CERITA DEWASA

Penjaga Penginapan di Pantai

Ombak menghantam karang dengan suara menggelegar, memecah jadi buih putih yang beterbangan. Langit di ufuk barat berwarna oranye kemerahan, matahari perlahan tenggelam ke laut. Di depan sebuah homestay kecil bercat biru pudar, papan kayu bertuliskan "KAMAR KOSONG" digantung miring, bergoyang tertiup angin laut.

Oka menurunkan ranselnya dan menghela napas. Tiga puluh satu tahun, karyawan swasta dari Jakarta, baru saja menempuh tujuh jam perjalanan untuk sampai ke pantai selatan ini. Sendirian. Memang itu rencananya. Setelah proyek kantor yang menyita tiga bulan hidupnya, ia butuh kabur. Butuh laut. Butuh sepi.

"Permisi!" serunya ke arah teras homestay.

Seorang perempuan keluar dari dalam. Tiga puluh tahun, cantik dengan cara yang alami. Kulitnya eksotis kecokelatan karena matahari pantai, rambutnya panjang diikat ke belakang, senyumnya lebar dan tulus. Ia memakai daster santai bermotif bunga.

"Ya, Mas? Cari kamar?" tanyanya ramah.

"Iya, Mbak. Masih ada yang kosong?"

"Ada. Banyak malah. Sepi, lagi bukan musim liburan." Ia tertawa. "Saya Mila. Yang jaga di sini."

"Oka."

Mila mengantarnya ke kamar di lantai dua. Kamarnya sederhana tapi bersih. Kasur, lemari kecil, kipas angin, dan jendela yang menghadap langsung ke laut. Dari jendela itu, sunset terlihat sempurna.

"Bagus banget pemandangannya," kata Oka takjub.

"Iya. Makanya homestay ini namanya Sunset View. Walaupun bangunannya udah tua." Mila tersenyum. "Makan malam mau pesan? Saya bisa masakin. Ikan bakar, hasil tangkapan suami saya."

"Suami Mbak nelayan?"

"Iya. Lagi melaut. Biasanya pulang dua minggu sekali, kadang sebulan." Ia menatap laut. "Udah seminggu pergi."

Malam itu Oka makan ikan bakar di teras homestay. Ikannya segar, bumbunya meresap, sambalnya pedas nampol. Mila menemaninya makan, bercerita soal hidup di pesisir. Soal ombak besar musim barat, soal tamu-tamu aneh yang pernah menginap, soal anaknya yang sekolah di kota dan cuma pulang sebulan sekali.

Anak Mila berumur dua belas tahun dan tinggal bersama neneknya di kota untuk sekolah. Mila menyebutnya sekilas saja sebagai latar, tidak pernah muncul dalam cerita ini.

"Mas Oka kerja apa di Jakarta?"

"Karyawan. Bagian logistik. Kerjaannya ngurusin barang keluar masuk gudang."

"Capek ya?"

"Capeknya sih biasa. Yang capek itu monotonnya. Tiap hari sama." Oka menatap laut yang gelap. "Makanya saya kabur ke sini."

Mila tertawa. "Kabur yang bagus. Di sini nggak ada yang monoton. Tiap hari lautnya beda."

Mereka mengobrol sampai jam sepuluh malam. Angin laut bertiup sejuk. Suara ombak jadi musik latar. Oka merasa rileks untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Besok paginya Oka bangun karena suara ombak dan kokok ayam. Ia sarapan nasi goreng buatan Mila, lalu jalan-jalan di pantai. Pasirnya putih, airnya jernih, dan hampir tidak ada orang. Ia berenang, berjemur, baca buku yang dibawanya.

Siang itu ia memutuskan memperpanjang nginap. Rencana awal cuma dua malam. Ia tambah jadi lima malam.

"Mbak Mila, saya perpanjang ya. Sampai Sabtu."

"Wah, betah?" goda Mila.

"Betah banget. Jakarta nggak ada beginiannya."

Sore harinya Mila mengajaknya melihat sunset dari batu karang di ujung pantai. Tempat favoritnya, katanya. Mereka duduk di atas karang yang hangat, kaki menggantung, menatap matahari tenggelam.

"Suami Mbak nggak cemburu Mbak jalan sama tamu?" tanya Oka iseng.

Mila tertawa. "Dia percaya sama saya. Lagian saya cuma nemenin lihat sunset, bukan apa-apa."

"Tapi kalau saya godain gimana?"

Mila menoleh, alisnya terangkat. "Berani?"

Oka tertawa gugup. "Nggak berani, Mbak. Takut dilempar ke laut."

Mereka tertawa bersama. Tapi ada sesuatu di tatapan Mila yang tertinggal sedikit lebih lama dari seharusnya. Sesuatu yang hangat dan... lapar? Oka tidak yakin. Mungkin ia berhalusinasi karena terlalu lama tidak punya pacar.

Malam ketiga, angin bertiup kencang sekali. Pohon kelapa di depan homestay melambai liar. Sekitar jam sembilan, listrik padam. Gelap total, hanya suara angin dan ombak yang makin ganas.

Oka keluar kamar membawa senter HP. Di teras bawah, Mila sedang menyalakan lilin-lilin kecil dan menatanya di meja.

"Mati lampu, Mas," katanya. "Biasa kalau angin kencang. Kabelnya ketarik."

"Berapa lama biasanya?"

"Bisa sejam, bisa sampai pagi."

Oka turun dan duduk di teras. Mila membuatkan teh hangat. Mereka duduk berhadapan, diterangi cahaya lilin yang bergoyang-goyang. Di luar, angin meraung. Di dalam teras kecil itu, hangat dan intim.

"Takut nggak, Mbak? Anginnya serem."

"Udah biasa. Malah saya suka. Berasa hidup." Mila menyeruput tehnya. "Yang saya takutin itu sepi, Mas. Bukan angin."

"Sepi?"

"Iya. Suami melaut berminggu-minggu. Anak di kota. Homestay sepi nggak ada tamu." Ia menatap api lilin. "Malam-malam kayak gini, saya duduk sendirian di teras. Dengerin ombak. Mikir."

"Mikir apa?"

"Mikir kapan terakhir saya dipeluk." Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara angin. "Suami saya orang baik. Tapi dia lebih sayang sama laut daripada sama saya, kayaknya. Pulang dua minggu, seminggu dihabiskan benerin perahu. Sisanya tidur karena capek."

Oka tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mendengarkan.

"Mbak jangan salah paham," lanjut Mila cepat. "Saya nggak ngeluh. Saya bersyukur. Cuma... kadang saya kangen. Kangen diperhatikan. Kangen disentuh. Namanya juga perempuan, Mas."

Dada Oka sesak. Ia menatap Mila dalam cahaya lilin. Wajahnya yang eksotis terlihat begitu cantik. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena jujur.

"Mila," kata Oka pelan, pertama kalinya memanggil tanpa embel-embel Mbak.

Mila menoleh.

"Aku juga sepi," kata Oka jujur. "Di Jakarta aku punya apartemen, punya kerjaan, punya teman. Tapi tiap pulang ke kosan yang sempit itu, aku sendirian. Pacar udah nggak punya dua tahun. Tiap malam aku nonton HP sampai ketiduran."

Mereka saling menatap. Lilin-lilin bergoyang. Angin meraung di luar. Dunia menyusut tinggal teras kecil itu.

Mila mengulurkan tangannya ke atas meja. Oka menyambutnya. Jari-jari mereka bertaut.

"Aku tahu ini salah," bisik Mila. "Kamu tamu. Aku istri orang."

"Aku tahu."

"Tapi aku capek jadi orang yang selalu benar."

Oka berdiri, masih menggenggam tangannya, dan menariknya berdiri. Mereka berhadapan dalam cahaya lilin. Oka bisa mencium aroma garam laut dari rambutnya, bercampur wangi sabun mandi.

Ia mendekat dan menciumnya. Pelan. Memberi kesempatan untuk mundur.

Mila tidak mundur. Ia membalas dengan lembut, lalu makin dalam. Bibirnya asin, seperti laut. Tangannya melingkar di leher Oka. Tubuhnya yang ramping merapat.

Ciuman itu panjang dan lambat. Tidak terburu-buru. Seperti ombak yang datang dan pergi dengan ritmenya sendiri.

"Ke kamar," bisik Mila di sela ciuman. "Kamarku di bawah."

Kamar Mila sederhana. Kasur, lemari, foto keluarganya di dinding. Ada foto suaminya yang sedang memegang ikan besar, tersenyum bangga. Oka sempat ragu melihat foto itu, tapi Mila memadamkan lilin yang dibawanya, menyisakan satu lilin kecil di sudut. Dalam temaram, foto itu tidak terlihat lagi.

Mereka berdiri berhadapan. Mila mulai membuka kancing dasternya sendiri. Satu per satu. Oka menatapnya, tidak berkedip.

Daster itu jatuh ke lantai. Di bawahnya Mila memakai tank top dan celana pendek. Tubuhnya indah. Kulit eksotisnya mulus, hasil bertahun-tahun hidup di pantai. Dadanya tidak besar tapi kencang dan berbentuk sempurna.

Oka melepas kaosnya. Mila menatap dadanya, lalu tersenyum.

"Kamu putih banget. Anak kota."

"Kamu juga cantik banget. Anak pantai."

Mila tertawa kecil, lalu mendekat dan memeluknya. Kulit bertemu kulit. Hangat.

Oka membaringkannya di kasur. Ia menciumi lehernya, turun ke bahunya. Mila mendesah. Tangannya menyusup ke rambut Oka.

Tank topnya dilepas. Dadanya yang eksotis menyambut. Oka menciuminya dengan penuh perasaan, dan Mila melengkungkan punggungnya.

Celana pendeknya dilepas. Celana Oka dilepas Mila. Mereka telanjang di kamar yang hanya diterangi satu lilin kecil, dengan suara angin dan ombak sebagai musik latar.

Oka naik ke atasnya. Mila membuka kakinya untuknya. Waktu ia masuk, mereka berdua mendesah bersamaan. Hangat, dalam, sempurna.

Mereka bergerak dengan ritme ombak. Pelan, dalam, berulang. Setiap gerakan disambut desahan Mila. Tangannya mengelus punggung Oka. Kakinya melingkar di pinggangnya.

"Aku kangen ini," bisik Mila. "Kangen banget."

Oka mencium keningnya yang berkeringat, lalu bibirnya, sambil terus bergerak. Bau laut dan bau tubuh bercampur jadi aroma yang memabukkan.

Pelan-pelan ritme mereka bertambah cepat. Mila mulai mengerang. Pinggulnya bergerak liar. Kukunya mencakar punggung Oka.

"Jangan berhenti," pintanya. "Jangan pernah berhenti."

Oka tidak berhenti. Ia terus bergerak sampai tubuh Mila menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahu Oka. Beberapa detik kemudian Oka menyusul, meledak dengan desahan panjang.

Mereka terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang memburu dan suara ombak di luar. Kepala Mila di dada Oka. Tangan Oka mengelus rambutnya yang basah keringat.

Listrik menyala kembali. Lampu kamar menyala terang, membuat mereka menyipitkan mata.

"Ah, nyala," kata Mila sambil tertawa kecil.

"Sayang ya. Lilinnya lebih romantis."

Mila bangun dan mematikan lampu lagi. "Ya udah, gelap-gelapan aja."

Mereka tertawa, lalu berpelukan lagi dalam gelap. Tidak bercinta lagi malam itu. Hanya berpelukan, mengobrol pelan, dan akhirnya tertidur.

Oka bangun pagi karena sinar matahari masuk dari jendela. Mila sudah tidak ada di sampingnya. Dari dapur terdengar suara wajan.

Ia keluar dengan kaos oblong. Mila sedang membuat sarapan, sudah mandi dan wangi.

"Pagi," sapa Mila ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya berbinar beda.

"Pagi."

Mereka sarapan seperti biasa. Nasi goreng, telur, teh hangat. Tapi setiap kali mata mereka bertemu, ada senyum rahasia.

Dua malam tersisa Oka dihabiskan dengan cara yang sama. Siang jalan-jalan di pantai, sore lihat sunset, malam... malam milik mereka berdua.

Hari terakhir, Mila mengantarnya sampai depan homestay. Taksi online sudah menunggu.

"Makasih ya, Mbak," kata Oka. "Liburan terbaik dalam hidupku."

"Makasih juga, Mas. Homestay ini jadi rame seminggu ini." Mila tersenyum, lalu berbisik, "Rame yang beneran."

Oka tertawa, lalu memeluknya. Pelukan yang sedikit lebih lama dari seharusnya.

Di perjalanan pulang ke Jakarta, Oka menatap foto sunset yang diambilnya dari batu karang. Di foto itu, Mila duduk di sampingnya, tertawa, rambutnya tertiup angin.

Ia menyimpan foto itu baik-baik. Bukan cuma foto sunset. Tapi foto tentang seminggu di mana dua orang yang kesepian menemukan satu sama lain di tepi laut.

Sesekali, kalau Jakarta terlalu bising dan hidup terlalu monoton, Oka membuka foto itu. Dan ia tersenyum.

Di luar sana, di sebuah homestay kecil di pantai selatan, papan "KAMAR KOSONG" masih digantung miring. Dan Mila masih menunggu tamu berikutnya.

Tapi tidak ada tamu yang akan sama seperti Oka. Tidak akan pernah ada.

bagikan