Lampu pool travel di pinggir jalan itu setengah padam. Jam menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima malam ketika Biru mendorong pintu kaca dan masuk sambil mengibas-ngibaskan payung yang menetes. Bau karpet basah bercampur aroma kopi sachet menyambutnya. Di dinding, jam digital berkedip merah, dan di sudut ruangan sebuah televisi kecil menayangkan berita tanpa suara.
"Malam, Pak. Ke Bandung?" sapa petugas di meja. Perempuan paruh baya itu bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselnya.
"Ya. Yang jam sembilan," jawab Biru sambil menyerahkan uang.
"Tinggal dua kursi. Duduk di mana aja, yang kosong."
Biru mengangguk. Di luar, hujan turun semakin deras. Butiran air menghantam kaca jendela pool dengan bunyi berisik yang anehnya menenangkan. Ia memesan kopi panas dari dispenser di sudut, lalu duduk di bangku plastik sambil menatap ke arah pintu. Setengah jam lagi travel terakhir berangkat. Kalau ia melewatkannya, ia harus menginap di kota ini, dan presentasi besok pagi di Bandung akan berantakan.
Tepat pukul sembilan kurang sepuluh, sebuah mobil travel putih masuk ke area parkir. Sopirnya, pria berkumis berusia sekitar empat puluhan, turun sambil membawa payung dan melambaikan tangan ke arah pool.
"Bandung! Bandung terakhir!" teriaknya.
Biru berdiri, membuang gelas kopinya, dan bergegas keluar. Hanya ada satu penumpang lain yang berjalan menuju mobil dari arah halte: seorang perempuan muda berjaket krem, membawa tas ransel besar dan koper kabin. Rambutnya yang panjang diikat asal, beberapa helai menempel di pipi karena hujan.
Mereka naik hampir bersamaan. Sopir membukakan bagasi, dan Biru membantu mengangkat koper perempuan itu. "Makasih," katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan.
Di dalam mobil, barisan jok tersusun tiga ke belakang. Biru memilih jok tengah di sisi kanan, dekat jendela. Perempuan itu duduk di jok yang sama, di sisi kiri, menyisakan satu jok kosong di antara mereka. Sopir menyalakan mesin, menyetel AC, dan mobil pun melaju menembus hujan.
Selama dua puluh menit pertama, tidak ada yang bicara. Hanya bunyi wiper yang bergerak ritmis dan deru ban di aspal basah. Biru membuka laptopnya sebentar, memeriksa ulang slide presentasi, lalu menutupnya lagi. Matanya lelah. Ia menyandarkan kepala ke jendela dan menatap lampu-lampu jalan yang berpendar kabur di balik kaca berembun.
"Kamu juga ke Bandung?" suara itu memecah keheningan.
Biru menoleh. Perempuan itu menatapnya, sedikit tersenyum. Wajahnya cantik dengan cara yang sederhana: tanpa riasan tebal, alis natural, dan mata yang terlihat lelah tapi hangat.
"Iya. Ada kerjaan besok pagi," jawab Biru. "Kamu?"
"Ketemu teman lama." Ia mengulurkan tangan melewati jok kosong di antara mereka. "Wening. Umur dua puluh delapan."
"Biru. Tiga puluh satu." Ia menjabat tangan itu. Hangat dan sedikit gemetar, mungkin karena dingin.
"Sendirian aja naik travel malam-malam?" tanya Wening.
"Kepepet. Harusnya berangkat sore, tapi rapat molor. Kamu sendiri kok berani? Travel terakhir, hujan pula."
Wening tertawa kecil. "Aku juga kepepet. Tapi kepepet yang beda."
Mobil memasuki jalan tol. Hujan semakin deras, wiper bekerja lebih cepat. Sopir di depan menyetel radio ke saluran dangdut dengan volume kecil, lalu kembali fokus ke jalan. Lampu-lampu tol berkelebat, dan di kejauhan sesekali terlihat kilat menyambar.
"Kepepet yang beda gimana?" tanya Biru, penasaran.
Wening menatap keluar jendela cukup lama sebelum menjawab. "Aku kabur," katanya akhirnya, pelan.
"Kabur?"
"Dari rumah. Dari pertunangan." Ia menarik napas panjang. "Orang tuaku menjodohkanku dengan anak rekan bisnis ayah. Umurnya tiga puluh tujuh, duda, punya dua anak. Katanya mapan, katanya aku beruntung. Lamaran minggu depan."
Biru terdiam. "Dan kamu nggak mau."
"Aku bahkan baru ketemu dia tiga kali. Tiga kali! Terus disuruh menikah dan tinggal serumah selamanya." Wening menggeleng. "Tadi sore aku berantem besar dengan ibu. Terus aku kemas tas dan pergi. Temanku di Bandung bilang aku boleh numpang di kosnya sampai aku dapat kerja."
"Berani juga."
"Atau nekat. Belum tahu." Ia tersenyum miris. "Kamu nggak akan laporin aku ke orang tuaku, kan?"
Biru tertawa. "Aku bahkan nggak tahu nama orang tuamu."
Mereka tertawa bersama, dan sesuatu yang kaku di antara mereka mencair. Percakapan mengalir. Wening bercerita ia bekerja sebagai desainer grafis lepas, sudah menabung diam-diam selama setahun untuk berjaga-jaga kalau harus pergi. Biru bercerita tentang pekerjaannya sebagai analis pemasaran, tentang presentasi besok yang menentukan promosinya, tentang betapa ia benci hujan tapi malam ini hujan terasa seperti teman.
"Kamu tahu," kata Wening, "ini pertama kalinya dalam berbulan-bulan aku merasa bisa bernapas lega."
Mobil melambat. Di depan, terlihat antrean lampu merah: ada genangan besar di lajur kiri, dan kendaraan merayap. Sopir menggerutu pelan, memindahkan gigi, lalu kembali fokus. Hujan menghantam atap mobil dengan bunyi seperti ribuan jari mengetuk.
"Dingin ya," kata Wening sambil menggosok kedua lengannya. Jaket kremnya tipis dan sedikit basah di bahu.
Biru membuka tasnya dan mengeluarkan hoodie cadangan. "Pakai ini."
"Nggak usah, aku..."
"Pakai aja. Aku masih ada jaket." Biru menyerahkannya. Wening menerimanya dengan senyum lebar, lalu mengenakannya. Hoodie itu kebesaran di tubuhnya, lengannya menutupi separuh tangannya. Ia terlihat menggemaskan.
"Makasih, Biru."
Jok kosong di antara mereka terasa semakin tidak penting. Wening menggeser duduknya sedikit lebih dekat, tidak kentara, tapi cukup untuk membuat lutut mereka hampir bersentuhan. Biru merasakan jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Ia bukan pria yang mudah terpesona, tapi ada sesuatu pada perempuan ini: keberaniannya, kejujurannya, caranya tertawa.
"Wening," kata Biru pelan, "kamu yakin nggak mau balik? Maksudku, kabur itu berat."
"Aku lebih takut kalau nggak kabur," jawabnya. Matanya menatap Biru lurus-lurus. "Aku nggak mau menikah dengan orang yang nggak aku cintai. Aku mau pilihanku sendiri, meski salah."
Hening sejenak. Hanya bunyi hujan dan radio dangdut yang sayup.
"Dan sekarang," lanjut Wening dengan suara lebih pelan, "aku mau menikmati malam ini. Perjalanan ini. Ngobrol dengan orang asing yang baik hati minjemin hoodie."
Biru tersenyum. "Orang asing yang namanya sudah kamu tahu."
"Orang asing yang namanya sudah aku tahu," koreksi Wening sambil tertawa.
Tangannya, yang tadi menggosok lengan, kini berhenti di atas pahanya sendiri. Biru, entah didorong oleh apa, mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Wening dengan ringan. Wening tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia membalik telapaknya dan menggenggam jari-jari Biru.
Jantung Biru berdebar kencang. Ia melirik ke depan. Sopir tetap fokus ke jalan, sesekali bersenandung mengikuti radio. Lampu tol yang lewat membuat bayangan bergerak di dalam mobil.
"Wening," bisik Biru.
"Iya?"
"Aku nggak mau kamu merasa aku manfaatin keadaan."
Wening menatapnya, lalu tersenyum lembut. "Kamu nggak manfaatin apa-apa. Aku yang mau." Ia meremas jari Biru. "Sudah lama aku nggak merasa diinginkan sebagai perempuan, bukan sebagai calon istri, calon menantu, atau aset bisnis keluarga."
Kata-kata itu menghantam Biru. Ia menggeser duduknya, jok kosong di antara mereka kini benar-benar terlewati. Bahu mereka bersentuhan. Biru bisa mencium aroma sampo dari rambut Wening, bercampur wangi hujan.
"Yakin?" tanya Biru sekali lagi, menatap matanya.
Sebagai jawaban, Wening mendekatkan wajahnya dan mencium Biru. Pelan dulu, ragu, seperti bertanya. Biru menjawab dengan memeluk tengkuknya dan memperdalam ciuman itu. Bibir Wening lembut dan dingin, tapi segera menghangat. Tangannya mencengkeram hoodie yang ia kenakan, hoodie milik Biru.
Mereka berciuman cukup lama, disamarkan oleh gelapnya kabin belakang dan deru hujan. Ketika akhirnya berpisah untuk bernapas, dahi mereka masih menempel.
"Di sini?" bisik Biru.
Wening melirik ke depan. Sopir sama sekali tidak menoleh, pandangannya terkunci ke jalan yang basah dan berkilat. Jok depan terpisah cukup jauh, dan kaca spion dalam gelap.
"Pelan-pelan," bisik Wening. "Jangan berisik."
Biru mengangguk. Tangannya menyusuri lengan Wening yang terbungkus hoodie kebesaran, lalu turun ke pinggangnya. Wening mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya ke bahu Biru. Tangan Biru merayap di bawah hoodie, menyentuh kaus tipis yang ia kenakan, merasakan hangat kulitnya.
Wening membalas. Tangannya yang kecil menyusup ke balik jaket Biru, meraba dadanya yang bidang. "Kamu olahraga ya?" bisiknya sambil tersenyum nakal.
"Kadang," jawab Biru, suaranya serak.
Ciuman mereka berlanjut, semakin berani. Biru merasakan tubuh Wening melunak dalam pelukannya, napasnya memburu. Tangannya bergerak lebih jauh, dan Wening menggigit bibirnya menahan suara. Di luar, hujan masih mengguyur, petir sesekali menyambar jauh, seolah langit ikut menahan napas.
"Wening," desah Biru di telinganya.
"Jangan berhenti," bisiknya.
Mereka bergerak dalam ritme yang hati-hati, menyesuaikan dengan guncangan mobil dan tikungan tol. Setiap kali mobil melewati polisi tidur atau jalan bergelombang, mereka menahan napas dan terkekeh pelan. Ada sesuatu yang mendebarkan sekaligus lucu dalam situasi itu, dan itu justru membuat semuanya terasa lebih hidup.
Tangan Wening mencengkeram bahu Biru erat. Tubuhnya menegang, lalu meluruh dengan desahan panjang yang nyaris tak terdengar. Biru memeluknya erat, menciumi keningnya yang berkeringat, membiarkannya tenang dalam dekapannya.
Beberapa menit kemudian, giliran Biru yang menyerah pada gelombang itu, dengan Wening membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara. Mereka terdiam dalam pelukan, napas masih memburu, mendengarkan hujan yang perlahan mereda.
"Gila," bisik Wening akhirnya, tertawa kecil. "Aku nggak nyangka."
"Aku juga." Biru merapikan hoodie yang dikenakan Wening. "Kamu oke?"
Wening mengangguk, wajahnya bersemu merah tapi matanya berbinar. "Lebih dari oke. Makasih."
"Untuk apa?"
"Untuk malam ini. Untuk nggak tanya-tanya menghakimi. Untuk..." ia menatap Biru, "untuk membuatku merasa seperti aku lagi. Bukan calon istri siapa-siapa."
Biru menggenggam tangannya. "Kamu memang kamu. Jangan lupa itu."
Sisa perjalanan mereka lalui dengan duduk berdampingan, tangan bertautan, sesekali bertukar ciuman ringan di kening atau pipi. Hujan berhenti total saat mobil memasuki gerbang tol Bandung. Udara terasa lebih dingin, dan lampu kota menyambut dari kejauhan.
"Poolnya di mana?" tanya Wening.
"Dago. Kamu?"
"Sama. Temanku jemput di sana."
Mobil berhenti di pool travel Dago pukul setengah dua belas malam. Sopir mematikan mesin dan turun membuka bagasi. Biru dan Wening turun, merapikan pakaian masing-masing dengan canggung yang manis.
Di depan pool, seorang perempuan melambaikan tangan. "Wening!"
Wening berbalik pada Biru. "Itu temanku." Ia ragu sejenak, lalu memeluk Biru erat. "Makasih untuk semuanya. Hoodienya... aku balikin kapan-kapan?"
"Simpan aja," kata Biru. "Biar kamu ingat, ada orang asing di travel yang percaya kamu bisa."
Wening tertawa, matanya berkaca-kaca. "Nomormu?"
Mereka bertukar nomor ponsel dengan cepat. Wening melangkah pergi, lalu berbalik sekali lagi dan melambaikan tangan. Biru membalas lambaian itu sampai sosoknya menghilang di balik pintu mobil temannya.
Biru menarik napas dalam-dalam. Udara Bandung yang dingin menusuk paru-parunya, menyegarkan. Ia memesan ojek online ke hotel, dan sepanjang jalan ia tersenyum sendiri.
Besok pagi ada presentasi penting. Tapi malam ini, di travel terakhir ke Bandung, di tengah hujan deras dan jok belakang yang sepi, ia merasa telah menjadi bagian dari cerita seseorang. Bukan sebagai pahlawan, hanya sebagai teman seperjalanan yang kebetulan duduk di jok yang sama.
Dan kadang, pikirnya, kebetulan seperti itu sudah lebih dari cukup.
