CERITA DEWASA

Istri Tukang Ojek Pangkalan

Deru motor memecah udara pagi yang masih lembap. Di sudut jalan, di bawah pohon trembesi besar, belasan motor berjejer rapi. Helm-helm digantung di spion. Para pengemudi berjaket oranye duduk di bangku kayu panjang, sebagian menyeruput kopi, sebagian mengisap rokok sambil menunggu penumpang. Itulah pangkalan ojek tempat Bagus selalu memulai harinya.

Sudah hampir tiga tahun Bagus, karyawan perusahaan distribusi berusia 33 tahun, menjadi pelanggan tetap di sana. Ia malas menembus macet pagi dengan motornya sendiri. Dari sekian banyak tukang ojek di pangkalan itu, ia selalu mencari satu orang. Pak Darto.

Pak Darto berusia 47 tahun, badannya kurus tapi kuat, kulitnya legam terbakar matahari. Ia sudah belasan tahun mangkal di situ dan dikenal paling sopan. Helm cadangan selalu ia bersihkan tiap pagi, dan ia tahu jalan-jalan tikus yang memangkas waktu tempuh ke kantor sampai dua puluh menit.

Pagi itu seperti biasa. Bagus turun dari angkot kecil di ujung jalan, berjalan ke pangkalan sambil menguap. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Ia melambaikan tangan ke arah Pak Darto yang sedang duduk sambil mengelap helm.

"Pagi, Pak. Jalan seperti biasa ya."

"Pagi, Mas Bagus. Siap," jawab Pak Darto sambil berdiri dan menyerahkan helm.

Namun sebelum mereka berangkat, seorang perempuan muncul dari warung kecil di sisi pangkalan. Ia membawa dua gelas kopi panas dan meletakkannya di meja kayu.

"Pak, kopinya. Sama gorengan baru mateng nih," katanya dengan senyum.

Itulah Bu Parmi. Istri Pak Darto. Usianya 34 tahun. Wajahnya manis dengan lesung pipit di pipi kanan, rambut panjang selalu diikat rapi. Ia membuka warung kopi kecil di pangkalan itu, menjual kopi, teh, gorengan, dan mie instan untuk para tukang ojek dan penumpang yang menunggu.

Bagus sudah sering melihat Bu Parmi, tapi selama ini hanya sekadar menyapa. Pagi itu, entah kenapa, ia memperhatikannya lebih lama. Cara Bu Parmi tersenyum. Cara ia menepuk bahu suaminya dengan akrab sebelum kembali ke warungnya.

Di atas motor, menerobos jalanan pagi, Bagus mendapati pikirannya melayang ke warung kecil itu. Ia menggelengkan kepala sendiri. Bu Parmi itu istri orang. Istri Pak Darto yang baik hati.

Hari-hari berikutnya berjalan normal. Bagus naik ojek Pak Darto hampir tiap pagi. Kadang ia mampir ke warung Bu Parmi untuk membeli kopi dan gorengan sebelum berangkat. Bu Parmi selalu ramah. Ia hafal pesanan Bagus. Kopi hitam tanpa gula, tiga gorengan tempe.

"Mas Bagus ini pelangganku yang paling gampang dihafal," kata Bu Parmi suatu pagi sambil membungkus gorengan. "Yang lain pesennya ganti-ganti terus."

"Soalnya lidahku setia, Mbak," canda Bagus.

Bu Parmi tertawa, lesung pipitnya muncul. "Panggil Bu Parmi aja. Mbak kesannya aku masih muda."

"Ya memang masih muda," sahut Bagus cepat, lalu langsung menyesal. Wajahnya memanas.

Bu Parmi hanya tersenyum tipis dan kembali ke kompornya.

Sejak hari itu, ada yang berubah. Bu Parmi mulai mengajak Bagus mengobrol lebih lama. Ia bertanya soal kerjaan Bagus, soal keluarganya. Bagus meladeni dengan senang. Ia tahu Bu Parmi kesepian di warungnya yang sepi di antara jam-jam sibuk.

Suatu pagi, Pak Darto tidak ada di pangkalan. Bagus bertanya ke salah satu ojek lain.

"Pak Darto narik jauh, Mas. Ke luar kota. Katanya ada borongan," jawab tukang ojek itu.

Bagus naik ojek orang lain hari itu. Tapi ia sempat mampir ke warung Bu Parmi. Perempuan itu tampak lesu, duduk sendirian menatap jalanan.

"Sepi ya, Bu?" sapa Bagus.

Bu Parmi mendongak dan tersenyum. "Iya. Bapak lagi narik jauh. Katanya dua hari baru pulang. Warung jadi sepi, nggak ada yang nemenin ngobrol."

Bagus duduk di bangku warung dan memesan kopi seperti biasa. Bu Parmi bercerita bahwa Pak Darto akhir-akhir ini sering mengambil orderan jauh. Penghasilannya memang lebih besar, tapi ia jadi jarang di rumah.

"Kalau pulang, Bapak langsung tidur, Mas. Capek katanya," kata Bu Parmi sambil mengaduk kopinya sendiri. "Kadang aku ngerasa kayak janda padahal punya suami."

Bagus tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk dan mendengarkan. Ada kesedihan yang tulus di suara perempuan itu. Bukan rayuan, bukan keluhan manja. Hanya kejujuran seorang istri yang merasa diabaikan.

"Maaf ya, Mas. Aku malah curhat," kata Bu Parmi sambil tertawa kecil yang dipaksakan.

"Nggak apa-apa, Bu. Namanya juga manusia, butuh didengerin," jawab Bagus.

Sejak percakapan itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Bagus mulai datang sedikit lebih pagi ke pangkalan, bukan untuk berangkat lebih awal, tapi untuk ngobrol dengan Bu Parmi. Ia tahu itu berbahaya, tapi ada sesuatu tentang perempuan itu yang menariknya. Kehangatannya. Kesepiannya yang mirip dengan kesepiannya sendiri.

Ya, Bagus pun kesepian. Ia sudah tiga tahun melajang setelah hubungannya dengan mantan pacarnya kandas. Ia tinggal sendiri di sebuah kontrakan kecil dan paham betul rasanya punya rumah tapi tidak punya tempat pulang yang hangat.

Suatu siang di hari Sabtu, Bagus tidak masuk kerja. Kakinya membawanya ke arah pangkalan ojek. Siang itu pangkalan sepi dan warung Bu Parmi pun sepi.

Bu Parmi tampak kaget melihat Bagus.

"Lho, Mas Bagus. Kok siang-siang ke sini? Nggak kerja?"

"Hari ini libur, Bu. Lagi jalan-jalan, eh kakiku nyasar ke sini," jawab Bagus sambil tertawa.

"Duduk sini. Tak buatin kopi," kata Bu Parmi.

Bagus duduk. Warung itu terasa berbeda di siang hari. Lebih tenang. Bu Parmi duduk di hadapannya setelah menyajikan kopi. Mereka mengobrol lebih lama dan lebih dalam dari biasanya.

Bu Parmi bercerita tentang masa mudanya. Ia menikah dengan Pak Darto di usia 22 tahun. Mereka bahagia, tapi waktu mengubah segalanya. Anak mereka satu-satunya meninggal saat masih bayi karena sakit, dan sejak itu ada jarak yang tidak pernah benar-benar tertutup di antara mereka.

Bagus mendengarkan dengan dada sesak. Ia tidak menyangka perempuan yang selalu tersenyum itu menyimpan luka sedalam itu.

"Maaf, Bu. Aku nggak tahu," kata Bagus pelan.

"Sudah lama, Mas. Lukanya sudah kering, tapi bekasnya masih ada," jawab Bu Parmi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum. "Bapak itu orang baik. Cuma kadang aku kangen diperhatikan. Kangen ditanya, kamu capek nggak hari ini."

Tanpa sadar, tangan Bagus bergerak menutupi tangan Bu Parmi yang ada di atas meja. Sentuhan itu sederhana, hanya telapak tangan di atas punggung tangan. Tapi keduanya terdiam.

Bu Parmi tidak menarik tangannya. Ia menatap Bagus. Ada sesuatu di matanya. Rasa terima kasih. Rasa lega karena akhirnya ada yang mendengarkan. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantung Bagus berdebar kencang.

"Mas," bisik Bu Parmi.

"Iya, Bu."

"Terima kasih sudah mau dengerin aku."

Bagus mengangguk. Ia ingin menarik tangannya, tapi ia tidak bisa. Atau lebih tepatnya, ia tidak mau.

Warung itu sepi. Tukang ojek yang tadi duduk di sudut sudah pergi entah kapan. Jalanan di depan pun lengang karena jam makan siang. Hanya mereka berdua, dengan dua gelas kopi yang sudah dingin dan suara kipas angin tua yang berderit.

Bu Parmi berdiri perlahan. Ia berjalan ke pintu warung dan menutupnya setengah, lalu membalikkan papan kecil bertuliskan tutup sebentar. Jantung Bagus berdegup semakin kencang. Ia tahu apa yang sedang terjadi, dan ia tahu ia seharusnya pergi. Tapi kakinya tidak bergerak.

Bu Parmi kembali duduk, kali ini di samping Bagus, bukan di hadapannya. Jarak mereka tinggal sejengkal. Bagus bisa mencium aroma minyak goreng dan sabun yang menempel di tubuh perempuan itu. Aroma yang anehnya menenangkan.

"Aku tahu ini salah, Mas," bisik Bu Parmi. "Tapi aku capek jadi perempuan yang nggak pernah disentuh dengan sayang."

Bagus menatapnya. "Bu, aku nggak mau manfaatin keadaan."

"Aku yang minta, Mas. Bukan kamu yang maksa," jawab Bu Parmi. Tangannya kini menggenggam tangan Bagus dengan erat. "Sekali ini aja. Biar aku ngerasa hidup lagi."

Bagus tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan merangkul bahu Bu Parmi dan menariknya mendekat. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada Bagus dan menghela napas panjang, seperti orang yang akhirnya bisa bernapas lega setelah lama menahan.

Mereka duduk begitu beberapa saat. Lalu Bu Parmi mendongak. Wajah mereka berdekatan.

Ciuman pertama itu lembut dan ragu. Seperti dua orang yang sama-sama takut tapi sama-sama tidak bisa berhenti. Lalu keraguan itu luruh, digantikan oleh rindu yang terlalu lama dipendam.

Bu Parmi menuntun Bagus ke ruang kecil di belakang warung. Hanya ada dipan kayu, lemari kecil, dan kipas angin. Di sanalah, di siang yang sepi itu, dua orang yang sama-sama kesepian menemukan kehangatan yang selama ini mereka cari.

Tidak ada paksaan. Tidak ada tipu daya. Hanya dua orang dewasa yang saling membutuhkan. Bu Parmi menangis pelan di tengah kehangatan itu, bukan karena sedih, tapi karena lega. Bagus memeluknya erat sampai ia tenang.

Setelah semuanya reda, mereka berbaring berdampingan dalam diam yang nyaman. Bu Parmi menggambar pola tidak jelas di dada Bagus dengan jarinya.

"Mas nyesel?" tanya Bu Parmi pelan.

Bagus menggeleng. "Nggak. Kamu?"

Bu Parmi tersenyum tipis. "Nggak juga. Aneh ya. Harusnya aku ngerasa bersalah."

"Mungkin karena kita nggak nyakitin siapa-siapa dengan sengaja," kata Bagus. "Kita cuma dua orang yang kebetulan butuh satu sama lain."

Mereka berjanji tidak akan mengulangi. Tapi janji tinggal janji. Dalam minggu-minggu berikutnya, setiap ada kesempatan di siang yang sepi, mereka kembali bertemu di ruang kecil belakang warung itu. Bukan karena nafsu semata, tapi karena di sana mereka menemukan perhatian dan kelembutan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain.

Bagus tetap naik ojek Pak Darto tiap pagi. Tidak ada yang berubah di permukaan. Namun di dalam hati Bagus, ada rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Setiap kali Pak Darto tertawa dan menepuk bahunya, Bagus merasa seperti pengkhianat.

Sampai suatu hari, Bu Parmi mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya.

"Mas, aku mau jujur sama Bapak," kata Bu Parmi suatu siang. Wajahnya serius.

Bagus terkejut. "Jujur soal apa, Bu?"

"Soal kita. Aku nggak tahan bohong terus. Bapak orang baik, dia pantas tahu yang sebenarnya. Biar dia yang mutusin. Kalau dia mau cerai, aku terima," jawab Bu Parmi dengan suara mantap.

Bagus terdiam lama. Ia tidak menyangka Bu Parmi seberani itu. Tapi ia juga tahu perempuan itu benar. Kebohongan tidak bisa bertahan selamanya.

"Kamu yakin?" tanya Bagus.

Bu Parmi mengangguk. "Aku sayang sama Bapak, Mas. Justru karena sayang, aku nggak mau terus-terusan ngkhianatin dia di belakang. Dan aku juga sayang sama kamu. Aku nggak tahu ini akan berakhir kayak apa, tapi aku nggak mau hidup dalam bohong lagi."

Malam itu Bagus tidak bisa tidur. Apapun yang terjadi, ia tahu ia harus bertanggung jawab.

Keesokan harinya, Bu Parmi tidak ada di warung. Yang menjaga adalah seorang perempuan paruh baya, saudara Bu Parmi. Bagus bertanya, dan perempuan itu bilang Bu Parmi sedang tidak enak badan.

Tiga hari Bu Parmi tidak muncul. Bagus gelisah. Ia naik ojek Pak Darto seperti biasa, tapi suasananya aneh. Pak Darto lebih pendiam dari biasanya. Matanya sembab seperti kurang tidur.

Pada hari keempat, saat mereka sampai di depan kantor Bagus, Pak Darto mematikan motor dan menatapnya lama.

"Mas Bagus," katanya dengan suara serak. "Parmi cerita semuanya ke saya."

Darah Bagus serasa berhenti mengalir.

"Pak, saya..."

Pak Darto mengangkat tangan. "Saya nggak mau denger penjelasan. Saya cuma mau bilang satu hal."

Bagus menunduk, siap menerima makian atau pukulan.

"Terima kasih," kata Pak Darto.

"Parmi bilang, selama ini dia ngerasa sendirian. Dia bilang saya sibuk kerja sampai lupa kalau dia butuh ditemenin. Dia nggak salah, Mas. Saya memang salah," lanjut Pak Darto. "Saya marah, tentu saya marah. Tapi saya lebih marah sama diri saya sendiri."

"Saya nggak akan lapor polisi atau bikin ribut, Mas. Saya cuma minta satu hal. Jangan temuin Parmi lagi. Biar saya yang benerin rumah tangga saya. Kasih saya kesempatan," kata Pak Darto.

Bagus mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Iya, Pak. Saya janji."

Pak Darto menyalakan motornya dan pergi tanpa menoleh. Bagus berdiri lama di depan kantornya, merasa seperti orang paling hina di dunia, tapi juga lega karena Pak Darto memilih jalan yang bijak.

Sejak hari itu, Bagus tidak pernah lagi naik ojek di pangkalan itu. Ia membeli motor baru dan berangkat kerja sendiri. Kadang ia rindu pada obrolan mereka, pada tawa dengan lesung pipit itu. Tapi ia tahu, yang terbaik adalah membiarkan mereka berdua memperbaiki apa yang sempat retak.

Setahun kemudian, Bagus tidak sengaja lewat di depan pangkalan ojek itu. Di bangku kayu warung, Pak Darto duduk di samping istrinya. Mereka tertawa bersama. Pak Darto merangkul bahu Bu Parmi dengan mesra, dan Bu Parmi bersandar dengan nyaman.

Bagus tersenyum dan melanjutkan perjalanannya. Dari kesalahan itu, ada sesuatu yang baik yang tumbuh. Sebuah rumah tangga yang kembali hangat. Dan Bagus belajar satu hal penting. Kehangatan yang dicuri tidak akan pernah bertahan lama. Kehangatan yang sejati harus dibangun dengan kejujuran, meski kejujuran itu menyakitkan.

bagikan