CERITA DEWASA

Perawat Home Care

Ting tong. Bel rumah berbunyi tepat jam delapan pagi, seperti biasa. Aku yang sedang menyeduh kopi di dapur menoleh ke pintu depan. Dari jendela kaca terlihat sosok perempuan bertas medis hitam, tersenyum sambil melambaikan tangan.

Itu Siska. Sudah tiga minggu ia datang setiap pagi.

Aku membukakan pintu. "Pagi, Mbak Siska."

"Pagi, Mas Wawan," sapanya ceria. Ia masuk, melepas sepatu, dan langsung menuju kamar ayah seperti rutinitas yang sudah hafal di luar kepala.

Ayahku, tujuh puluh dua tahun, kena stroke ringan empat bulan lalu. Sejak itu separuh badannya lemah dan ia butuh bantuan untuk hal-hal dasar. Mandi, makan, minum obat, terapi ringan. Ibuku sudah meninggal lima tahun lalu, dan aku anak tunggal. Jadi aku yang mengurus semuanya.

Aku, Wawan, tiga puluh lima tahun, wiraswasta. Usahaku toko online sparepart motor, dan untungnya bisa kujalankan dari rumah. Jadi aku bisa menemani ayah seharian. Tapi untuk perawatan medis, aku butuh tenaga profesional. Maka aku menyewa jasa home care, dan mereka mengirim Siska.

Siska, tiga puluh satu tahun. Perawat lulusan akademi keperawatan di Semarang, sudah tujuh tahun kerja. Belum menikah. Cantik dengan cara yang menenangkan. Wajahnya oval, kulitnya bersih, rambutnya selalu digelung rapi. Kalau tersenyum, ada lesung pipi di pipi kanannya. Seragam perawat putihnya selalu rapi, dan tas medisnya tidak pernah berantakan.

Yang paling aku suka darinya, ia sabar. Luar biasa sabar menghadapi ayahku yang kadang rewel dan susah diatur. Ia tidak pernah membentak, tidak pernah menunjukkan muka masam. Selalu lembut, selalu tersenyum.

Pagi itu aku kembali ke dapur, melanjutkan seduhan kopiku. Dari kamar ayah terdengar suara Siska yang ceria.

"Selamat pagi, Pak. Gimana tidurnya semalam?"

Terdengar gumaman ayah menjawab.

"Wah, nyenyak ya. Bagus. Sekarang kita cek tensi dulu ya."

Aku tersenyum sendiri sambil menyeruput kopi. Ada sesuatu yang menenangkan mendengar suara Siska di rumah ini. Rumah yang sejak ayah sakit terasa muram, sekarang tiap pagi ada kehidupan.

Setengah jam kemudian Siska keluar dari kamar ayah. "Pak Wawan," panggilnya. Ia memanggil ayahku Pak Wawan juga, jadi kadang membingungkan. "Tensi Bapak pagi ini bagus. 130/85. Obat pagi sudah diminum."

"Alhamdulillah," kataku. "Mbak Siska mau kopi?"

"Boleh. Tapi yang nggak terlalu manis ya."

Aku membuatkan kopi untuknya. Kami duduk di teras belakang, seperti biasa. Ini ritual kami. Setelah Siska selesai menangani ayah, kami ngopi bareng sebelum ia pulang jam sepuluh.

"Mas Wawan nggak bosen di rumah terus?" tanya Siska sambil meniup kopinya.

"Ya bosen sih kadang. Tapi mau gimana. Ayah butuh ditemenin."

"Kamu anak yang baik."

"Aku cuma anak yang nggak punya pilihan lain." Aku tertawa kecil.

Siska ikut tertawa. "Pilihan selalu ada, Mas. Kamu memilih yang bener."

Kami mengobrol. Soal usahaku yang lagi sepi karena musim hujan, soal pasien-pasien home care Siska yang lain, soal harga cabai yang naik lagi. Obrolan ringan yang menyenangkan.

Sudah dua minggu kami punya ritual ngopi ini, dan aku menyadari sesuatu. Aku menantikan jam delapan pagi bukan cuma karena ayah butuh dirawat. Tapi karena aku pengen ngobrol sama Siska.

Hari itu, Selasa minggu keempat, ada yang beda. Siska datang dengan mata sembap. Ia tersenyum seperti biasa, tapi senyumnya dipaksakan. Aku tahu karena sudah tiga minggu memperhatikan wajahnya setiap pagi.

Setelah ia selesai dengan ayah, kami ngopi di teras seperti biasa. Tapi ia diam saja, menatap kebun kecil di belakang rumah.

"Mbak Siska kenapa?" tanyaku akhirnya. "Mukanya kayak habis nangis."

Ia menoleh, kaget. Lalu menghela napas panjang. "Ketahuan ya."

"Cerita aja kalau mau."

Ia diam cukup lama. Lalu, pelan, ia mulai bercerita.

Pacarnya. Lima tahun pacaran. Namanya Hendra, teman kuliahnya dulu. Sudah serius, sudah dikenalkan ke keluarga, sudah bicara soal nikah tahun depan.

"Minggu kemarin dia nikah, Mas," kata Siska dengan suara bergetar. "Nikah sama orang lain. Teman sekantornya. Katanya... katanya dijodohin orang tuanya."

Aku tertegun. "Ya ampun."

"Aku tahu dari Instagram. Foto akadnya. Aku bahkan nggak dikasih tahu." Air matanya jatuh. Ia cepat-cepat menghapusnya. "Maaf. Nggak profesional ya, curhat ke keluarga pasien."

"Nggak apa-apa," kataku lembut. "Kamu juga manusia."

Ia menangis. Tidak keras, hanya air mata yang mengalir diam-diam. Aku mengulurkan tisu. Ia menerimanya dengan tangan gemetar.

"Lima tahun, Mas. Lima tahun aku nunggu. Aku tolak lamaran orang lain karena dia. Terus dia nikah sama orang yang baru dikenal setahun." Ia tertawa pahit. "Lucunya, aku masih kerja seperti biasa kemarin. Senyum ke pasien. Seolah nggak ada apa-apa."

"Kamu kuat," kataku.

"Aku nggak kuat. Aku cuma nggak punya pilihan." Ia menatapku. "Kayak kamu bilang kemarin."

Kami saling menatap. Ada sesuatu di matanya. Luka yang dalam, tapi juga kelegaan karena akhirnya bisa jujur ke seseorang.

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya yang ada di meja. Ia tidak menariknya.

"Kalau butuh teman cerita, aku di sini," kataku.

Ia mengangguk pelan, air mata masih mengalir. "Makasih, Mas."

Sejak hari itu, ritual ngopi kami berubah. Bukan lagi obrolan ringan soal harga cabai. Tapi obrolan yang lebih dalam. Siska cerita soal Hendra, soal rencana pernikahan yang gagal, soal ibunya yang menelepon tiap malam menanyakan kapan ia menyusul menikah.

Aku mendengarkan. Aku tidak banyak memberi nasihat, karena aku tahu yang ia butuhkan bukan nasihat. Tapi didengar.

Dan Siska juga mendengarkanku. Soal sepinya jadi anak tunggal yang mengurus ayah sakit. Soal rasa bersalah karena kadang pengen bebas. Soal takut ayah kenapa-kenapa waktu aku tidur.

Kami saling menguatkan, dengan cara yang sederhana. Duduk di teras, kopi mengepul, bicara jujur.

Minggu kelima, Jumat pagi. Siska datang seperti biasa. Tapi hari itu ayahku lebih rewel dari biasanya. Tidak mau minum obat, tidak mau diterapi. Siska sabar membujuknya hampir satu jam sampai akhirnya ayah mau.

Setelah ayah tidur siang, Siska keluar dengan wajah lelah. Keringat membasahi pelipisnya.

"Capek?" tanyaku.

"Banget," katanya sambil duduk di sofa ruang tamu. "Bapak hari ini luar biasa."

Aku membuatkan teh manis hangat untuknya. Ia meminumnya dengan lahap.

"Mas Wawan," katanya tiba-tiba. "Aku boleh nanya sesuatu?"

"Apa?"

"Kamu nggak kesepian?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam. "Maksudnya?"

"Kamu tiga puluh lima, belum nikah, tiap hari di rumah ngurus ayah. Nggak kesepian?"

Aku tertawa kecil. "Jujur? Kesepian banget. Tapi ya mau gimana."

"Aku juga," bisiknya. "Sejak Hendra nikah, aku ngerasa... kosong. Rumah kontrakan sepi. Pulang kerja nggak ada yang nunggu. Tidur sendirian."

Kami duduk bersebelahan di sofa. Jarak kami dekat. Aku bisa mencium aroma sabun mandi darinya, bercampur wangi antiseptik yang khas perawat.

"Siska," kataku pelan.

Ia menoleh. Aku menatap matanya. Di sana ada lelah, ada luka, tapi ada juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat.

Aku mendekat, perlahan, memberinya waktu untuk mundur. Ia tidak mundur.

Aku menciumnya. Lembut dulu. Bibirnya dingin karena teh manis, tapi lama-lama menghangat. Ia membalas dengan ragu, lalu makin berani. Tangannya naik ke tengkukku.

Ciuman itu dalam dan penuh perasaan. Bukan ciuman terburu-buru. Tapi ciuman dua orang dewasa yang sama-sama kesepian dan akhirnya menemukan tempat berlabuh.

Tanganku melingkar di pinggangnya. Tubuhnya ramping tapi berisi, hangat dalam pelukanku. Seragam perawatnya yang kaku tidak mengurangi kelembutannya.

Kami berciuman cukup lama di sofa itu. Dunia luar tidak ada. Hanya kami berdua dan suara kipas angin.

"Ayah..." bisikku di sela ciuman, mengingatkannya.

"Tidur," bisiknya balik. "Dua jam."

Tangannya mulai membuka kancing kemejaku. Aku membiarkannya. Lalu tanganku membuka kancing seragamnya, satu per satu. Di balik seragam putih itu ia memakai tank top abu-abu. Sederhana, tapi di tubuhnya terlihat memikat.

Kami saling menanggalkan pakaian dengan perlahan. Tidak ada tergesa-gesa. Setiap gerakan penuh kesadaran, penuh pilihan. Ini bukan kecelakaan. Ini keputusan dua orang dewasa.

Tubuhnya indah. Kulitnya mulus, dadanya penuh dan kencang. Aku menatapnya dengan kagum.

"Kamu cantik," bisikku.

Ia tersipu. "Jangan diliatin terus."

Aku membaringkannya di sofa yang cukup lebar. Ia menatapku dari bawah, rambutnya yang tergerai dari gelungannya, pipinya memerah.

Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah pelan. Tangannya menyusup ke rambutku. Setiap sentuhanku disambut dengan desahan yang makin berani.

Kami bercinta di sofa ruang tamu itu dengan perlahan dan dalam. Tidak ada kegilaan, tidak ada ketergesaan. Hanya dua orang yang saling mengisi kekosongan.

Gerakan kami ritmis, saling mengikuti. Ia memelukku erat, kukunya menekan punggungku pelan. Napasnya memburu di telingaku.

"Mas," bisiknya berulang-ulang.

Aku mempercepat sedikit. Ia mengimbangi. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Suara desahan kami bercampur dengan dengung kipas angin.

Ia mencapai puncaknya dengan tubuh bergetar dan jeritan tertahan. Aku menyusul beberapa saat kemudian, meledak dengan desahan panjang sambil memeluknya erat.

Kami terbaring diam cukup lama, masih berpelukan, masih terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.

"Maaf," bisiknya tiba-tiba.

"Untuk apa?"

"Ini... di rumah kamu. Di depan kamar ayahmu."

"Ayah tidur. Dan kita berdua yang mau." Aku mengecup keningnya. "Kamu nyesel?"

Ia diam sebentar. Lalu menggeleng. "Enggak. Aku... aku ngerasa hidup lagi."

Kami berpakaian kembali dengan cepat tapi tenang. Seragamnya dirapikan, gelungannya dibetulkan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sofa itu. Ayah masih tidur pulas di kamarnya.

Sebelum pulang, Siska menatapku di depan pintu. "Mas Wawan," katanya pelan. "Ini nggak akan ganggu kerjaanku kan? Maksudku... aku tetap profesional sama Bapak."

"Tentu," kataku. "Yang ini urusan kita berdua. Yang itu urusan kerjaan."

Ia tersenyum. Senyum yang tulus, untuk pertama kalinya sejak ia cerita soal Hendra. Lalu ia mencium pipiku sekilas dan pergi.

Sejak hari itu, ritual kami bertambah satu. Setelah ngopi di teras, kalau ayah sudah tidur siang dan rumah sepi, ada ritual lain yang cuma kami berdua yang tahu.

Siska tetap profesional. Ia merawat ayahku dengan sabar dan teliti seperti biasa. Tidak ada yang berubah di permukaan. Ayahku bahkan makin ceria karena tensinya stabil dan terapinya lancar.

Yang berubah cuma kami berdua. Setiap pagi jam delapan, bel berbunyi, dan jantungku berdegup lebih kencang dari seharusnya.

Karena yang datang bukan cuma perawat ayahku.

Tapi perempuan yang membuat rumah ini terasa hidup lagi.

bagikan