CERITA DEWASA

Perjalanan Kereta Malam

Peluit panjang memecah udara malam Stasiun Pasar Senen tepat pukul setengah sebelas. Asap tipis mengepul dari sela gerbong, lampu peron yang kekuningan memantul di kaca jendela kereta yang mulai bergerak perlahan. Sena menyeret koper kabinnya menyusuri peron 3, matanya menyipit mencari nomor gerbong yang tertera di tiket ponselnya: Ekonomi 4, kursi 12C.

Napasnya memburu. Rapat dadakan di Surabaya besok pagi memaksanya mengambil kereta malam terakhir, dan ia nyaris ketinggalan karena macet di Tol Dalam Kota. Untung petugas masih membukakan pintu gerbong saat kereta mulai melaju pelan. Ia melompat naik, disambut tatapan datar kondektur yang memeriksa tiketnya sekilas lalu menunjuk deretan kursi ke arah belakang.

Gerbong itu nyaris kosong. Dari empat puluh kursi yang tersedia, mungkin hanya belasan yang terisi, sebagian besar penumpangnya sudah merebahkan sandaran dan memejamkan mata. Lampu gerbong diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa seperti lorong panjang yang sunyi. Sena menghela napas lega. Setidaknya ia bisa tidur nyenyak selama tujuh jam perjalanan.

Ia menemukan kursinya di dekat jendela, baris tengah. Saat hendak duduk, ia menyadari kursi di seberangnya, 12D, sudah terisi seorang perempuan. Perempuan itu menoleh, tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar ponselnya. Rambutnya yang sebahu tergerai rapi, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Di pangkuannya ada tas selempang kecil, dan di samping kakinya sebuah ransel.

"Permisi," kata Sena pelan sambil mengangkat kopernya ke rak bagasi di atas.

Perempuan itu mengangguk. "Silakan."

Sena duduk, meluruskan kaki yang pegal. Dari ekor matanya ia melihat perempuan itu mengenakan kaus longgar dan celana jeans, sederhana tapi terlihat menarik. Ada sesuatu yang tenang dari caranya duduk, tidak gelisah seperti kebanyakan penumpang kereta malam.

Kereta melaju semakin kencang, meninggalkan gemerlap Jakarta. Di luar jendela hanya kegelapan sesekali diselingi lampu-lampu rumah penduduk yang berkejaran mundur. Sena memejamkan mata, mencoba tidur, tapi pikirannya masih penuh dengan materi presentasi besok pagi. Ia membuka mata lagi dan meraih botol air mineral dari tasnya.

"Kamu juga ke Surabaya?" suara perempuan itu tiba-tiba terdengar.

Sena menoleh. Ia tersenyum. "Iya. Kamu?"

"Semarang. Turun di Tawang." Ia mengulurkan tangan. "Ratih."

"Sena." Ia menjabat tangan itu. Hangat dan lembut.

"Kerja apa sampai harus naik kereta malam begini?" tanya Ratih, nadanya santai.

"Marketing. Ada rapat dadakan besok pagi jam delapan. Bos saya hobi bikin kejutan," jawab Sena sambil terkekeh. "Kamu sendiri?"

"Wiraswasta. Jualan fashion online. Besok ada supplier di Semarang yang harus saya temui, katanya ada bahan baru." Ratih menyandarkan kepalanya ke jendela. "Umur berapa, kalau boleh tahu? Kayaknya kita seumuran."

"Tiga puluh dua," jawab Sena. "Kamu?"

"Tiga puluh. Pas." Ratih tertawa kecil.

Obrolan mengalir begitu saja, ringan dan tidak dipaksakan. Mereka bicara soal macet Jakarta, soal bisnis online yang makin ketat persaingannya, soal presentasi yang bikin Sena tidak bisa tidur. Ratih ternyata enak diajak bicara, cerdas dan punya selera humor yang pas. Sesekali tawa mereka pecah pelan, ditahan agar tidak membangunkan penumpang lain.

Sekitar pukul setengah satu dini hari, kereta melambat dan berhenti di sebuah stasiun kecil. Dari pengeras suara terdengar pengumuman: kereta akan berhenti cukup lama karena menunggu kereta lain lewat dari arah berlawanan. Beberapa penumpang turun untuk merokok atau membeli kopi di peron yang sepi.

Sena dan Ratih memilih tetap di kursi. Udara malam merembes masuk lewat celah pintu yang terbuka, membawa hawa dingin yang menusuk. Ratih merapatkan jaket tipisnya, menggosok kedua lengannya.

"Dingin ya," kata Sena.

"Banget. AC-nya juga kencang," keluh Ratih sambil meringkuk.

Tanpa pikir panjang Sena membuka ranselnya dan mengeluarkan hoodie cadangan yang selalu ia bawa. "Pakai ini dulu. Saya masih kuat."

Ratih menatapnya sejenak, lalu tersenyum lebar. "Serius? Kamu baik banget."

"Santai aja."

Ratih mengenakan hoodie itu. Kebesaran di tubuhnya, tapi ia terlihat nyaman. "Makasih, Sena. Wangi hoodie kamu enak," katanya sambil terkekeh.

Kereta masih diam di stasiun kecil itu. Dari jendela terlihat peron yang lengang, hanya ada seorang petugas dengan senter dan beberapa bangku kosong. Lampu stasiun yang redup membuat bayangan panjang di lantai peron. Suasana begitu sunyi sampai bunyi jangkrik pun terdengar jelas.

Ratih tiba-tiba berdiri dan pindah ke kursi tepat di samping Sena, kursi 12B yang kosong. "Boleh di sini? Di sana anginnya lebih kencang."

"Boleh banget," jawab Sena, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Kini jarak mereka hanya sejengkal. Sena bisa mencium aroma samar parfum Ratih, wangi vanilla yang lembut bercampur dengan wangi hoodie-nya sendiri yang dikenakan perempuan itu. Ada sesuatu yang intim dari situasi itu, hoodie-nya membungkus tubuh Ratih, seolah ada bagian dari dirinya yang memeluk perempuan itu.

"Kamu sudah nikah?" tanya Ratih tiba-tiba, menatap lurus ke depan.

"Belum. Masih sibuk kerja. Kamu?"

"Belum juga. Pernah hampir, tiga tahun lalu. Batal sebulan sebelum hari H." Ratih tertawa hambar. "Dia selingkuh sama rekan kerjanya sendiri."

"Wah, turut prihatin," kata Sena tulus.

"Sudah lama, sudah lewat. Malah sekarang saya bersyukur. Bayangin kalau jadi nikah sama orang begitu." Ratih menoleh, matanya menatap Sena dalam-dalam. "Kamu kelihatannya orang baik, Sena. Jarang ada cowok yang nawarin hoodie tanpa modus."

Sena tertawa. "Siapa bilang tanpa modus? Mungkin ini modus paling halus sedunia."

Mereka tertawa bersama, tapi tawa itu perlahan mereda menjadi keheningan yang hangat. Ratih tidak pindah kembali ke kursinya. Bahunya hampir menyentuh bahu Sena. Di luar, pengumuman terdengar lagi: kereta masih harus menunggu lima belas menit.

"Ngomong-ngomong," bisik Ratih, "kamu sadar nggak, gerbong ini makin sepi? Kayaknya separuh penumpang turun di stasiun tadi."

Sena menoleh ke belakang. Benar saja, barisan kursi di belakang mereka kosong melompong. Penumpang yang tersisa hanya beberapa orang di bagian depan, jauh dari mereka, dan semuanya tertidur. Lampu yang temaram membuat sudut tempat mereka duduk seperti dunia tersendiri.

Ratih menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu perlahan, kepalanya miring dan bersandar di bahu Sena. Tubuh Sena menegang sesaat, lalu ia rileks. Ia bisa merasakan napas Ratih yang hangat di lehernya.

"Capek," gumam Ratih pelan. "Boleh pinjam bahu sebentar?"

"Boleh. Sewanya gratis," bisik Sena.

Tangan Ratih bergerak, jemarinya menyentuh punggung tangan Sena yang bertumpu di sandaran tangan kursi. Sentuhan ringan itu seperti sengatan listrik kecil. Sena membalik tangannya, menggenggam jemari Ratih. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang menarik diri.

Mereka diam cukup lama dalam posisi itu, hanya mendengarkan deru AC dan sesekali bunyi logam dari rel. Lalu Ratih mengangkat wajahnya, menatap Sena dari jarak yang sangat dekat. Matanya berkilat dalam cahaya temaram.

"Sena," bisiknya, "kamu keberatan kalau aku bilang aku nyaman banget sama kamu malam ini?"

Sena menelan ludah. "Aku juga."

Ratih tersenyum, lalu dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya. Sena bisa merasakan napasnya yang hangat. Ia tidak mundur. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut dan hati-hati, seolah keduanya masih menakar. Tapi dalam hitungan detik, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih berani. Tangan Sena terangkat, menyentuh pipi Ratih, lalu melingkar di tengkuknya.

Tangan Ratih merambat naik ke dada Sena, jemarinya meremas kaus yang ia kenakan. Napas mereka memburu. Sena melirik ke depan memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu kembali tenggelam dalam ciuman itu. Dunia seakan menyempit hanya menjadi mereka berdua di sudut gerbong yang sunyi.

"Kita gila ya," bisik Ratih di sela ciuman, tapi ia justru tertawa kecil dan menarik kerah kaus Sena lebih dekat.

"Gila yang menyenangkan," balas Sena, suaranya serak.

Ratih melepas hoodie pinjaman itu dan meletakkannya sebagai alas di pangkuannya, lalu ia bergeser hingga setengah duduk menghadap Sena. Tangannya mulai menjelajah, menyusuri lengan Sena, naik ke bahunya, lalu turun lagi. Setiap sentuhannya membuat tubuh Sena menegang oleh hasrat yang makin sulit dikendalikan.

Sena membalas dengan mengelus punggung Ratih, merasakan lekuk tubuhnya lewat kaus tipis yang ia kenakan. Ratih mendesah pelan tepat di telinga Sena, suara yang membuat darahnya berdesir. Ia mencium leher Ratih, menghirup wangi vanilla itu dalam-dalam, lalu kembali ke bibirnya.

Dengan gerakan hati-hati, Ratih menuntun tangan Sena ke bawah kausnya. Kulitnya hangat dan halus. Sena mengelusnya perlahan, menikmati setiap inci, sementara Ratih menggigit bibir bawahnya menahan desahan. Tangan Ratih pun tidak tinggal diam, ia membuka kancing celana Sena dengan jemari yang sedikit gemetar tapi mantap.

Mereka bergerak dalam ritme yang pelan dan sinkron, sadar betul mereka harus tetap tenang agar tidak menarik perhatian. Setiap desahan ditahan, setiap gerakan dibuat seminimal mungkin, tapi justru keterbatasan itu membuat semuanya terasa jauh lebih intens. Keringat tipis membasahi dahi Sena meski udara dingin.

Ratih membungkuk, rambutnya yang sebahu menutupi wajah mereka berdua seperti tirai, menciptakan ruang privat di tengah gerbong. Sena memeluknya erat, merasakan tubuh Ratih yang lentur bergerak mengikutinya. Napas mereka berpacu, detak jantung seirama dengan guncangan halus kereta yang mulai bergerak lagi perlahan meninggalkan stasiun kecil itu.

Puncaknya datang seperti gelombang yang pecah perlahan lalu menghantam kuat. Ratih membenamkan wajahnya di lekuk leher Sena, tubuhnya menegang lalu melemas dalam pelukannya. Sena menyusul sesaat kemudian, memejamkan mata erat sambil menahan napas. Mereka diam berpelukan cukup lama, hanya mendengarkan napas masing-masing yang perlahan kembali normal dan bunyi roda kereta yang kini melaju stabil di atas rel.

"Ya ampun," bisik Ratih akhirnya, tertawa pelan sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Aku nggak nyangka bakal begini."

"Aku juga," kata Sena sambil tersenyum lebar. "Tapi aku nggak nyesel sama sekali."

Ratih mengenakan kembali hoodie pinjaman itu dan bersandar di bahu Sena, kali ini dengan nyaman dan tanpa ragu. Tangannya menggenggam tangan Sena erat. "Kamu harus janji satu hal," katanya.

"Apa?"

"Besok pagi, sebelum turun di Semarang, kamu minta nomor aku. Aku nggak mau ini cuma jadi cerita kereta malam yang hilang begitu aja."

Sena menoleh dan mencium keningnya. "Janji. Malah aku yang mau minta duluan."

Sisa perjalanan mereka habiskan dengan berbisik pelan, bertukar cerita yang lebih dalam: tentang keluarga, tentang mimpi, tentang rencana masa depan. Ratih tertidur di bahu Sena sekitar pukul tiga dini hari, dan Sena menjaganya, sesekali mengusap rambutnya dengan lembut. Ia sendiri tidak jadi memikirkan presentasinya sama sekali.

Saat kereta memasuki Stasiun Tawang Semarang dan langit mulai semburat oranye, Ratih terbangun. Mereka bertukar nomor ponsel, berjanji akan bertemu lagi di Jakarta minggu depan. Ratih turun dengan ranselnya, sempat menoleh dan melambaikan tangan dari peron dengan senyum yang tidak akan Sena lupakan.

Kereta kembali melaju menuju Surabaya. Sena bersandar di kursinya, hoodie-nya kembali di tangannya, masih menyisakan wangi vanilla yang samar. Ia tersenyum sendiri menatap jendela. Rapat dadakan yang tadinya ia kutuk kini terasa seperti keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Perjalanan kereta malam itu memberinya sesuatu yang tidak pernah ia duga: sebuah awal.

bagikan