CERITA DEWASA

Istri Satpam Komplek

Tengah malam. Jangkrik bersahutan dari balik pagar bambu yang tinggi. Lampu pos ronda yang kuning temaram menyorot ke jalanan komplek yang basah setelah hujan sore. Asap rokok melayang malas di udara lembap.

Hari menghembuskan napas panjang. Jam dua belas lewat sedikit. Ia baru saja memarkir motornya di depan rumah, tapi kakinya malah melangkah ke pos ronda. Seperti hampir setiap malam selama tiga bulan terakhir.

"Mas Hari," sapa perempuan di balik gerobak kecil. "Kopi apa mie?"

"Kopi dulu, Mbak Yuli. Mie-nya nyusul. Yang pedes ya."

"Siap." Yuli tersenyum. Perempuan tiga puluh tiga tahun itu bergerak lincah di antara panci kukusan dan teko air panas. Rambutnya diikat asal, dasternya sederhana, tapi wajahnya manis dan selalu ceria. Ia istri Pak Slamet, satpam malam komplek ini, lelaki empat puluh delapan tahun yang badannya masih kekar meski rambutnya mulai memutih.

Sudah hampir setahun Yuli jualan kopi dan mie instan di pos ronda. Awalnya cuma iseng menemani suaminya jaga malam, lalu keterusan. Warga komplek yang pulang larut sering mampir. Harganya murah, rasanya lumayan, dan Yuli pandai ngobrol.

Hari sendiri karyawan pabrik, tiga puluh empat tahun, kerja shift bergantian. Minggu ini ia dapat shift sore, pulang tengah malam. Dulu ia langsung tidur. Sekarang ia selalu menyempatkan mampir ke pos ronda. Alasannya kopi. Alasan sebenarnya, ia tidak berani mengakui bahkan pada dirinya sendiri.

Awalnya ia cuma mampir seminggu sekali. Lalu dua kali. Lalu hampir tiap malam. Yuli selalu menyambutnya dengan senyum yang sama, tapi lama-lama senyum itu terasa berbeda. Lebih lama. Lebih hangat. Kadang Yuli sengaja membuatkan kopi tubruk spesial, bukan kopi sachet seperti untuk pembeli lain. Kadang ia menyelipkan gorengan gratis ke kresek Hari.

Pak Slamet tidak pernah curiga. Ia malah senang warung istrinya ramai. "Laris manis, Bu," katanya suatu malam sambil tertawa, tidak sadar bahwa kelarisan itu sebagian besar karena satu pelanggan yang selalu datang paling akhir.

"Malam ini sepi," kata Yuli sambil menyodorkan gelas kopi panas. "Biasanya ada Pak RT ronda, tapi lagi ke rumah anaknya."

"Pak Slamet mana, Mbak?"

"Patroli keliling. Katanya ada laporan maling motor di komplek sebelah, jadi dia muter agak jauh." Yuli duduk di bangku bambu seberang Hari. "Sendirian deh aku."

Hari menyeruput kopinya. Pahit, manisnya pas. Di kejauhan terdengar suara motor lewat di jalan raya, lalu sunyi lagi.

"Mbak nggak takut sendirian gini?" tanya Hari.

"Udah biasa. Lagian ada Mas Hari kan." Yuli tertawa kecil. Tawanya renyah. "Eh, tapi beneran, Mas. Kadang aku mikir, aku ini istri satpam apa istri pos ronda. Suamiku lebih sering keliling daripada di sini."

Hari terkekeh. "Namanya juga tugas."

"Iya sih. Tapi ya gitu. Kadang aku ngerasa kayak janda padahal suami masih ada." Yuli menatap api kecil di bawah panci kukusan. "Pulang pagi, tidur, bangun sore, berangkat lagi. Ngobrol beneran tuh jarang."

Hari tidak menjawab. Ia tahu perasaan itu. Ibunya dulu juga sering mengeluh soal bapaknya yang sopir truk antarkota. Perempuan butuh ditemani, bukan cuma dinafkahi.

"Mas Hari sendiri? Belum nikah?" tanya Yuli tiba-tiba.

"Belum, Mbak. Calonnya aja belum ada."

"Ganteng-ganteng kok belum laku." Yuli mengedipkan mata. "Atau standarnya ketinggian?"

"Standarnya sederhana. Yang penting mau diajak susah."

"Susuan mana sama shift malam?"

Mereka tertawa bersama. Obrolan mengalir. Soal kerjaan Hari yang targetnya makin gila, soal harga cabai yang bikin Yuli pusing atur modal warung, soal Pak Slamet yang ngoroknya bisa kedengeran sampai pos ronda.

Jam setengah satu, gerimis mulai turun. Rintiknya pelan, tapi cukup untuk membuat udara makin dingin.

"Wah, hujan lagi," gumam Yuli. Ia berdiri untuk menutupi gerobaknya dengan terpal plastik. Hari membantu memegangi ujung terpal yang tertiup angin.

Tangan mereka bersentuhan. Sekilas. Tapi cukup untuk membuat Hari menahan napas. Tangan Yuli hangat dan halus.

"Makasih," kata Yuli pelan. Ia tidak langsung melepaskan pandangannya dari mata Hari.

Mereka duduk kembali. Gerimis berubah jadi hujan deras. Atap pos ronda berderit menahan air. Jalanan komplek yang tadi basah kini tergenang. Tidak ada kendaraan lewat. Tidak ada orang. Hanya mereka berdua, dikelilingi suara hujan.

"Pak Slamet kehujanan nih," kata Hari, berusaha memecah keheningan yang tiba-tiba terasa berat.

"Dia bawa mantel. Biasa." Yuli memainkan ujung gelasnya. "Mas Hari..."

"Iya?"

"Aku boleh jujur?"

Hari mengangguk. Jantungnya berdegup lebih kencang dari seharusnya.

"Aku seneng tiap Mas mampir." Suara Yuli pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Tiap malam aku nungguin. Bukan nungguin pembeli. Nungguin Mas."

Dada Hari sesak. Ia menatap Yuli. Di bawah cahaya lampu kuning yang temaram, wajah perempuan itu terlihat lelah sekaligus berani. Seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu dan akhirnya menyerah.

"Mbak..."

"Jangan panggil Mbak terus. Panggil Yuli aja."

"Yuli..."

Yuli bergeser duduk, lebih dekat. Bahunya menyentuh bahu Hari. Aroma tubuhnya, campuran keringat, minyak goreng, dan parfum melati yang samar, memenuhi hidung Hari.

"Aku tahu ini salah," bisik Yuli. "Tapi aku capek, Mas. Capek jadi perempuan yang cuma ditinggal."

Hari seharusnya mundur. Seharusnya ingat Pak Slamet, lelaki baik yang selalu menyapanya tiap pagi. Seharusnya ingat batas.

Tapi tangan Yuli sudah menggenggam tangannya. Hangat. Gemetar sedikit.

Dan Hari tidak melepaskannya.

Ia menoleh. Yuli menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Lalu Hari mendekat dan menciumnya. Pelan. Memberi kesempatan untuk mundur.

Yuli tidak mundur. Ia membalas dengan lembut, lalu makin dalam. Bibirnya manis, ada rasa kopi. Tangannya naik ke tengkuk Hari, menariknya lebih dekat.

Hujan makin deras. Dunia menyusut tinggal pos ronda kecil itu.

Ciuman mereka makin lapar. Tangan Hari melingkar di pinggang Yuli. Tubuhnya ramping tapi berisi, hangat dalam pelukan. Daster tipisnya bukan penghalang. Hari bisa merasakan setiap lekuknya.

"Mas," desah Yuli di sela ciuman. "Jangan di sini. Ada CCTV Pak RT."

Hari menoleh. Di sudut pos memang ada kamera kecil mengarah ke jalan. Ia mengumpat dalam hati.

"Ke belakang," bisik Yuli. "Ada gudang."

Di belakang pos ronda ada gudang kecil tempat menyimpan peralatan ronda dan stok warung. Yuli membukanya dengan kunci yang ia ambil dari laci gerobak. Ruangan itu sempit, penuh kardus mie instan dan galon air. Satu-satunya penerangan adalah cahaya lampu pos yang masuk dari celah pintu.

Yuli menutup pintu. Gelap. Hanya napas mereka yang terdengar.

Hari meraba dan menemukan wajah Yuli. Ia menciumnya lagi, kali ini tanpa ragu sedikit pun. Yuli membalas dengan ganas. Tangannya meremas kaos Hari, lalu menyusup ke dalamnya, menyentuh punggungnya yang berkeringat.

Daster Yuli terangkat. Hari menyentuh pahanya yang mulus. Yuli mendesah dan melingkarkan kakinya di pinggang Hari. Hari mengangkatnya, tubuhnya ringan, dan menyandarkannya ke tumpukan kardus yang kokoh.

"Yuli," bisik Hari. "Yakin?"

Ia mengangguk dalam gelap. "Jangan tanya lagi."

Hari melepas daster Yuli. Dalam temaram ia tidak bisa melihat jelas, tapi tangannya merasakan semuanya. Kulit yang halus. Dada yang penuh dan kencang. Pinggang yang ramping.

Yuli juga tidak tinggal diam. Tangannya membuka kancing kemeja Hari, lalu resleting celananya. Gerakannya mantap, seperti sudah memutuskan dan tidak akan mundur.

Mereka bercinta di gudang sempit itu, di antara kardus mie instan, dengan suara hujan sebagai musik latar. Tidak ada kelembutan basa-basi. Hanya dua orang dewasa yang kesepian dan akhirnya menemukan satu sama lain.

Hari bergerak dengan ritme yang dalam dan mantap. Yuli menggigit bahunya untuk meredam suaranya. Kukunya mencakar punggung Hari. Kakinya melingkar erat di pinggangnya, menariknya lebih dalam setiap kali.

"Jangan berhenti," bisiknya terputus-putus. "Jangan pernah berhenti."

Hari mempercepat gerakannya. Kardus-kardus bergoyang. Keringat membasahi tubuh mereka. Napas memburu.

Yuli mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat dalam pelukan Hari. Ia membenamkan wajahnya di dada Hari, menjerit tertahan. Beberapa detik kemudian Hari menyusul, meledak dengan erangan panjang yang ia tahan sekuat tenaga.

Mereka terdiam cukup lama dalam gelap. Hanya napas yang masih memburu. Yuli bersandar di dada Hari, tangannya mengelus dadanya pelan.

"Maaf," bisik Yuli tiba-tiba.

"Untuk apa?"

"Pak Slamet. Dia orang baik."

Hari mengecup ubun-ubunnya. "Kita berdua yang mau."

"Aku nggak nyesel." Yuli mengangkat wajahnya, meski dalam gelap Hari tidak bisa melihatnya jelas. "Cuma... takut."

"Rahasia kita."

Mereka berpakaian kembali dengan cepat. Yuli merapikan dasternya, Hari merapikan kemejanya. Yuli membuka pintu gudang sedikit, mengintip keluar. Pos ronda masih sepi. Hujan mulai reda.

Mereka kembali duduk seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Yuli membuatkan mie rebus untuk Hari, seperti yang ia janjikan tadi. Tangan Yuli sedikit gemetar waktu menyodorkan mangkuknya.

"Makasih," kata Hari. Ia menggenggam tangan Yuli sebentar di bawah meja. Yuli tersenyum kecil.

Jam dua, Pak Slamet pulang patroli. Mantelnya basah kuyup. Ia memarkir sepeda motornya dan langsung menuju pos.

"Lho, Hari masih di sini?" sapanya ramah.

"Iya, Pak. Nunggu hujan reda."

"Deress banget tadi. Untung bawa mantel." Pak Slamet duduk dan Yuli menyodorkan kopi untuk suaminya. Seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa.

Hari pamit pulang. Sepanjang jalan ke rumah, pikirannya campur aduk. Rasa bersalah menusuk. Tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan hidup, yang sudah lama tidak ia rasakan.

Malam-malam berikutnya, ritualnya tidak berubah. Pulang shift, mampir pos ronda, pesan kopi. Pak Slamet patroli, Yuli jualan.

Yang berubah hanya satu. Setiap kali mata Hari dan Yuli bertemu, ada kilat kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Dan setiap kali Pak Slamet pergi patroli agak jauh, dan hujan turun cukup deras untuk menutupi suara, pintu gudang di belakang pos ronda itu terbuka sedikit.

Lalu tertutup lagi.

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang curiga. Di komplek yang tertib itu, rahasia terkecil pun bisa tersembunyi rapat, asal yang menjaganya tahu kapan harus diam dan kapan harus membuka pintu.

bagikan