CERITA DEWASA

Mbak Salon Langganan

Kres. Kres. Kres. Bunyi gunting beradu ritmis di dekat telinga. Di cermin di depan, pantulan wajahku terlihat santai, mata setengah terpejam menikmati. Handuk hangat melingkar di leher, uap tipisnya naik dan menghangatkan dagu.

"Sampingnya mau ditipisin lagi, Mas?" suara itu lembut, dekat sekali di telinga kananku.

"Ya, Mbak. Kayak biasa."

Jari-jarinya yang lentik menyisir rambutku, memilah, lalu gunting itu kembali bekerja. Sudah hampir dua tahun aku potong rambut di salon "Cantik", ruko kecil di pinggir jalan dekat kantorku. Dan sudah hampir dua tahun pula aku tidak pernah kepikiran pindah ke barbershop mana pun.

Pemiliknya Mbak Lina. Umurnya tiga puluh empat, setahun lebih tua dariku. Janda. Suaminya meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung, katanya. Sejak itu ia menghidupi dirinya dan ibunya yang sudah sepuh dari salon ini.

Mbak Lina itu cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat. Kulitnya bersih, wajahnya oval, matanya besar dan selalu tersenyum. Rambutnya panjang, hitam berkilau, contoh hidup dari keahliannya sendiri. Badannya ramping tapi berisi, dan kalau ia membungkuk untuk menggunting bagian bawah, blus kerjanya yang longgar kadang memperlihatkan lebih dari yang seharusnya.

Aku tidak pernah protes soal itu.

Aku, Irfan, tiga puluh tiga tahun, karyawan di perusahaan logistik. Hidupku datar-datar saja. Kerja, pulang, main HP, tidur. Pacar tidak punya sejak putus dua tahun lalu. Satu-satunya kemewahan rutinku adalah potong rambut sebulan sekali di salon Mbak Lina, plus pijat kepalanya yang legendaris.

Ya, pijat kepala. Setiap selesai potong, Mbak Lina selalu memijat kepalaku. Bukan pijat asal-asalan. Tangannya terampil, tekanannya pas. Ia memijat pelipis, tengkuk, pundak, kadang sampai punggung atas. Sepuluh menit yang selalu terasa kurang.

"Enak ya dipijat Mbak Lina," kata pelanggannya yang lain suatu kali.

"Enak banget," jawabku jujur.

Bulan lalu ada kejadian yang bikin aku makin betah. Waktu itu aku datang dan salon sedang ramai. Aku harus antre hampir satu jam. Mbak Lina yang melihatku menunggu terus menyodorkan teh manis hangat.

"Maaf ya, Mas, antre," katanya.

"Santai, Mbak."

Waktu giliranku tiba, ia memijat kepalaku lebih lama dari biasanya. "Bonus antre," bisiknya sambil tersenyum. "Jangan bilang-bilang pelanggan lain."

Tangannya hari itu terasa berbeda. Lebih pelan, lebih lama di tengkukku. Waktu ia membungkuk, rambut panjangnya menyentuh pipiku. Wangi sampo melati memenuhi hidungku. Aku pulang hari itu dengan perasaan aneh, seperti ada yang menggelitik di dada.

Sejak itu aku mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara ia selalu mengingat model potonganku tanpa perlu ditanya. Cara ia menyisihkan jadwal kalau aku bilang mau datang mepet tutup. Cara matanya berbinar tiap aku masuk pintu.

Dan aku tahu, aku bukan satu-satunya yang merasakan sesuatu. Cara ia menatapku di cermin waktu memijat, lebih lama dari seharusnya, bilang semuanya.

Hari itu hari Jumat sore. Aku datang jam setengah enam, mepet tutup. Salon sudah sepi. Kursi-kursi kosong. Hanya ada Mbak Lina yang sedang menyapu rambut-rambut bekas potongan.

"Mas Irfan! Kirain nggak jadi bulan ini," sapanya ceria.

"Telat dikit, Mbak. Kerjaan numpuk."

"Duduk. Pelanggan terakhir, spesial." Ia tertawa dan mengalungkan handuk hangat ke leherku.

Ritual dimulai. Gunting, sisir, semprotan air. Kami ngobrol seperti biasa. Soal kerjaanku yang makin gila, soal harga sewa ruko yang naik, soal ibunya yang kakinya mulai sakit-sakitan.

"Mbak nggak capek sendirian ngurus salon?" tanyaku.

"Capek sih. Tapi mau gimana lagi. Ini satu-satunya yang aku bisa." Ia memotong dengan teliti. "Kadang malam kepikiran. Umur udah tiga puluh empat, salon gini-gini aja, sendirian terus."

"Belum kepikiran nikah lagi?"

Ia tertawa kecil. "Siapa yang mau sama janda tukang potong rambut."

"Banyak kali yang mau. Mbak cantik."

Tangannya berhenti sejenak. Di cermin, mata kami bertemu. Ia tersenyum, tapi ada sesuatu di senyum itu. Malu, senang, dan sedikit sedih bercampur.

"Mas Irfan bisa aja."

Potongan selesai. Seperti biasa, ia beralih ke belakang kursiku untuk sesi pijat. Tangannya yang hangat mulai bekerja di kepalaku. Ibu jari menekan pelipis dengan gerakan melingkar. Jari-jari lain mengurut kulit kepala. Aku mendesah pelan.

"Tekanannya enak ya?" bisiknya.

"Selalu."

Tangannya turun ke tengkuk, meremas otot-otot yang kaku. Lalu ke pundak. Ia membungkuk sedikit agar bisa menjangkau, dan dadanya yang empuk menempel ringan di belakang kepalaku. Aku menahan napas. Ia sepertinya tidak sadar, atau pura-pura tidak sadar.

Pijatan berlanjut ke punggung atas. Tangannya menyusup ke balik kerah kaosku, menyentuh kulit langsung. Hangat. Lembut. Terampil.

"Mas Irfan tegang banget," katanya. "Banyak pikiran ya?"

"Banyak."

Tangannya berhenti di pundakku, tidak bergerak, hanya menempel. Aku bisa merasakan napasnya di dekat telingaku. Hangat, sedikit bergetar. Jantungku berdegup begitu kencang sampai aku yakin ia bisa mendengarnya.

"Mbak Lina juga," bisiknya tiba-tiba. "Tegang. Kesepian."

Aku membuka mata. Di cermin, ia menatap pantulanku. Wajahnya dekat sekali. Matanya tidak lagi tersenyum seperti biasa. Ada keberanian di sana, dan ada permohonan.

"Mbak..."

"Jangan panggil Mbak terus," katanya pelan. "Panggil Lina."

"Lina..."

Ia memutar kursiku hingga aku menghadapnya. Kami bertatapan. Salon yang sepi, lampu yang temaram, bau sampo dan tonik rambut memenuhi udara.

"Aku boleh jujur, Fan?" Ia pertama kali memanggilku Fan. "Udah lama aku nungguin kamu datang tiap bulan. Bukan cuma karena kamu pelanggan. Tapi karena..." Ia tidak melanjutkan.

"Aku juga," kataku jujur. "Aku juga nungguin."

Ia tersenyum, lalu perlahan mendekat dan menciumku. Bibirnya lembut, manis, ada rasa lip balm stroberi. Awalnya pelan, ragu, seperti takut aku menolak.

Aku tidak menolak. Aku malah meraih tengkuknya dengan lembut dan membalas ciumannya. Tanganku yang satu melingkar di pinggangnya yang ramping, menariknya merapat ke kursiku.

Ciuman itu makin dalam. Lidahnya menyambut lidahku. Tangannya menjambak rambutku yang baru dipotong, masih wangi sampo. Napasnya memburu.

Ia duduk di pangkuanku, mengangkangi kursi. Blus kerjanya yang longgar bergeser, memperlihatkan bahu dan sebagian dadanya yang putih mulus. Aku menciumi lehernya yang wangi, dan ia mendesah panjang, tangannya mencengkeram bahuku.

"Fan," desahnya. "Kunci pintunya."

Aku berdiri dengan ia masih di pelukanku, berjalan ke pintu kaca salon, dan memutar kuncinya. Klik. Tirai juga kututup. Dari luar, salon terlihat tutup seperti biasa.

Kami kembali ke dalam. Ia menuntunku ke ruang belakang, ruangan kecil tempat ia istirahat dan menyimpan peralatan. Ada sofa panjang, cermin kecil, dan dispenser.

Di sana, dalam cahaya lampu yang redup, ia mulai membuka blus kerjanya sendiri. Satu per satu kancingnya. Aku menatapnya tanpa berkedip, jantungku berdegup kencang.

Di balik blus itu ia memakai bra hitam berenda. Dadanya yang selama ini cuma bisa kuintip dari balik blus longgar, sekarang terpampang jelas. Penuh, kencang, ranum.

"Lina, kamu cantik banget," bisikku.

Ia tersipu, tapi tidak menutupi dirinya. Malah ia mendekat dan mulai melepas kaosku. Tangannya yang biasa terampil memegang gunting, sekarang terampil menjelajah dadaku.

Kami saling menanggalkan sisa pakaian dalam cahaya temaram itu. Rok kerjanya melorot ke lantai. Celanaku menyusul. Tinggal pakaian dalam saja, lalu itu pun dilepas.

Tubuhnya indah. Kulitnya putih bersih, mulus tanpa cela. Pinggangnya ramping, pinggulnya berisi. Ia berdiri di depanku dengan percaya diri, membiarkanku mengaguminya.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat dan lembut. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya, ke dadanya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Aku membaringkannya di sofa panjang. Ia menatapku dari bawah, rambut panjangnya tergerai di bantal sofa. Cantik sekali, seperti bidadari salon yang turun ke bumi.

Aku menciumi seluruh tubuhnya dengan pelan. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya menjambak rambutku. Kakinya bergerak gelisah.

Waktu tanganku menemukan tempat yang paling intim, ia sudah basah. Sangat basah. Ia mengangkat pinggulnya, tidak sabar.

Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.

Kami bergerak dengan ritme yang lambat dulu. Saling merasakan, saling menikmati. Setiap gerakan disambut erangan kecil darinya yang manis. Tangannya mengelus punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.

"Fan," bisiknya. "Jangan pelan-pelan."

Aku mempercepat gerakanku. Sofa berderit. Napas kami memburu. Bau sampo, keringat, dan gairah bercampur jadi satu.

Ia mendesah makin keras. Kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap gerakanku.

"Aku mau," katanya terputus-putus. "Aku mau sekarang."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Melihat dan merasakannya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama di sofa yang sempit itu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambut panjangnya yang indah.

"Maaf," bisiknya tiba-tiba.

"Untuk apa?"

"Aku yang mulai. Kamu pelanggan."

"Pelanggan yang mau," kataku sambil tersenyum. "Jangan minta maaf."

Ia tertawa kecil. "Iya juga ya."

Kami berpakaian kembali. Ia merapikan blus kerjanya, aku merapikan kaosku. Ia menyisir rambutku yang berantakan dengan jari-jarinya, lalu tersenyum puas.

"Potongannya bagus," katanya sambil mengedipkan mata.

"Potongan plus bonus."

Ia mencubit lenganku pelan. "Nakal."

Sebelum aku pulang, ia menulis sesuatu di nota salon seperti biasa. Tapi kali ini ada tambahan di bawah total harga.

"Minggu depan mampir lagi ya. Bukan buat potong. Buat pijat."

Aku melipat nota itu dan memasukkannya ke dompet. Harta karun.

Sejak malam itu, rutinku berubah. Bukan lagi sebulan sekali. Tapi seminggu sekali. Kadang dua kali.

Pelanggan lain tidak tahu. Mereka cuma tahu salon "Cantik" potongannya rapi dan pijatannya enak.

Mereka tidak tahu, ada pijatan lain yang cuma aku yang tahu. Pijatan yang tidak ada di daftar harga.

Dan Mbak Lina, eh, Lina, tidak pernah lagi bilang ia kesepian.

Kadang aku datang bukan karena rambutku gondrong. Kadang rambutku masih rapi, tapi kakiku melangkah sendiri ke ruko kecil itu. Ia selalu tahu. Ia selalu tersenyum dan berkata, "Duduk, Mas. Kayak biasa."

Dan aku duduk. Seperti biasa. Untuk hal yang luar biasa.

bagikan