiraswasta di bidang sparepart kendaraan, datang bukan sekadar cuci mata. Ia mencari relasi, distributor baru, siapa tahu ada peluang bisnis. Tapi jujur saja, ia juga menikmati suasana pameran: mobil-mobil keren, musik keras, dan tentu saja para SPG yang berdiri anggun di setiap booth dengan senyum profesional mereka.
Booth mobil listrik di ujung hall menarik perhatiannya. Bukan cuma karena mobilnya, tapi karena SPG yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu mengenakan blazer merah marun dan rok span hitam, rambutnya disanggul rapi, senyumnya ramah tanpa dibuat-buat. Saat Rizal mendekat, ia langsung menyapa dengan suara jernih yang mengalahkan bising sekitar.
"Selamat siang, Pak. Mau saya jelaskan tentang unit terbaru kami?" sapanya.
Rizal tersenyum. "Boleh. Tapi panggil saya Rizal saja, Mbak."
"Baik, Mas Rizal. Saya Tiara," jawabnya sambil mengulurkan brosur. "Ini mobil listrik keluaran terbaru, jarak tempuh 500 kilometer sekali cas, dan harganya bersaing dengan mobil bensin sekelasnya."
Tiara menjelaskan dengan lancar, penuh percaya diri. Ia tidak sekadar menghafal brosur, ia benar-benar paham. Saat Rizal bertanya soal torsi dan garansi baterai, ia menjawab tanpa ragu, bahkan menambahkan perbandingan dengan kompetitor. Rizal yang paham otomotif jadi betah bertanya. Obrolan mereka mengalir, diselingi tawa kecil saat Rizal bercanda soal tagihan listrik yang membengkak.
"Mas Rizal ini kayaknya paham mobil ya, pertanyaannya detail semua," kata Tiara sambil tersenyum.
"Saya main di sparepart, Mbak Tiara. Jadi lumayan ngerti dikit-dikit," jawab Rizal.
Pameran hari itu ramai sekali. Tiara harus bolak-balik melayani pengunjung lain, tapi setiap ada jeda ia kembali menghampiri Rizal. Sebelum pulang, Rizal sempat bertanya, "Mbak Tiara di sini sampai kapan?"
"Pameran lima hari, Mas. Hari ini hari ketiga. Besok dan lusa masih ada," jawabnya.
Rizal mengangguk sambil menyimpan brosur ke tasnya. Di perjalanan pulang, entah kenapa wajah Tiara terus terbayang. Bukan cuma cantik, tapi cara bicaranya yang cerdas membuatnya penasaran.
Keesokan harinya, Rizal kembali ke pameran. Ia bilang ke dirinya sendiri ini untuk urusan bisnis, tapi langkah kakinya langsung menuju booth mobil listrik. Tiara sedang menjelaskan ke sepasang suami istri. Begitu melihat Rizal, ia tersenyum dan melambaikan tangan sekilas, isyarat menyuruh menunggu.
"Lho, Mas Rizal datang lagi," sapa Tiara setelah pengunjung itu pergi. "Kemarin belum puas ya?"
"Kemarin pulang kepikiran terus," goda Rizal. "Kepikiran mobilnya, maksudnya."
Tiara tertawa. "Ya ampun, gombal banget. Tapi makasih, berarti penjelasan saya kemarin nempel."
Hari keempat pameran sedikit lebih sepi. Mereka bisa ngobrol lebih lama. Rizal bertanya sudah berapa lama Tiara jadi SPG.
"Lima tahun, Mas," jawab Tiara. "Mulai dari pameran elektronik, properti, sekarang otomotif. Keliling kota terus, kadang luar pulau."
"Capek dong?"
"Capek banget. Tapi bayarannya lumayan, dan saya memang suka ketemu orang," kata Tiara. Ia menyebut umurnya, 26 tahun, dan mengaku belum kepikiran menikah karena pekerjaannya yang nomaden. "Pacar saja susah, Mas. Masa pacaran lewat video call terus."
Rizal tertawa, tapi ia menangkap nada lelah di balik candaan itu. Tiara memang profesional, senyumnya tidak pernah luntur di depan pengunjung, tapi di sela-sela itu Rizal melihat ia beberapa kali menghela napas dan memijat tengkuknya sendiri.
Hari kelima, hari terakhir pameran, Rizal datang lagi. Kali ini hall terasa lengang. Banyak pengunjung sudah datang di hari-hari sebelumnya, dan sore itu booth-booth mulai bersiap berkemas. Tiara berdiri di booth yang setengah kosong, brosur-brosur sudah dibereskan.
"Mas Rizal," sapa Tiara dengan wajah berseri. "Datang di hari terakhir. Mau beli mobilnya beneran nih?"
"Kalau yang jual Mbak Tiara, saya pertimbangkan serius," jawab Rizal sambil tertawa.
Karena sepi, Tiara mengajak Rizal duduk di area lounge kecil di belakang booth. Ada dua kursi lipat dan meja dengan dispenser kopi. Tiara menyeduh dua gelas kopi sachet.
"Maaf ya cuma kopi sachet, Mas. Fasilitas belakang booth memang gini," katanya.
"Justru enak, berasa ngobrol santai," jawab Rizal.
Mereka ngobrol lama. Tanpa hiruk pikuk pengunjung, Tiara terlihat lebih rileks, lebih jadi dirinya sendiri. Ia bercerita soal jadwalnya yang padat: minggu depan pameran di kota lain, lalu dua minggu kemudian di luar pulau. Tidur di hotel budget, makan seadanya, rindu rumah tapi tidak bisa pulang.
"Kadang saya mikir, sampai kapan kayak gini terus," kata Tiara pelan, menatap gelas kopinya. "Umur 26, kerjaan keliling terus, tabungan ada tapi hidup berasa numpang lewat."
Rizal mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia tidak menggombal, tidak memotong. Ia hanya bertanya pelan, "Mbak Tiara pengennya gimana?"
Tiara menatapnya, sedikit kaget dengan pertanyaan itu. "Pengen punya rutinitas normal. Bangun di kasur sendiri, kerja di satu tempat, pulang ke rumah yang sama. Sederhana, tapi kayaknya mewah buat saya."
Ada keheningan hangat di antara mereka. Di luar, suara MC mengumumkan pameran akan segera ditutup. Tiara tersenyum tipis. "Eh, maaf ya Mas, jadi curhat."
"Gak apa-apa. Saya seneng dengerin," kata Rizal tulus. Lalu ia memberanikan diri, "Mbak Tiara udah makan malam? Pameran tutup jam sembilan, habis ini saya traktir makan. Sebagai terima kasih udah dijelasin mobil tiga hari."
Tiara tertawa. "Tiga hari dijelasin tapi belum beli juga."
"Makanya traktiran dulu, siapa tahu habis makan saya jadi beli," goda Rizal.
Tiara pura-pura berpikir, lalu mengangguk. "Boleh. Tapi yang dekat-dekat sini aja ya, saya capek banget."
Mereka makan di restoran Sunda tidak jauh dari venue. Tiara memesan ayam goreng dan lalapan, makannya lahap. Rizal senang melihatnya begitu, jauh dari citra SPG anggun yang jaim. Di sela makan, mereka bertukar cerita. Rizal bercerita soal usahanya yang dirintis dari nol, soal gudang kecilnya yang sekarang mempekerjakan empat orang. Tiara bercerita soal keluarganya di kampung, soal adiknya yang kuliah berkat uang hasil ia jadi SPG.
"Hebat, Mbak," kata Rizal kagum. "Adiknya pasti bangga."
"Semoga," jawab Tiara sambil tersenyum malu.
Selesai makan, Rizal menawarkan mengantar Tiara pulang. Tiara tinggal di apartemen sewa tidak jauh dari situ, satu unit kecil yang ia sewa bulanan selama di kota ini. Di perjalanan, Tiara bersandar di kursi mobil, matanya sayu.
"Mas Rizal baik ya," gumamnya setengah mengantuk. "Udah tiga hari nemenin saya ngobrol."
"Besok pameran udah selesai, Mbak Tiara langsung ke kota lain kan?" tanya Rizal.
"Iya. Pagi-pagi tim udah packing," jawab Tiara. "Kayaknya ini terakhir kita ketemu."
Kalimat itu menggantung di udara. Rizal melirik Tiara yang kini menatapnya. Ada sesuatu di tatapan itu, bukan sekadar terima kasih. Rizal memarkir mobil di basement apartemen, dan Tiara tidak langsung turun.
"Mas, mau mampir sebentar? Saya bikinin teh anget. Sekalian pamit," kata Tiara pelan.
Rizal mengangguk. Unit apartemen Tiara kecil tapi rapi. Koper besar sudah tergeletak di sudut, siap dibawa besok. Tiara menyeduh teh di dapur mungilnya, lalu mereka duduk di sofa berdua. TV menyala tanpa suara, hanya jadi latar.
"Mas Rizal," kata Tiara tiba-tiba, menatapnya lekat. "Boleh saya jujur?"
"Boleh."
"Tiga hari ini tuh hari-hari paling enak saya selama pameran. Ada yang dengerin, ada yang nanya kabar beneran, bukan basa-basi pengunjung," kata Tiara. Tangannya meremas gelas tehnya. "Saya tahu besok saya pergi dan mungkin kita gak ketemu lagi. Tapi malam ini, saya gak pengen sendirian."
Rizal merasakan jantungnya berdebar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh tangan Tiara dengan lembut. "Saya juga gak pengen Mbak Tiara sendirian malam ini."
Tiara menatap tangan mereka yang bertaut, lalu menatap Rizal. Perlahan ia mendekat, dan Rizal menyambutnya. Ciuman pertama mereka lembut, ragu-ragu, lalu semakin dalam saat Tiara melingkarkan tangannya di leher Rizal. Tidak ada paksaan, tidak ada terburu-buru. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama menginginkan.
Rizal membelai pipi Tiara, memastikannya nyaman. "Kalau Mbak Tiara gak mau, kita berhenti di sini. Saya gak apa-apa," bisiknya.
Tiara menggeleng sambil tersenyum. "Saya mau, Mas. Saya yang ngajak mampir, ingat?"
Malam itu berjalan dengan penuh kelembutan. Rizal memperlakukan Tiara dengan hati-hati, seolah ia barang berharga yang rapuh. Tiara yang seharian tampil sempurna di depan publik, malam itu membiarkan dirinya rapuh dan jujur. Setiap sentuhan Rizal membuatnya mendesah pelan, setiap ciumannya membuatnya memeluk lebih erat. Mereka larut dalam kehangatan yang sudah tiga hari terbangun perlahan, dari obrolan booth ke obrolan hati.
Setelahnya, mereka berbaring berdampingan dalam diam yang nyaman. Tiara menyandarkan kepalanya di dada Rizal, mendengarkan detak jantungnya.
"Mas," bisik Tiara. "Makasih ya. Malam ini saya ngerasa jadi manusia lagi, bukan cuma pajangan booth."
Rizal mengecup keningnya. "Mbak Tiara memang manusia. Manusia yang hebat."
Pagi harinya, Rizal terbangun oleh suara koper diseret. Tiara sudah mandi dan rapi, siap berangkat. Timnya menunggu di lobi.
"Mas Rizal gak usah antar ke bawah, tim saya udah rame," kata Tiara sambil tersenyum. Ia menggenggam tangan Rizal erat. "Tapi janji, kita tetap kontak-kontakan ya? Saya simpan nomor Mas."
"Tentu," jawab Rizal. "Nanti kalau pameran ke kota ini lagi, kabarin. Saya traktir makan lagi."
"Deal," kata Tiara. Ia mencium pipi Rizal sekilas, lalu berbalik menuju pintu. Di ambang pintu ia menoleh sekali lagi, melambaikan tangan dengan senyum yang kali ini terlihat benar-benar bahagia.
Rizal berdiri di jendela, melihat Tiara masuk ke mobil timnya di bawah. Ia tersenyum sendiri. Pameran lima hari itu tidak memberinya relasi bisnis baru, tapi memberinya sesuatu yang lain: tiga hari obrolan, satu malam kejujuran, dan kenangan tentang SPG booth mobil listrik yang ternyata menyimpan lelah di balik senyum profesionalnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor baru: "Udah di jalan. Makasih buat tiga harinya, Mas. Jangan lupa beli mobilnya ya."
Rizal tertawa sendiri sambil mengetik balasan: "Mobilnya nanti. Yang penting orangnya jangan lupa kabar."
