CERITA DEWASA

Mbak Warteg Langganan

Uap nasi mengepul dari dandang besar, bercampur bau sambal terasi yang menyengat hidung. Jam setengah dua belas siang, Warteg Barokah sudah penuh sesak. Di depan etalase kaca, belasan jaket hijau ojek online berdesakan, berebut lauk sebelum kehabisan.

"Ayamnya masih, Mbak?" teriak seorang driver sambil mengangkat tangan.

"Tinggal paha dua, Mas!" sahut suara perempuan dari balik etalase.

Aku, Deni, berdiri di antrean paling depan. Bukan karena aku datang paling pagi, tapi karena Mbak Yuni, pemilik warteg ini, selalu menyisihkan tempat untukku. Sudah dua tahun aku makan di sini, hampir tiap hari, dan ia hafal semua kebiasaanku.

"Nasi setengah, ayam dada, tempe orek, sama sayur asem kuahnya banyakin," kataku sebelum ia sempat bertanya.

Mbak Yuni tertawa. "Hafal di luar kepala."

Ia mengambilkan piring, menatanya dengan cekatan. Nasi, ayam, tempe, sayur asem. Lalu, seperti biasa, ia menambah satu sendok sambal dan sepotong kerupuk di pinggir piring tanpa aku minta.

"Tambahan. Biar semangat nariknya."

"Mbak Yuni baik banget. Nanti aku bayar pakai doa."

"Doa nggak bisa buat bayar sewa kios, Den."

Semua orang di warteg itu tertawa. Aku duduk di bangku panjang, makan dengan lahap. Masakan Mbak Yuni memang juara. Sambalnya nendang, ayamnya empuk, sayur asemnya segar. Harga sepuluh ribu, porsi kuli. Tidak heran wartegnya tidak pernah sepi.

Mbak Yuni sendiri umurnya tiga puluh tiga, tiga tahun lebih tua dariku. Aku tiga puluh, sopir ojek online yang mangkal di pangkalan seberang jalan. Mbak Yuni janda. Suaminya meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan motor. Sejak itu ia menjalankan warteg ini sendirian, dibantu satu karyawan paruh waktu bernama Slamet yang cuma datang pagi untuk masak.

Ia cantik dengan cara yang sederhana. Kulitnya kuning langsat, rambutnya selalu dicepol, wajahnya bersih tanpa riasan. Kalau tertawa, matanya menyipit. Badannya berisi, khas orang yang tiap hari mencicipi masakannya sendiri. Daster batik yang ia kenakan selalu rapi, dan tangannya tidak pernah berhenti bergerak. Melayani, membungkus, menghitung kembalian.

Aku tidak pernah berpikir macam-macam soal dia. Ia seperti kakak bagiku. Tempatku makan, tempatku ngobrol kalau orderan sepi. Tapi aku juga laki-laki normal, dan kadang mataku berhenti lebih lama waktu ia membungkuk mengambil piring atau waktu senyumnya terlalu manis.

Suatu Selasa sore, langit mendung sejak jam tiga. Aku baru selesai mengantar penumpang ke daerah Pancoran dan memutuskan mampir ke warteg untuk ngopi. Biasanya jam segitu warteg sudah sepi. Pembeli makan siang sudah bubar, pembeli makan malam belum datang.

Benar saja, waktu aku tiba, warteg kosong. Mbak Yuni sedang duduk di bangku kasir, menghitung uang sambil menyeruput teh.

"Lho, Den. Tumben sore-sore mampir," sapanya.

"Orderan sepi, Mbak. Ngopi aja."

Ia membuatkanku kopi tubruk. Kami ngobrol soal orderan yang makin susah, soal bensin yang naik, soal aplikasi yang potongannya makin besar. Obrolan khas tukang ojek dan tukang warteg.

Jam empat lewat, hujan turun. Bukan hujan biasa, tapi hujan deras sekali, seperti langit bocor. Angin kencang. Aku yang tadinya mau pergi jadi terjebak.

"Wah, deres banget," kataku sambil menatap ke luar.

"Udah, di sini aja dulu. Nunggu reda," kata Mbak Yuni. "Mau makan? Masih ada lauk."

Aku mengangguk. Ia mengambilkan piring. Nasi, telur balado, oseng kangkung. Kami makan berdua di warteg yang sepi, ditemani suara hujan yang menghantam atap seng.

"Den," katanya tiba-tiba di tengah makan. "Kamu nggak bosen makan di sini terus?"

"Bosen kenapa? Enak kok."

"Ya kali aja pengen variasi. Warteg sebelah kan baru buka."

Aku tertawa. "Nggak bakal pindah. Di sini nasinya anget terus, sambalnya juara, yang jual juga ramah."

Ia tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya. "Ramah doang?"

"Cantik juga," kataku spontan. Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal. Itu kalimat yang tidak seharusnya keluar.

Mbak Yuni menatapku. Lama. Lalu ia tertawa kecil. "Gombal."

"Tapi beneran, Mbak."

Suasana berubah. Hujan di luar makin deras. Kami berdua duduk berhadapan di warteg yang kosong, dan tiba-tiba jarak di antara kami terasa dekat sekali.

"Kamu tahu nggak, Den," katanya pelan. "Udah empat tahun aku janda. Empat tahun ngurus warteg ini sendirian. Bangun jam tiga subuh, tidur jam sepuluh malem. Tiap hari gitu."

"Capek ya, Mbak."

"Capeknya sih udah biasa. Yang nggak biasa itu sepinya." Ia menatap cangkir kopinya. "Dulu ada suami. Ada yang nanya udah makan belum. Sekarang... ya gini. Ngobrol sama pelanggan, terus pulang ke kontrakan yang kosong."

Dadaku sesak. Aku tidak menyangka obrolan santai sore itu berubah jadi curhat.

"Mbak kuat banget," kataku.

"Kuat karena nggak ada pilihan." Ia menoleh padaku. "Kamu nggak nanya, aku aja yang cerita terus."

"Aku suka dengerin."

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini tidak ceria seperti biasanya. Senyum yang lelah.

Hujan tidak menunjukkan tanda reda. Jam sudah setengah enam. Slamet sudah pulang dari tadi. Warteg itu tinggal kami berdua.

Mbak Yuni bangkit dan menutup sebagian pintu rolling door. "Biar nggak ketampias," katanya. Tapi waktu ia kembali duduk, ia tidak duduk di bangku kasir. Ia duduk di bangku panjang, di sebelahku.

Jantungku berdegup kencang. Wangi masakan masih menempel di bajunya, bercampur wangi sabun mandi. Rambutnya yang dicepol ada yang terlepas, jatuh ke pipinya.

"Den," bisiknya. "Boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Aku suka kamu mampir. Bukan cuma karena kamu pelanggan. Tapi karena kamu satu-satunya yang nanya aku capek atau enggak." Matanya berkaca-kaca. "Yang lain cuma nanya lauknya masih apa."

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang ada di meja. Tangannya hangat, sedikit kasar karena kerja, tapi lembut.

Ia tidak menarik tangannya. Malah menggenggam balik.

Kami duduk diam. Suara hujan mengisi kekosongan. Bau sambal dan bau hujan bercampur di udara.

"Yuni," kataku pelan, pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel Mbak.

Ia menoleh. Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu, memberi kesempatan untuk mundur.

Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Ada rasa kopi tubruk di bibirnya. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat.

Ciuman itu makin dalam. Napasnya memburu. Tanganku melingkar di pinggangnya yang berisi. Tubuhnya hangat dan empuk, pas dalam pelukanku.

Kami berdiri tanpa melepaskan ciuman. Ia menuntunku ke belakang, ke ruang kecil tempat ia istirahat. Ada dipan, lemari kecil, dan kipas angin. Pintu ditutupnya.

Di dalam ruangan yang sempit itu, kami saling menatap dengan napas memburu. Lampu neon yang redup membuat semuanya terlihat temaram.

"Yakin?" tanyaku.

Ia mengangguk, lalu mulai membuka kancing daster batiknya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Daster itu melorot ke lantai.

Tubuhnya indah. Berisi, montok, kulit kuning langsat yang mulus. Dadanya penuh dan ranum. Perutnya sedikit buncit, khas ibu rumah tangga, tapi justru itu yang membuatnya memikat. Nyata. Hangat. Manusiawi.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tangannya menyusup ke rambutku.

Aku membaringkannya di dipan. Dipan itu berderit pelan. Ia menatapku dari bawah, rambutnya yang terlepas dari cepol tergerai di bantal. Cantik sekali.

Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut. Setiap ciuman disambut desahan. Ia menggeliat di bawahku.

Waktu tanganku menyentuh tempat yang paling intim, ia sudah basah. Ia mengangkat pinggulnya, tidak sabar.

Aku melepaskan pakaianku sendiri dengan cepat. Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar untukku.

Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna. Empat tahun ia tidak disentuh laki-laki, dan tubuhnya menyambutku seperti tanah kering menyambut hujan.

Kami bergerak pelan dulu. Ritmis, dalam. Tangannya mengelus punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.

"Den," bisiknya. "Jangan pelan-pelan. Aku udah lama nunggu."

Aku mempercepat gerakanku. Dipan berderit makin keras. Kipas angin berputar di atas kami. Di luar hujan masih turun deras, tapi kami tidak peduli.

Ia mendesah makin keras. Kukunya mencakar punggungku. Tubuhnya yang berisi bergoyang mengikuti iramaku.

"Aku... aku mau..." katanya terputus-putus.

"Lepasin aja, Yun."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Gelombang itu menjalar ke tubuhku, dan beberapa detik kemudian aku meledak bersamanya dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang masih memburu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.

"Maaf," bisiknya tiba-tiba.

"Buat apa?"

"Aku janda. Kamu masih bujangan. Nanti orang ngomong."

"Biarin orang ngomong." Aku mengecup keningnya. "Aku yang mulai duluan."

"Kita berdua yang mau." Ia tersenyum kecil. "Aku nggak nyesel. Udah empat tahun, Den. Empat tahun aku lupa rasanya dipeluk."

Hujan mulai reda. Kami berpakaian kembali. Ia merapikan dasternya, mengcepollagi rambutnya. Aku merapikan kaosku. Tidak ada kecanggungan, hanya kehangatan yang manis.

Sebelum aku pulang, ia membungkuskan nasi dan lauk untukku. Seperti biasa. Tapi kali ini ada yang beda. Waktu menyerahkan bungkusan itu, ia mencium pipiku sekilas.

"Besok mampir ya," bisiknya.

"Besok, lusa, tiap hari."

Sejak sore itu, ritual makanku berubah. Bukan cuma makan siang jam setengah dua belas. Tapi kadang sore juga, kalau hujan turun atau kalau warteg sepi. Mbak Yuni selalu menyisihkan waktu untukku. Pintu rolling door ditutup sebagian. Lampu diredupkan.

Para driver ojol tidak pernah tahu. Mereka cuma tahu Warteg Barokah makanannya enak, porsinya banyak, Mbak Yuni ramah.

Mereka tidak tahu, senyum Mbak Yuni sekarang ada alasannya.

Dan setiap kali aku datang, ia selalu menyambutku dengan kalimat yang sama.

"Nasi setengah, ayam dada, tempe orek, sayur asem kuahnya banyakin?"

Aku selalu menjawab sama.

"Hafal di luar kepala ya, Mbak."

Ia tertawa. Tapi matanya berkata lain. Matanya berkata, nanti sore mampir ya.

Dan aku selalu mampir.

Kadang aku mikir, hidup ini lucu. Aku cuma tukang ojek yang cari makan siang murah. Tidak pernah mimpi macam-macam. Tapi ternyata, di antara uap nasi dan bau sambal terasi, ada perempuan yang diam-diam menunggu kedatanganku setiap hari.

Bukan karena aku istimewa. Tapi karena aku datang. Setiap hari. Dan kadang, itu sudah cukup.

bagikan