Namaku Raka, dua puluh sembilan tahun, staf marketing di sebuah perusahaan distributor alat berat di daerah Cakung. Pekerjaan biasa, gaji biasa, hidup biasa. Tidak ada yang istimewa sampai malam itu.
Sore itu manajerku, Pak Hendra, memanggilku ke ruangannya jam setengah lima. Mukanya tegang.
"Raka, proposal tender buat PT Nusantara besok pagi jam delapan harus sudah di meja direksi. Berkasnya masih berantakan. Kamu lembur ya malam ini, beresin."
Aku mengangguk pasrah. Tender itu nilainya belasan miliar. Kalau menang, bonus akhir tahun lumayan. Kalau gagal, ya sudah, bukan salahku juga.
"Sendirian, Pak?" tanyaku.
"Enggak. Wulan juga lembur. Dia yang pegang data teknisnya."
Wulan. Tiga puluh satu tahun, staf senior di divisi teknik. Sudah menikah lima tahun, belum punya anak. Di kantor ia terkenal teliti dan galak kalau soal kerjaan. Tapi kalau lagi santai, ia asyik diajak ngobrol. Rambutnya sebahu, sering diikat asal. Badannya tinggi semampai, dan ia selalu wangi parfum vanilla yang khas.
Aku tidak pernah punya pikiran aneh soal Wulan. Ia senior, ia istri orang, dan ia galak. Tapi bohong kalau aku bilang aku tidak pernah memperhatikannya.
Jam tujuh malam kantor sudah sepi. Lampu lorong dimatikan sebagian. Hanya ruangan kami di lantai tiga yang masih terang. Aku dan Wulan duduk berhadapan, masing-masing dengan laptop, dikelilingi tumpukan print out dan dua gelas kopi yang sudah dingin.
"Data spek excavator yang baru mana?" tanya Wulan tanpa menoleh.
"Di email, Mbak. Aku forward tadi sore."
"Panggil Wulan aja. Kalau lagi lembur gini manggil Mbak berasa tua."
Aku tertawa. "Siap, Wulan."
Kami bekerja dalam diam hampir satu jam. Hanya suara ketikan keyboard dan deru AC. Proposal itu tebalnya hampir delapan puluh halaman. Bagianku narasi dan strategi harga. Bagiannya data teknis dan jadwal pengiriman.
Jam sembilan, perutku bunyi.
"Lapar," kataku.
Wulan menutup laptopnya. "Pesen makan yuk. Aku juga lapar. Martabak mau?"
"Boleh."
Ia memesan martabak telur dan martabak manis lewat aplikasi. Sambil menunggu, kami istirahat. Wulan meregangkan badan, memutar lehernya yang pegal.
"Kamu udah lama di sini?" tanyanya.
"Tiga tahun. Wulan?"
"Enam tahun. Dari masih jadi anak baru yang disuruh-suruh."
"Kok betah?"
Ia tersenyum tipis. "Gaji lumayan, kerjaan jelas. Lagian suamiku juga sibuk, di rumah sendirian juga bosen."
"Suami kerja apa?"
"Pilot. Terbang terus. Seminggu di rumah paling dua hari." Ia menatap jendela yang gelap. "Kadang aku ngerasa kayak janda padahal masih punya suami."
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku diam saja.
"Maaf, curhat," katanya sambil tertawa kecil.
"Nggak apa-apa."
Martabak datang setengah jam kemudian. Kami makan di meja kerja, beralaskan kertas koran. Martabak telurnya gurih, martabak manisnya legit. Untuk sesaat kami lupa soal tender.
"Kamu pacaran sama siapa sekarang?" tanya Wulan tiba-tiba.
Aku hampir tersedak. "Hah?"
"Ya ampun, santai. Kepo aja. Anak muda ganteng masa nggak punya pacar."
"Baru putus tiga bulan lalu."
"Kenapa?"
"Dia mau nikah cepat. Aku belum siap."
Wulan mengangguk-angguk. "Cowok memang gitu. Cewek umur dua puluh lima ke atas otaknya udah bunyi tik tok tik tok."
Kami tertawa. Suasana jadi cair. Wulan ternyata lucu kalau sudah santai. Galaknya hilang, yang ada malah ceplas-ceplos.
Setelah makan kami kembali kerja. Tapi entah kenapa, sejak obrolan itu, aku jadi lebih sering meliriknya. Cara ia menggigit bibir bawah waktu mikir. Cara ia menyibakkan rambut yang jatuh ke wajahnya. Parfum vanillanya yang makin terasa karena kami duduk berdekatan.
Jam sebelas lewat, proposal selesai. Delapan puluh tiga halaman, rapi, lengkap dengan lampiran. Kami saling berpandangan, lalu tertawa lega.
"Akhirnya!" seru Wulan sambil mengangkat kedua tangannya.
"Gila, kita hebat," kataku.
Wulan membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. Whisky mini, ukuran saku.
"Tadi aku beli di minimarket sekalian pesen martabak. Buat rayain."
Aku melongo. "Di kantor?"
"Udah jam sebelas malem, Raka. Satpam juga udah tidur kayaknya. Santai."
Ia menuang ke dua gelas plastik bekas kopi. Kami bersulang.
"Buat tender Nusantara," katanya.
"Buat kita yang nggak pulang," tambahku.
Whisky itu hangat di tenggorokan. Kami minum pelan-pelan sambil ngobrol. Soal kerjaan, soal atasan yang nyebelin, soal mimpi yang belum kesampaian. Wulan cerita ia dulu pengen jadi arsitek, tapi orang tuanya maksa masuk teknik mesin karena prospeknya bagus.
"Kamu nyesel?" tanyaku.
"Kadang. Tapi ya udahlah. Hidup nggak selalu sesuai rencana."
"Kalau bisa ngulang, mau jadi apa?"
"Arsitek. Bikin rumah-rumah kecil yang anget. Yang jendelanya gede biar cahaya masuk." Ia tersenyum, menerawang. "Kamu? Dulu pengen jadi apa?"
"Musisi. Main gitar di kafe-kafe."
"Terus?"
"Terus sadar kalau makan dari musik itu susah. Jadi ya ini, jualan alat berat." Kami tertawa bersama. Ada kelegaan aneh bisa jujur soal mimpi yang gagal, di tengah malam, di kantor yang sepi, dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu kukenal.
Gelas kedua. Pipinya mulai memerah. Tawanya makin lepas.
"Raka," katanya tiba-tiba, menatapku lurus. "Kamu tahu nggak, udah lama banget aku nggak ngobrol seenak ini sama orang."
"Masa sama suami nggak?"
"Suamiku kalau di rumah main HP terus. Ngobrol paling soal tagihan." Ia memutar gelasnya. "Aku kangen didengerin."
Ada sesuatu di tatapannya yang membuat dadaku sesak. Bukan tatapan senior ke junior. Bukan tatapan istri orang yang jaga jarak. Tapi tatapan perempuan yang kesepian dan akhirnya berani jujur.
Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya yang ada di meja. Ia tidak menariknya.
"Wulan..."
"Jangan ngomong," bisiknya. "Aku tahu ini gila. Tapi aku nggak mau mikir malam ini."
Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menarikku ke ruang meeting kecil di sebelah ruangan kami. Ruangan itu gelap, hanya cahaya dari lorong yang masuk lewat jendela kaca.
Ia mengunci pintu. Klik. Suara itu terdengar keras di keheningan.
Kami berdiri berhadapan dalam temaram. Napasnya tercium whisky dan vanilla. Aku bisa merasakan jantungku berdegup sampai ke telinga.
"Terakhir kapan?" bisiknya.
"Apa?"
"Terakhir kamu sama perempuan."
"Tiga bulan lalu. Sebelum putus."
Ia mengangguk pelan. "Aku... delapan bulan."
Aku tertegun. Delapan bulan. Suaminya pilot yang jarang pulang.
"Kasihan ya aku," katanya sambil tertawa pahit.
"Nggak. Kamu cuma manusia."
Aku mendekat dan menciumnya. Awalnya ia kaku, seperti lupa caranya. Tapi kemudian ia luluh. Bibirnya terbuka, menyambutku. Tangannya mencengkeram kemejaku.
Ciuman itu dalam dan putus asa. Seperti dua orang kehausan yang menemukan air di tengah gurun. Lidahnya pandai, berpengalaman, membuat lututku lemas.
Tanganku merayap ke pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya di balik blus kerja. Ia mendesah di mulutku. Suara itu membuat darahku berdesir.
Blusnya kubuka satu per satu kancingnya. Ia memakai bra hitam berenda. Dadanya yang selama ini tersembunyi di balik pakaian kerja yang kaku ternyata indah. Penuh, kencang, ranum.
"Wulan, kamu cantik banget," bisikku.
"Diam. Jangan bikin aku mikir."
Ia menarik dasiku, melepaskannya, lalu mulai membuka kancing kemejaku. Tangannya sedikit gemetar, tapi gerakannya mantap. Seperti ia sudah memutuskan dan tidak akan mundur.
Kami saling menanggalkan pakaian di ruang meeting yang gelap itu. Kemeja, blus, celana bahan, rok span. Tersisa pakaian dalam saja. Ia menatapku, aku menatapnya. Dalam cahaya redup dari lorong, tubuhnya terlihat seperti patung. Kulitnya mulus, perutnya rata, kakinya jenjang.
Aku mengangkatnya dan mendudukkannya di meja meeting yang panjang. Ia terkesiap, lalu tertawa kecil.
"Meja meeting," bisiknya. "Besok dipakai rapat direksi."
"Besok urusan besok."
Aku berlutut di depannya dan menciumi pahanya yang mulus. Naik perlahan. Ia bersandar dengan kedua tangan di meja, kepalanya mendongak, mendesah panjang.
Waktu mulutku menemukannya, ia menjerit tertahan dan menjambak rambutku. Tubuhnya melengkung. Aku tidak berhenti sampai kakinya gemetar dan ia memohon dengan suara serak.
Lalu aku berdiri, melepaskan sisa pakaianku. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena gairah yang meluap.
"Raka..."
Aku mendekat. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Kukunya menancap di punggungku.
Kami bercinta di atas meja meeting itu dengan ganas dan putus asa. Tidak ada kelembutan basa-basi. Hanya dua orang dewasa yang sudah terlalu lama menahan diri dan akhirnya meledak.
Meja bergoyang. Beberapa map jatuh ke lantai. Kami tidak peduli.
"Jangan berhenti," desahnya. "Jangan pernah berhenti."
Aku mempercepat gerakanku. Ia mengimbangi dengan pinggulnya. Keringat membasahi tubuh kami. Napas kami memburu, bercampur dalam udara yang pengap.
Ia mencapai puncaknya dengan teriakan yang ia tahan dengan menggigit bahuku. Tubuhnya bergetar hebat di pelukanku. Melihatnya seperti itu, merasakan kehangatannya mencengkeramku, aku menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan tertahan.
Kami terdiam cukup lama, masih menyatu, masih terengah-engah. Kepalanya bersandar di dadaku. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Gila," bisiknya akhirnya.
"Gila yang enak."
Ia tertawa kecil, lalu mengangkat wajahnya menatapku. "Ini rahasia kita. Selamanya."
"Selamanya."
Kami berpakaian kembali dengan cepat. Merapikan meja meeting, memungut map yang jatuh, memastikan tidak ada jejak. Proposal tender kami print dan taruh di meja Pak Hendra sesuai instruksi.
Jam satu dini hari kami keluar kantor bersama. Satpam sudah tidur di posnya. Jalanan sepi.
Di parkiran, sebelum masuk mobil masing-masing, ia mencium pipiku.
"Makasih, Raka. Untuk malam ini. Untuk dengerin aku."
"Sama-sama, Wulan."
Ia masuk mobilnya dan pergi. Aku berdiri di parkiran yang sepi, masih bisa mencium parfum vanillanya di bajuku.
Besok paginya tender Nusantara masuk tepat waktu. Tiga minggu kemudian kami menang. Bonus akhir tahun cair, lumayan besar.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam itu di ruang meeting lantai tiga. Tidak akan pernah ada yang tahu.
Tapi setiap kali aku lewat depan ruang meeting itu, aku tersenyum sendiri. Dan setiap kali Wulan memarahiku soal kerjaan dengan galaknya yang khas, aku tahu ada rahasia di balik matanya yang hanya aku yang mengerti.
Kadang lembur memang membawa berkah. Kadang berkahnya tidak ada di slip gaji.
