CERITA DEWASA

Malam Pertama di Kontrakan Baru

Tok, tok, tok.

Jaya mendongak dari tumpukan kardus. Ketukan di pintu itu terdengar pelan namun jelas, memecah keheningan kontrakan petak yang baru ia tempati sejak sore tadi. Ia melirik layar ponsel. Pukul setengah sembilan malam. Siapa yang bertamu selarut ini, di hari pertamanya menginjakkan kaki di kota ini?

Ia bangkit dari kasur lipat tipis yang digelar di lantai ruang tengah. Kardus-kardus masih tersegel rapat di sekelilingnya, bertuliskan spidol hitam: BAJU, DAPUR, BUKU. Bau cat tembok baru masih menempel di hidung. Perutnya berbunyi. Sejak tiba dengan bus travel jam lima sore, ia belum makan apa-apa selain dua bungkus biskuit di perjalanan.

Tok, tok.

"Sebentar!" serunya.

Ia membuka pintu. Di ambang pintu berdiri seorang perempuan. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, wajahnya tanpa riasan tapi bersih dan segar. Ia mengenakan daster bermotif bunga dan sandal jepit. Di tangannya ada sebuah rantang plastik yang masih mengepulkan uap tipis.

"Selamat malam, Mas," sapa perempuan itu dengan senyum hangat. "Saya Kencana, tetangga sebelah. Tadi lihat lampu kontrakan ini nyala, ternyata sudah ada yang nempatin. Ini ada lebihan sayur lodeh sama nasi anget. Dimakan ya, biar nggak masuk angin malam pertama di sini."

Jaya tertegun sejenak. Di kota besar tempatnya bekerja dulu, tetangga bahkan tidak saling tahu nama. Di sini, di kota kecil tempat ia dipindahtugaskan, sambutan datang bahkan sebelum ia sempat membuka kardus pertama.

"Wah, terima kasih banyak, Mbak Kencana," kata Jaya sambil menerima rantang itu. Hangatnya merambat ke telapak tangan. "Saya Jaya. Baru pindah hari ini. Kerja di kantor cabang distributor yang di Jalan Merdeka itu."

"Oh, pantesan. Selamat datang di gang kami, Mas Jaya," kata Kencana. Matanya melirik ke dalam, ke arah kardus-kardus yang menumpuk. "Wah, belum bongkar sama sekali ya? Kasur aja belum dipasang?"

"Baru sempat gelar kasur lipat, Mbak. Rencananya besok baru beres-beres," jawab Jaya sambil tertawa kecil.

Kencana ikut tertawa renyah. "Ya sudah, makan dulu sana. Nanti kalau butuh apa-apa, ketok aja pintu saya. Nomor tiga dari sini."

Setelah Kencana kembali ke kontrakannya, Jaya duduk bersila di lantai dan membuka rantang. Aroma santan dan cabai langsung menyergap. Sayur lodeh labu siam dengan tempe, nasi putih yang masih hangat, dan sepotong ayam goreng kecap. Ia makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya sejak turun dari bus sore tadi, kota asing ini terasa sedikit seperti rumah.

Selesai makan, masalah baru muncul. Udara malam di dalam kontrakan pengap. Jendela sudah dibuka tapi angin tidak bergerak. Ia tidak punya kipas angin, barang itu masih terbungkus di dalam kardus DAPUR entah yang mana. Bantal pun belum dikeluarkan. Jaya menghela napas sambil mengelap keringat di leher.

Ia teringat ucapan Kencana. "Kalau butuh apa-apa, ketok aja pintu saya."

Dengan sedikit ragu, Jaya melangkah ke kontrakan nomor tiga. Pintu diketuknya pelan. Tak lama, pintu terbuka dan Kencana muncul dengan wajah heran yang cepat berubah menjadi senyum.

"Mas Jaya? Ada apa?"

"Maaf mengganggu malam-malam, Mbak," kata Jaya agak canggung. "Saya belum bongkar kardus, jadi belum ketemu kipas angin sama bantal. Boleh pinjam semalam? Besok saya bongkar."

Kencana tertawa kecil. "Aduh, kasihan. Masuk dulu, Mas. Saya ambilkan."

Jaya melangkah masuk. Kontrakan Kencana rapi dan wangi. Ada aroma melati samar dari pengharum ruangan. Di sudut ada rak berisi toples-toples plastik berisi keripik dan kue kering, dan sebuah laptop terbuka di meja kecil dengan tumpukan paket siap kirim di sampingnya.

"Mbak jualan online ya?" tanya Jaya.

"Iya, jualan keripik sama kue kering. Lumayan buat hidup sendiri," jawab Kencana sambil mengambil kipas angin kecil dan sebuah bantal dari lemari. "Nih. Kipasnya memang kecil, tapi lumayan."

"Makasih banyak, Mbak. Saya nggak enak nih ngerepotin."

"Ah, nggak apa-apa. Namanya juga tetangga." Kencana menatapnya sejenak. "Eh, Mas sudah ngopi belum? Saya baru mau bikin teh. Temenin sebentar, ya? Sekalian kenalan."

Jaya mengangguk. Ia memang belum ingin kembali ke kontrakan yang pengap dan sepi itu.

Mereka duduk di teras belakang kontrakan Kencana. Malam sudah larut tapi udara di luar justru lebih sejuk. Suara jangkrik bersahutan dari kebun kosong di belakang gang. Kencana menyodorkan segelas teh manis hangat, lalu duduk di kursi plastik di hadapan Jaya.

"Jadi Mas Jaya umur berapa? Kelihatannya masih muda," tanya Kencana sambil menyeruput tehnya.

"Tiga puluh dua, Mbak. Mbak sendiri?"

"Tiga puluh tiga. Beda setahun doang kita," jawab Kencana sambil tersenyum. "Pindah ke sini sendirian? Istri di kota asal?"

Jaya menggeleng. "Belum nikah, Mbak. Makanya gampang dipindah-pindah kantor."

Kencana tertawa, tapi ada semburat sendu di matanya. "Enak ya, masih bebas. Saya dulu nikah umur dua puluh tujuh, cerai umur tiga puluh satu. Sekarang sudah dua tahun hidup sendiri di sini."

"Mantan suami saya kerja di luar pulau," lanjut Kencana pelan. "Awalnya LDR masih bisa. Lama-lama dia berubah. Ketahuan selingkuh sama teman sekantornya. Ya sudah, saya minta pisah. Daripada makan hati tiap hari."

"Kedengarannya berat, Mbak," kata Jaya tulus. "Tapi Mbak kelihatan tegar. Malah bisa bangun usaha sendiri."

"Terpaksa tegar, Mas," kata Kencana sambil tersenyum tipis. "Nangis juga pernah, tiap malam malah, berbulan-bulan. Sampai akhirnya capek sendiri. Terus saya mikir, masa mau sedih terus? Ya sudah, jualan."

"Mas sendiri kenapa mau dipindah ke kota kecil begini?" tanya Kencana balik.

"Disuruh atasan, Mbak. Katanya cabang sini butuh orang. Gajinya naik dikit, jabatannya naik dikit. Saya pikir, kenapa nggak? Hidup saya di sana juga gitu-gitu aja. Kos, kerja, pulang. Nggak ada yang ditinggalin."

"Berani juga. Saya aja nggak berani merantau," kata Kencana.

Mereka tertawa bersama. Obrolan mengalir begitu saja, dari soal harga sewa kontrakan, warung makan enak di dekat pasar, sampai jadwal ronda gang yang ternyata Jaya ikut kebagian bulan depan.

Tanpa sadar, sudah hampir satu jam mereka duduk di teras. Teh di gelas tinggal setengah. Kencana sesekali menyibakkan rambutnya yang lepas dari ikatan, dan Jaya mendapati dirinya memperhatikan gerakan itu lebih lama dari seharusnya.

"Mbak," kata Jaya tiba-tiba, "boleh saya bantu pasang kipasnya di kontrakan saya? Saya nggak ngerti colokan di sana yang mana yang nyala."

Kencana mengangkat alis. "Ya ampun, Mas ini. Ya sudah, saya temenin. Sekalian saya lihat kondisi kontrakan nomor empat itu. Sudah lama kosong, takutnya ada yang bocor."

Mereka berjalan ke kontrakan Jaya membawa kipas dan bantal pinjaman. Di dalam, lampu neon menyala terang. Kardus-kardus masih menumpuk seperti benteng kecil.

Kencana berkeliling sambil mengetuk-ngetuk tembok. "Tembok aman. Kamar mandi?" Ia melongok ke pintu kecil di sudut. "Bersih. Baguslah, ibu kos rajin."

Ia jongkok untuk mencolokkan kipas angin ke stopkontak di dinding. Daster yang dikenakannya tertarik ke atas sedikit saat ia membungkuk, dan Jaya buru-buru memalingkan muka sambil berdeham.

"Kok diam, Mas?" tanya Kencana sambil menoleh, senyumnya menggoda.

"Nggak apa-apa, Mbak. Makasih ya udah dibantu."

Kipas mulai berputar. Angin sepoi langsung terasa. Jaya menghela napas lega.

"Nah, kan lumayan," kata Kencana sambil berdiri dan menepuk-nepuk tangannya. "Bantalnya taruh sini." Ia meletakkan bantal di atas kasur lipat. "Sudah, beres. Tidur yang nyenyak ya, Mas."

Kencana melangkah ke pintu, tapi langkahnya melambat. Ia berbalik. Ada jeda yang aneh, yang membuat udara di ruangan kecil itu terasa lebih tipis.

"Mas Jaya," katanya pelan. "Boleh saya jujur?"

"Boleh, Mbak."

"Sudah lama nggak ada yang ngobrol sama saya selama ini," kata Kencana. Suaranya melembut. "Tetangga-tetangga di sini baik, tapi semua sibuk sama keluarga masing-masing. Malam-malam saya sendirian terus. Tadi waktu Mas ketok pintu, saya senang. Beneran senang."

Jaya menatapnya. Di bawah cahaya neon, wajah Kencana terlihat lelah tapi cantik. Ada kerinduan yang tidak disembunyikan di matanya, kerinduan akan kehadiran seseorang.

"Saya juga senang, Mbak," kata Jaya jujur. "Seharian ini saya merasa sendirian di kota asing. Terus Mbak datang bawa rantang. Itu hal terbaik yang terjadi hari ini."

Mereka saling menatap. Jarak di antara mereka tinggal dua langkah. Jaya bisa mencium aroma melati samar dari rambut Kencana, bercampur wangi teh yang masih menempel di napasnya.

"Mbak," kata Jaya pelan, "kalau saya bilang saya nggak mau malam ini berakhir, Mbak marah?"

Kencana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat sampai ujung sandalnya menyentuh ujung sandal Jaya. Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu mendarat di pipi Jaya.

"Dua tahun, Mas," bisiknya. "Dua tahun nggak ada yang menyentuh saya dengan cara yang baik."

Jaya mengangkat tangannya perlahan, memberi Kencana kesempatan untuk mundur. Kencana tidak mundur. Jaya membelai pipinya, merasakan kulitnya yang hangat dan halus. Lalu ia menunduk dan menciumnya, pelan dulu, sekadar sentuhan bibir.

Kencana membalas. Tangannya melingkar di leher Jaya, menariknya lebih dekat. Ciuman itu semakin dalam. Jaya bisa merasakan tubuh Kencana yang lentur menekan tubuhnya, dan dadanya berdegup kencang.

"Mbak yakin?" tanya Jaya di sela ciuman, napasnya memburu. Ia ingin memastikan, tidak mau ada yang terpaksa.

Kencana menatap matanya dalam-dalam. "Saya yang mau, Mas. Mas mau?"

Jaya mengangguk. "Mau."

Kencana tersenyum, lalu menarik tangan Jaya menuju kasur lipat di tengah ruangan. Mereka duduk berdampingan. Kipas angin kecil berputar di sudut, meniupkan angin sepoi ke kulit mereka yang mulai berkeringat.

Jaya mencium leher Kencana, menghirup aroma melatinya lebih dalam. Kencana mendesah pelan dan memiringkan kepala, memberi akses lebih. Tangannya merambat ke punggung Jaya, jemarinya mencengkeram kaus Jaya.

Tangannya yang lain membuka kancing daster Kencana satu per satu. Kencana membantunya, lalu daster itu melorot ke lantai. Di bawahnya, Kencana hanya mengenakan pakaian dalam sederhana berwarna krem. Tubuhnya indah, matang, jauh dari kesan gadis muda tapi justru itulah yang membuat Jaya semakin tertarik. Ini tubuh perempuan dewasa yang tahu apa yang diinginkannya.

"Cantik," bisik Jaya.

Kencana tersipu, rona merah menjalar di pipinya. "Sudah lama nggak ada yang bilang begitu."

Jaya membantu melepaskan kausnya sendiri, lalu kembali merengkuh Kencana. Kulit bertemu kulit. Hangat. Kencana melingkarkan kakinya di pinggang Jaya saat ia direbahkan perlahan ke kasur lipat.

Mereka bercinta dengan pelan, tidak terburu-buru. Seolah keduanya sepakat bahwa malam ini bukan soal nafsu sesaat, tapi soal dua orang kesepian yang akhirnya menemukan kehangatan. Jaya menciumi setiap lekuk tubuh Kencana dengan sabar, dan setiap sentuhannya dibalas dengan desahan dan cengkeraman yang semakin erat.

Kencana yang awalnya malu-malu, lama-lama larut. Ia membisikkan nama Jaya berulang-ulang. Tangannya menjelajahi punggung Jaya, kukunya meninggalkan garis-garis merah samar yang justru membuat Jaya semakin bergairah.

Saat akhirnya mereka mencapai puncak bersama, Kencana memeluk Jaya erat-erat, wajahnya disembunyikan di lekuk leher Jaya. Napas mereka memburu dalam keheningan, hanya ditemani dengung kipas angin kecil.

Mereka berbaring berdampingan cukup lama. Kencana menelusurkan jarinya di dada Jaya yang masih basah keringat.

"Mas nggak nyesel?" tanyanya pelan.

Jaya menoleh dan mencium keningnya. "Nggak. Mbak?"

Kencana menggeleng sambil tersenyum. "Ini malam terbaik saya dalam dua tahun terakhir."

Malam itu mereka bercinta sekali lagi, lebih santai, diselingi tawa kecil saat kasur lipat berderit terlalu keras dan mereka harus menahannya agar tidak berisik. Setelahnya, Kencana tertidur di pelukan Jaya, wajahnya damai. Jaya menatap langit-langit kontrakan barunya sambil tersenyum. Malam pertama yang tidak pernah ia bayangkan.

Jaya terbangun oleh aroma bawang goreng. Cahaya pagi menyelinap dari celah jendela. Kencana sudah tidak ada di sampingnya, tapi bantal pinjaman masih di sana, dan selimut tipis menutupi tubuhnya.

Ia bangkit dan melongok ke dapur kecil di belakang. Kencana ada di sana, sudah mandi dan berganti daster bersih, menggoreng telur di wajan kecil miliknya yang ia bawa dari kontrakannya.

"Selamat pagi," sapa Kencana ceria. "Sengaja nggak bangunin. Mas tidurnya pules banget."

"Mbak masak di sini?" tanya Jaya sambil mengucek mata.

"Kompor Mas masih di kardus, kan? Ya sudah saya bawain kompor portable sama wajan saya. Makan dulu, baru bongkar kardus." Kencana menyodorkan piring berisi nasi, telur ceplok, dan kerupuk. "Anggap aja ini upah semalam."

Mereka sarapan bersama di lantai, di antara kardus-kardus yang belum dibuka. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan, seperti pasangan yang sudah lama tinggal bersama.

"Habis ini saya bantu bongkar ya," kata Kencana. "Saya hafal isi kardus lebih cepat daripada Mas kayaknya."

Jaya tertawa. "Boleh. Tapi sebagai gantinya, malam ini saya yang traktir makan. Warung makan enak dekat pasar itu, Mbak yang tunjukin jalannya."

"Deal," kata Kencana sambil mengacungkan jempol. Lalu ia menatap Jaya dengan senyum yang lebih lembut. "Mas, makasih ya. Untuk semalam. Saya nggak nyangka tetangga baru saya sebaik ini."

"Justru saya yang makasih, Mbak. Kalau nggak ada Mbak, malam pertama saya di sini cuma ditemani kardus sama biskuit."

Kencana tertawa renyah, tawa yang sama yang membuat Jaya betah semalam. Kontrakan kecil itu pagi ini terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.

Dan Jaya tahu, kepindahannya ke kota kecil ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil.

bagikan