CERITA DEWASA

Malam Minggu Bersama Tante

Namaku Dimas, umur dua puluh enam, kerja sebagai analis di sebuah bank swasta. Hidupku datar-datar saja: kerja, lembur, pulang, tidur. Malam minggu buatku biasanya cuma berarti satu hal — marathon serial di kosan sambil pesan ayam geprek.

Sabtu kemarin, ibuku menelepon.

"Dimas, kamu malam minggu ini ke mana?"

"Di kosan aja, Bu. Kenapa?"

"Tante Maya telepon ibu. Katanya pompa airnya mati, nggak ada yang benerin. Kamu kan ngerti-ngerti dikit soal gituan. Mampir ya, Nak. Kasihan dia sendirian."

Tante Maya. Bukan tante kandung — dia sahabat ibuku sejak SMA. Umurnya akhir tiga puluhan. Suaminya — Om Hendra — meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Sejak itu dia tinggal sendiri di rumahnya, menjalankan butik kecil di ruko depan kompleks.

Aku kenal Tante Maya sejak kecil. Dulu waktu SD aku sering main ke rumahnya. Dia yang paling rajin ngasih THR waktu lebaran.

"Ya udah, Bu. Nanti aku mampir sore."

Jam lima sore aku sampai di rumahnya dengan motor, membawa tas perkakas pinjaman dari kosan. Rumahnya tipe 90-an yang terawat — halaman penuh bunga, cat krem yang baru dicat ulang.

Tante Maya membukakan pintu. Ia memakai daster batik selutut, rambutnya disanggul asal. Wajahnya tanpa makeup tapi segar.

"Dimas! Ya ampun, udah gede aja kamu," katanya sambil tertawa dan mencubit pipiku seperti waktu aku kecil dulu.

Aku nyengir. "Tante juga awet muda."

"Ah, gombal. Masuk, masuk."

Pompa airnya ternyata cuma masalah sepele — otomatisnya macet. Setengah jam utak-atik, air mengalir lagi.

"Wah, pinter juga kamu," katanya kagum.

"Gampang, Tante. YouTube banyak tutorialnya."

Ia tertawa. "Ya udah, sebagai imbalan, kamu makan malam di sini. Tante masak opor ayam. Nggak boleh nolak."

Aku memang tidak berniat nolak. Opor ayam Tante Maya legendaris — waktu kecil aku pernah nambah tiga kali sampai dimarahi ibuku.

Kami makan di meja makan kayu yang besar — meja untuk keluarga, tapi malam itu cuma diduduki berdua. Sepi.

"Tante nggak kesepian tinggal sendiri?" tanyaku tanpa pikir panjang. Begitu keluar, aku langsung menyesal — pertanyaannya kurang ajar.

Tapi Tante Maya cuma tersenyum tipis. "Awalnya iya. Lima tahun lalu waktu Om Hendra nggak ada, rasanya rumah ini kayak kuburan. Lama-lama terbiasa. Sibuk sama butik, sama arisan, sama pengajian. Sepi tapi sibuk, gitu."

"Tante nggak kepikiran... cari lagi?"

Ia menatapku, lalu tertawa lepas. "Dimas! Kamu nanya tante kayak nanya temen seumuran aja."

"Maaf, Tante."

"Nggak apa-apa. Jawabannya: pernah kepikiran. Tapi susah. Umur segini, cari yang cocok itu kayak cari jarum di tumpukan jerami. Yang seumuran kebanyakan udah punya istri," ia mengedip, "yang muda kayak kamu... ya nggak mungkin lah."

Ada sesuatu di caranya mengatakannya — setengah bercanda, setengah... bukan. Aku tidak mau menyimpulkan macam-macam.

Selesai makan, ia menyeduh teh dan kami pindah ke ruang TV. Di luar, langit mendung. Angin kencang.

"Film yuk," katanya sambil menyalakan TV. "Tante bosen nonton sendirian terus."

Kami nonton film komedi romantis yang sudah kutonton dua kali. Tapi nonton bareng Tante Maya rasanya beda — ia tertawa lepas di adegan lucu, mengomentari pemainnya, sesekali menyenggol bahuku.

Di pertengahan film ada adegan ciuman yang cukup lama. Ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi dari seharusnya. Aku melirik sekilas — Tante Maya menatap layar dengan ekspresi yang sulit kubaca. Bukan canggung. Lebih seperti... rindu.

Ia sadar aku melirik, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Film-film sekarang berani-berani ya."

Aku ikut tertawa, tapi jantungku berdebar tanpa alasan yang jelas.

Jam sembilan lewat, di tengah adegan klimaks film, lampu tiba-tiba padam. TV mati. Ruangan gelap gulita.

"Ah, mati lampu lagi," keluh Tante Maya. "Kompleks ini kalau hujan dikit pasti padam."

Di luar memang sudah hujan deras.

"Tante punya lilin?" tanyaku.

"Ada di dapur. Tunggu ya."

Ia meraba-raba ke dapur. Aku mendengar bunyi laci dibuka-tutup, lalu cahaya korek api. Tak lama ia kembali membawa dua lilin di atas piring kecil. Wajahnya yang diterangi cahaya lilin dari bawah terlihat... berbeda. Lebih muda. Lebih hidup.

"Romantis ya," katanya sambil menaruh lilin di meja. "Kayak zaman dulu sebelum ada listrik."

Kami duduk kembali di sofa — tapi TV mati, jadi tidak ada yang ditonton. Hanya suara hujan dan cahaya lilin yang bergoyang.

"Jadi inget dulu," kata Tante Maya pelan, menatap api lilin. "Waktu Om Hendra masih ada, kalau mati lampu kami suka duduk-duduk gini. Ngobrol sampai lampunya nyala lagi."

"Tante kangen Om ya?"

"Setiap hari, Dimas. Tapi kangennya sekarang udah beda. Dulu kangennya sakit. Sekarang..." ia berhenti, "sekarang kangennya lebih ke... pengen ada yang nemenin. Ngobrol. Ketawa. Hal-hal kecil gitu."

Aku mengangguk. Tidak tahu harus bilang apa.

"Dimas udah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.

"Belum, Tante. Sibuk kerja."

"Sayang. Umur dua puluh enam itu umur paling bagus-bagusnya laki-laki," katanya, lalu cepat-cepat menambahkan sambil tertawa, "kata temen-temen tante sih."

Aku ikut tertawa, tapi ada yang aneh di dadaku. Cara ia menatapku barusan — lama, dalam — bukan tatapan tante ke keponakan.

Hujan makin deras. Petir menyambar jauh.

"Tante dingin ya?" kataku melihatnya menggosok-gosok lengannya. AC mati karena listrik padam, tapi udara malam yang lembap justru terasa dingin.

"Dikit."

Aku mengambil selimut sofa dan menyampirkannya ke bahunya. Tanganku sempat menyentuh kulit lehernya — hangat.

"makasih," bisiknya.

Jarak kami di sofa tidak lebar. Bahunya hampir menempel di bahuku. Aroma parfumnya — wangi yang lembut, bukan parfum murahan — bercampur aroma teh yang masih mengepul di meja.

"Tante," kataku pelan, "boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Aku dari tadi ngerasa... aneh. Maksudku, aku ke sini niatnya benerin pompa. Terus makan. Terus sekarang duduk-duduk gini. Tapi rasanya kayak... bukan cuma itu."

Ia menoleh. Dalam cahaya lilin, matanya berkilau.

"Kamu ngerasa apa, Dimas?"

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menatap bibirnya — lalu kembali ke matanya, meminta izin tanpa suara.

Ia tidak menghindar.

Aku mendekat perlahan dan menciumnya. Lembut dulu, ragu. Bibirnya hangat, sedikit bergetar.

Ia tidak menolak. Malah, setelah sedetik yang terasa seperti selamanya, ia membalas. Tangannya naik ke pipiku, menahanku agar tidak menjauh.

Ciuman itu berubah — dari ragu menjadi dalam, dari sopan menjadi lapar. Dua belas tahun perbedaan umur lenyap begitu saja dalam gelap dan cahaya lilin.

"Dimas..." bisiknya di sela ciuman, suaranya serak. "Kamu yakin?"

"Tante yang yakin?"

Ia menjawab dengan menarikku lebih dekat. Tubuhnya yang selama ini cuma kulihat dari jauh — perempuan dewasa yang anggun dan rapi — sekarang ada dalam pelukanku, hangat dan nyata.

Daster batiknya tipis. Aku bisa merasakan lekuk tubuhnya yang terawat — bukan tubuh anak muda, tapi tubuh perempuan dewasa yang tahu cara merawat diri. Pinggangnya ramping, dadanya penuh menekan dadaku.

Tanganku yang tadinya ragu di punggungnya mulai berani menjelajah. Ia mendesah pelan ke dalam ciumanku — suara yang membuat darahku berdesir.

"Tante udah lama..." bisiknya, tidak menyelesaikan kalimat. Tidak perlu. Aku paham.

Lima tahun sendiri. Lima tahun tanpa sentuhan. Aku bisa merasakan betapa ia merindukannya dari cara ia mencengkeram kaosku, dari cara tubuhnya melengkung mendekatiku seolah takut aku menghilang.

Aku mengangkatnya perlahan — ia ringan — dan membaringkannya di sofa yang lebar. Lilin-lilin di meja bergoyang, bayangan kami menari di dinding.

Aku berlutut di depannya dan menciumi lehernya, turun ke bahunya. Tanganku menyingkap dasternya perlahan, memberinya kesempatan untuk menghentikanku kapan pun.

Ia tidak menghentikanku. Malah ia membantu — mengangkat sedikit tubuhnya agar dasternya mudah dilepas.

Dalam cahaya lilin, tubuhnya terlihat seperti patung. Kulitnya mulus, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu. Ia menatapku dengan mata setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka.

"Cantik banget, Tante," bisikku jujur.

Ia tersenyum malu — perempuan tiga puluh delapan tahun tersenyum malu seperti gadis. "Udah lama nggak ada yang bilang gitu."

Aku menanggalkan pakaianku sendiri dan berbaring di sampingnya. Kulit bertemu kulit dalam temaram. Hangat.

Kami bercinta malam itu di sofa ruang TV, diiringi suara hujan yang tidak kunjung reda dan cahaya dua batang lilin yang makin pendek. Pelan-pelan dulu — aku ingin ia menikmati setiap detiknya, menebus lima tahun kesepiannya. Tanganku menjelajah, bibirku mengikuti. Ia mendesah dan menggeliat, sesekali membisikkan namaku dengan suara yang membuatku makin bergairah.

Saat ia mencapai puncaknya, ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan — malu kalau suaranya terdengar sampai ke rumah tetangga. Aku tertawa pelan dan menciumi keningnya yang berkeringat.

Setelah itu kami berbaring diam cukup lama, hanya mendengarkan hujan. Kepalanya di dadaku. Jari-jarinya menggambar pola tidak jelas di perutku.

"Dimas," katanya pelan.

"Ya, Tante?"

"Jangan panggil tante kalau lagi gini," katanya sambil mencubit perutku pelan. "Panggil Maya aja."

Aku tertawa. "Siap... Maya."

"Maya," ia mengulang, mencoba mendengar namanya dari mulutku. Lalu ia mendesah puas. "Udah lama nggak ada yang manggil aku Maya. Semua orang manggil tante, Bu Maya, Mbak Maya. Kayak aku ini cuma... peran. Bukan orang."

"Mulai sekarang aku manggil Maya. Janji."

Ia mengangkat kepala dan menciumku — ciuman yang lembut, penuh terima kasih, tanpa nafsu. Ciuman yang justru paling berkesan malam itu.

Lampu menyala lagi sekitar jam sebelas. Kami sudah rapi, duduk di sofa seperti tidak terjadi apa-apa — kecuali senyum yang tidak bisa hilang dari wajah kami berdua.

"Aku pulang ya, Maya," kataku sambil berdiri.

Ia mengantarku sampai pintu. Di teras yang masih basah oleh hujan, ia menggenggam tanganku.

"Minggu depan mampir lagi ya. Pompa airnya... siapa tahu rusak lagi," katanya dengan senyum nakal yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Siap. Tukang pompa langganan Maya."

Ia tertawa, lalu mengecup pipiku — cepat, tapi cukup lama untuk membuatku ingin kembali masuk.

Di perjalanan pulang, hujan sudah reda. Jalanan basah memantulkan lampu jalan. Aku tersenyum sendiri di atas motor.

Malam minggu yang tadinya kuprediksi bakal kuhabiskan dengan ayam geprek dan serial TV ternyata jadi malam minggu yang tidak akan kulupakan.

Dan minggu depannya — juga minggu-minggu setelahnya — aku selalu punya alasan untuk mampir ke rumah bercat krem di ujung kompleks itu.

Kadang pompanya beneran rusak. Seringnya sih enggak.

bagikan