Meja makan sudah tertata rapi untuk tiga orang. Piring-piring tersusun, tiga gelas berdiri berjajar, dan di tengah meja ada semangkuk rendang yang masih mengepul. Dari dapur tercium aroma sayur asem. Ayu keluar sambil mengelap tangan dengan handuk kecil, tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
"Gita bilang jam tujuh sampai," katanya.
Belum sempat aku menjawab, telepon genggam Ayu berdering. Ia mengangkat, dan senyumnya perlahan luntur.
"Halo, Pak? Iya... Apa? Sekarang?" Ia menatapku dengan wajah bersalah. "Baik, Pak. Saya ke kantor sekarang."
Telepon ditutup. Ayu menghela napas panjang.
"Server down. Semua tim IT dipanggil. Aku harus ke kantor."
"Padahal makanan udah siap," kataku.
"Maaf ya, Mas. Kamu telepon Gita, bilang makan malamnya batal. Atau bungkusin aja buat dia."
Aku mengangguk. Ayu bergegas ganti baju dan pergi. Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Gita sudah di depan pagar, membawa paper bag berisi kue.
Aku membukakan pintu. "Masuk, Gita."
"Lho, Ayu mana?" tanyanya sambil melangkah masuk.
"Baru aja pergi. Server kantornya down, dipanggil lembur."
Gita mengerutkan kening. "Yah. Padahal aku udah siap-siap cantik." Ia tertawa. Ia memang selalu ceria begitu.
"Udah tanggung. Makan aja di sini. Makanannya udah mateng semua."
"Beneran? Nggak ngerepotin?"
"Nggak. Duduk."
Kami makan berdua di meja yang tertata untuk tiga orang. Satu kursi kosong di antara kami, seperti lubang yang mengingatkan bahwa malam ini seharusnya berbeda.
Gita itu teman sekantor Ayu. Umurnya tiga puluh satu, tiga tahun lebih muda dari Ayu yang tiga puluh empat. Aku sendiri tiga puluh enam, pengusaha kecil yang jualan sparepart motor. Gita belum menikah. Katanya belum nemu yang cocok, padahal yang deketin banyak.
Malam itu ia pakai dress selutut warna hijau, rambutnya digerai. Cantik. Aku sudah sering lihat dia, tapi entah kenapa malam itu aku memperhatikannya lebih dari biasanya. Mungkin karena suasananya. Mungkin karena kursi kosong itu.
"Mas Pras masak?" tanya Gita sambil menyendok rendang.
"Ayu yang masak. Aku cuma bagian makan."
"Enak. Ayu pinter masak ya."
"Iya. Kamu kapan nyusul? Masak buat suami."
Gita tertawa. "Ntar aja. Masih betah sendiri."
"Betah atau belum nemu?"
"Belum nemu yang kayak Mas Pras." Ia mengedipkan mata, setengah bercanda.
Aku tertawa, tapi ada yang aneh di dada. Godaan kecil yang seharusnya kutanggapi dengan tawa, malam itu terasa berbeda.
"Kamu terlalu pemilih," kataku. "Cowok baik banyak."
"Yang baik banyak. Yang bikin nyaman dikit." Ia menyendok sayur asem. "Dulu aku pernah deket sama satu cowok. Ganteng, mapan. Tapi tiap ngobrol kayak interogasi. Nggak ada nyamannya."
"Terus?"
"Terus ya udah. Mending sendiri daripada sama orang yang salah." Ia menatapku. "Ayu beruntung. Dapet Mas Pras yang bisa diajak ketawa."
Aku tidak menjawab. Ada jeda. Suara sendok beradu dengan piring.
Setelah makan, kami pindah ke teras. Ayu belum memberi kabar. Aku membuatkan teh manis dua gelas. Malam itu angin sepoi-sepoi, langit bertabur bintang. Lampu-lampu tetangga berkelip di kejauhan.
Kami ngobrol soal kerjaan. Gita cerita soal atasannya yang cerewet, soal target kuartal yang bikin stres. Aku cerita soal tokomu yang lagi sepi karena musim hujan. Obrolan mengalir enak, seperti biasa. Tapi malam itu ada ketegangan halus di udara yang tidak bisa kujelaskan. Setiap kali ia tertawa, aku memperhatikannya lebih lama dari seharusnya.
"Enak ya rumah kalian," kata Gita sambil menyeruput teh. "Tenang."
"Kamu kan sering ke sini."
"Iya, tapi tiap ke sini aku selalu mikir. Kapan ya aku punya rumah kayak gini. Punya suami yang nungguin di teras."
Aku menatapnya. "Kamu iri sama Ayu?"
Ia terdiam, lalu mengangguk pelan. "Iya. Aku iri. Ayu cantik, pinter, karir bagus, suami baik. Aku? Umur tiga puluh satu, masih kos, pacar nggak punya."
"Gita, kamu cantik. Karirmu juga bagus."
"Tapi aku sendirian, Mas." Suaranya bergetar. "Tiap malam pulang ke kos yang sepi. Masak buat satu orang. Nonton TV sendirian. Kadang aku nangis nggak jelas."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku mengulurkan tangan dan menepuk bahunya. Ia malah menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Kami duduk diam. Teh mengepul di meja. Jangkrik bersahutan.
"Mas Pras," bisiknya. "Aku boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku suka ke sini bukan cuma karena Ayu." Ia mengangkat wajahnya, menatapku. "Aku suka liat kamu. Cara kamu ngeladenin Ayu. Cara kamu ketawa. Aku... aku ngebayangin jadi Ayu."
Jantungku berdegup kencang. "Gita..."
"Aku tahu ini salah. Ayu sahabatku. Tapi aku capek pura-pura nggak ngerasa apa-apa tiap liat kalian."
Tangannya terulur, menyentuh tanganku yang ada di sandaran kursi. Hangat. Aku seharusnya menarik tanganku. Aku seharusnya mengingatkannya bahwa ia sahabat istriku, bahwa ini gila.
Tapi aku tidak melakukannya.
Malah jemariku menggenggam jemarinya.
"Ayu nggak akan tahu," bisik Gita. "Dia lembur sampai pagi katanya."
Itu bukan alasan. Tapi malam itu, di teras yang sepi dengan teh yang mulai dingin, alasan tidak lagi penting.
Aku menoleh dan menciumnya. Pelan dulu, memberi kesempatan mundur. Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Ada rasa lipstik vanilla.
Ciuman itu makin dalam. Tangannya melingkar di leherku. Tubuhnya merapat. Dress hijaunya tipis, aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.
Kami berciuman di teras rumahku, di rumah yang kubangun bersama istriku, dengan perempuan yang bukan istriku. Rasa bersalah dan gairah berperang di dadaku, dan gairah menang telak.
"Jangan di sini," bisik Gita. "Kamar tamu."
Aku menuntunnya masuk. Melewati meja makan yang masih berantakan, piring-piring kotor yang belum dicuci. Kamar tamu ada di ujung lorong. Pintu kututup pelan.
Di dalam kamar yang temaram, kami berdiri berhadapan dengan napas memburu.
"Yakin?" tanyaku, memberi kesempatan terakhir.
Ia mengangguk. "Jangan tanya lagi."
Aku menciumnya lagi, lebih ganas. Tanganku turun ke punggungnya, menemukan resleting dressnya. Kutaruk pelan ke bawah. Dress itu melorot ke lantai.
Ia memakai lingerie hitam yang cantik. Bra berenda, celana dalam matching. Jelas ia berdandan untuk malam ini, meski yang ia harapkan cuma makan malam biasa. Atau mungkin tidak biasa. Mungkin jauh di lubuk hatinya ia berharap lebih.
"Kamu cantik banget," bisikku.
Ia tersipu, tapi tidak menutupi dirinya. Malah ia mulai membuka kancing kemejaku. Satu per satu. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya berani.
Kemejaku terlepas. Ia menyentuh dadaku, mengelusnya pelan. Lalu ia berlutut dan menciumi perutku. Aku mendesah.
Kami saling menanggalkan sisa pakaian. Telanjang berhadapan di kamar tamu yang sepi. Tubuhnya indah. Kulitnya putih mulus, dadanya penuh dan kencang, pinggangnya ramping, kakinya jenjang.
Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah dengan mata berkilat. Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Bra sudah terlepas entah kapan. Ia mendesah keras dan menjambak rambutku.
Tanganku menjelajah tubuhnya. Setiap sentuhan disambut desahan. Ia sudah basah dan siap waktu aku menyentuhnya di tempat paling intim. Ia mengangkat pinggulnya, tidak sabar.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang lambat dulu. Saling merasakan. Ia menatapku dalam-dalam sambil bergerak, dan tatapan itu membuatku makin bergairah.
"Mas," bisiknya. "Aku udah lama ngebayangin ini."
"Jangan ngomong," kataku. "Bikin aku makin..."
Ia tertawa kecil, lalu menciumku untuk membungkamku.
Pelan-pelan gerakan kami bertambah cepat. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Keringat mulai membasahi tubuh kami.
Ia mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan ke bantal. Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang masih memburu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.
"Maaf," bisikku.
"Untuk apa?"
"Ayu."
Gita menghela napas. "Aku yang mulai. Salahku."
"Kita berdua."
Ia mengangkat wajahnya menatapku. "Mas, ini cuma sekali. Besok aku bakal pura-pura nggak terjadi apa-apa. Kamu juga."
Aku mengangguk. Tapi kami berdua tahu, janji seperti itu lebih gampang diucapin daripada ditepatin.
Kami berpakaian kembali. Merapikan kamar tamu, memastikan tidak ada jejak. Piring-piring kotor kucuci sekilas biar tidak menumpuk.
Jam setengah dua belas Gita pulang. Aku mengantarnya sampai pagar. Sebelum masuk taksi, ia memelukku erat.
"Makasih, Mas. Untuk malam ini. Untuk dengerin aku."
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk.
Ayu pulang jam tiga pagi. Lelah, tapi server sudah normal. Ia langsung tidur. Aku berbaring di sebelahnya, menatap langit-langit kamar yang gelap, dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Besoknya Ayu bertanya soal Gita.
"Gita jadi makan di sini?"
"Jadi. Aku suruh makan aja, sayang makanannya."
"Dia pulang jam berapa?"
"Setengah dua belas."
Ayu mengangguk, tidak curiga. Ia malah tertawa. "Kasian Gita. Udah dandan cantik, malah makan sama suami orang."
Aku ikut tertawa. Tawa yang hampa.
Minggu depannya Gita main lagi seperti biasa. Ceria, rame, bawa kue. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa Sabtu malam itu.
Tapi setiap kali ia tertawa dan matanya bertemu mataku, ada kilat kecil di sana. Rahasia yang hanya kami berdua yang tahu.
Dua minggu kemudian Ayu mengajak Gita menginap karena ada kerjaan kelompok sampai malam. Aku pura-pura santai, tapi jantungku berdegup kencang sepanjang sore. Malam itu Gita tidur di kamar tamu. Kamar yang sama. Aku tidak berani menatapnya lama-lama waktu makan malam. Tapi waktu ia pamit tidur dan tangannya menyentuh tanganku sekilas di lorong, aku tahu api itu belum padam.
Ayu tidak tahu. Dan aku berdoa ia tidak akan pernah tahu.
Tapi setiap kali meja makan tertata untuk tiga orang, aku teringat malam itu. Meja yang sama. Teh yang sama. Teras yang sama.
Dan perempuan yang bukan istriku, yang membuatku mengkhianati semua yang kubangun.
Sekali. Cuma sekali. Itu yang kami janjikan.
Tapi janji yang dibuat di tengah malam, di kamar tamu yang gelap, jarang bertahan sampai pagi.
Dan aku tidak yakin ingin janji itu bertahan.
