Namaku Hendra, tiga puluh empat tahun, kerja di bank. Istriku Dina, tiga puluh dua tahun, guru SD. Setiap bulan ada satu ritual yang tidak pernah ia lewatkan: arisan ibu-ibu komplek.
"Aku diantar ya, Mas," kata Dina sore itu sambil merapikan jilbabnya di depan cermin. "Arisannya di rumah Bu Lestari. Paling sampai jam sembilan."
"Oke. Aku tunggu di mobil aja," jawabku.
"Jangan di mobil, panas. Masuk aja, di ruang tamu. Bu Lestari pasti nyuruh masuk."
Rumah Bu Lestari cukup besar, tipe 120 di ujung komplek. Ketika kami tiba, terasnya sudah ramai sandal dan sepatu. Suara tawa ibu-ibu terdengar dari dalam.
"Eh, Dina! Masuk, masuk! Mas Hendra juga, monggo," sapa Bu Lestari, tuan rumah, perempuan ramah usia empat puluhan.
Aku duduk di ruang tamu depan, agak terpisah dari ruang keluarga tempat arisan berlangsung. Dari kursiku aku bisa mendengar potongan obrolan mereka: soal harga sembako, soal anak yang susah disuruh belajar, soal sinetron yang lagi viral. Sesekali terdengar tawa berderai disusul suara sendok beradu dengan gelas.
Sudah hafal aku suasananya. Tiga tahun menikah dengan Dina, aku sudah puluhan kali jadi supir antar-jemput arisan. Biasanya aku menunggu di mobil sambil main ponsel. Tapi hari ini Bu Lestari bersikeras menyuruhku masuk.
"Di dalam aja, Mas, ada AC," katanya tadi.
Jadi aku duduk di sini, menyeruput teh yang entah siapa yang buatkan, menatap jam dinding yang bergerak lambat.
Seorang perempuan keluar dari ruang keluarga membawa nampan berisi gelas teh. Ia berhenti di depanku.
"Mas Hendra ya? Saya Sari," katanya sambil tersenyum. "Minum dulu, Mas. Kasian nunggu sendirian."
Bu Sari. Aku mengenalnya sekilas dari acara komplek. Usianya mungkin akhir tiga puluhan. Badannya berisi tapi proporsional, kulitnya putih bersih, rambutnya disanggul rapi. Ia mengenakan blus batik dan rok selutut.
"Makasih, Bu Sari," kataku menerima teh.
"Suami saya juga sering gini, nungguin. Tapi sekarang dia di Balikpapan, proyek enam bulan," katanya sambil duduk di kursi seberang — agak jauh, tapi cukup dekat untuk ngobrol. "Jadi saya ke mana-mana sendiri."
"Berat juga ya, Bu, ditinggal lama."
"Namanya juga kerja, Mas. Yang penting kiriman lancar," katanya sambil tertawa. Tawanya renyah.
Obrolan mengalir. Ternyata Bu Sari enak diajak ngobrol. Ia cerita soal anaknya yang kuliah di Surabaya — sudah semester akhir, dua puluh satu tahun. Ia cerita soal usahanya jualan kue kering online yang lumayan laris.
"Mas Hendra kerja di bank ya? Bagian apa?"
"Kredit, Bu. Ngurusin orang yang mau pinjam duit," jawabku.
"Wah, cocok. Saya mau pinjam semangat hidup dong, Mas," candanya, lalu tertawa sendiri.
Aku ikut tertawa. Ada sesuatu dari caranya bicara — santai, berani menatap mata, dan sesekali tawanya diiringi sentuhan ringan di lenganku. Sentuhan yang mungkin tidak disengaja. Atau mungkin disengaja.
"Usaha kuenya gimana, Bu? Lagi rame?" tanyaku, berusaha mengisi obrolan agar tidak canggung.
"Lumayan, Mas. Lebaran kemarin sampai kewalahan. Sekarang pelan-pelan lagi," katanya. "Mas mau coba? Besok saya bawain ke sini."
"Wah, boleh. Dina pasti senang."
Ia tersenyum, lalu tiba-tiba mencondongkan badan sedikit ke arahku. "Mas Hendra itu suami yang baik ya. Mau-maunya nungguin istri arisan berjam-jam."
"Ya gimana, Bu. Daripada di rumah sendirian juga sepi," jawabku.
"Sepi itu nggak enak ya, Mas," katanya pelan. Matanya menatapku dengan arti yang dalam. "Saya tahu rasanya."
Ada jeda yang agak lama. Aku merasa ada arus listrik kecil mengalir di antara kami — samar, tapi nyata.
Jam menunjukkan pukul delapan lewat. Satu per satu ibu-ibu mulai pamit. Ruang keluarga yang tadinya riuh perlahan sepi.
Dina keluar sambil membawa goodie bag. "Mas, arisannya udahan. Tapi aku mau ikut Mbak Yuni dulu beli martabak di depan komplek. Mas pulang duluan aja ya? Nanti aku nebeng Mbak Yuni."
"Lho, mobilnya gimana?"
"Biar Mas bawa pulang. Aku nebeng aja, deket ini."
Aku mengangguk. Bu Lestari sibuk mengantar tamu-tamu terakhir sampai pagar. Di ruang tamu tinggal aku dan Bu Sari, yang tampaknya tidak buru-buru pulang.
"Bu Sari nggak pulang?" tanyaku.
"Nungguin Bu Lestari beres-beres dulu. Tadi saya janji bantuin lipat taplak," katanya. "Mas Hendra mau langsung pulang?"
"Sebentar aja. Nemenin ngobrol," kataku. Entah kenapa aku tidak langsung berdiri.
Bu Lestari masuk dengan tumpukan piring kotor. "Ya ampun, masih ada tamu. Mas Hendra, maaf ya nggak ditemenin."
"Santai aja, Bu," kataku.
"Bu Sari, tolong bantuin saya di dapur sebentar ya," kata Bu Lestari.
"Boleh," jawab Bu Sari sambil berdiri. Ia menoleh padaku. "Mas ikut ke belakang aja, biar nggak sendirian di sini."
Aku mengikutinya ke dapur. Dapur Bu Lestari luas dan bersih. Bu Sari mulai membantu mencuci piring. Aku berdiri di dekatnya, tidak tahu harus berbuat apa.
"Mas, tolong ambilin lap di laci itu," katanya menunjuk laci di bawah wastafel.
Aku membungkuk mengambil lap. Ketika berdiri, posisi kami jadi sangat dekat. Ia menoleh, dan wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa mencium aroma parfumnya — wangi melati yang lembut.
Kami sama-sama diam. Tangannya yang basah masih memegang piring. Matanya menatapku, dan aku membaca sesuatu di sana yang membuat tengkukku merinding.
Tanganku gemetar sedikit saat menyerahkan lap itu. Jari-jarinya menyentuh jariku — sengaja, aku yakin, karena ia tidak langsung melepaskannya. Sentuhan itu berlangsung dua detik lebih lama dari seharusnya.
"Bu Sari..." bisikku.
Ia tidak menjawab. Ia meletakkan piringnya perlahan ke wastafel, mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, lalu berbalik menghadapku sepenuhnya.
"Mas Hendra dari tadi ngeliatin saya terus," katanya pelan, dengan senyum tipis yang berbeda dari senyum ramahnya tadi.
Aku menelan ludah. "Maaf, Bu, saya..."
"Nggak usah minta maaf," potongnya. "Saya juga dari tadi merhatiin Mas."
Jantungku berdegup kencang. Dari ruang depan terdengar suara Bu Lestari menelepon seseorang — sepertinya ia sedang sibuk di teras.
Bu Sari melangkah mendekat. Tangannya menyentuh dadaku, pelan, lalu naik ke leherku.
"Suami saya enam bulan di Balikpapan, Mas," bisiknya. "Enam bulan."
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menunduk dan mencium bibirnya.
Awalnya pelan, ragu. Tapi ia langsung membalas dengan berani. Bibirnya lembut dan hangat. Tangannya mencengkeram kerah kemejaku, menarikku lebih dekat.
Kami bercumbu di dapur itu dengan napas memburu. Tanganku merayap ke pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya yang berisi dan hangat di balik blus batiknya. Ia mendesah pelan di sela ciuman kami.
"Jangan di sini," bisiknya tiba-tiba, sambil melirik ke arah pintu. "Kamar mandi belakang. Kunci dari dalam."
Ia menarik tanganku, berjalan cepat menyusuri koridor pendek ke kamar mandi di bagian belakang rumah. Ruangan kecil dengan lantai keramik dingin. Ia mengunci pintu. Klik.
Begitu pintu terkunci, ia berbalik dan langsung memelukku. Ciuman kali ini jauh lebih liar. Tangannya membuka kancing kemejaku satu per satu dengan jari-jari yang tidak sabar.
Aku membalas dengan membuka kancing blusnya. Kulit putihnya terpampang di depanku, naik turun dengan napas yang memburu. Ia memakai bra hitam berenda — kontras yang menggoda dengan penampilannya yang tadi begitu anggun.
"Mas suka?" bisiknya sambil menatapku.
Aku mengangguk, tidak bisa berkata-kata.
Ia melepaskan bra-nya sendiri dan membuangnya ke lantai. Lalu tangannya turun ke resleting celanaku.
Kami bercinta di kamar mandi sempit itu dengan tergesa tapi penuh gairah. Punggungnya menempel di dinding keramik yang dingin, tapi tubuhnya panas. Tangannya mencengkeram bahuku. Desahannya tertahan — ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak bersuara, karena Bu Lestari masih di rumah.
Aku menciumi lehernya, turun ke tulang selangkanya, sementara tanganku meremas pinggulnya yang berisi. Ia melingkarkan kakinya di pinggangku, menarikku lebih dalam. Setiap gerakan kami diiringi suara napas yang memburu dan sesekali desisan kecil yang ia tahan mati-matian.
"Pelan-pelan, Mas... nanti kedengeran," bisiknya, tapi tangannya justru menekan punggungku agar aku tidak berhenti.
Keringat membasahi pelipisnya. Rambut sanggulnya terurai sebagian, beberapa helai menempel di pipinya yang memerah. Pemandangan itu — perempuan anggun yang tadi duduk sopan di ruang tamu, sekarang berantakan di pelukanku — membuat darahku berdesir kencang.
Setiap gerakan terasa dilarang dan karena itu terasa luar biasa. Keringat membasahi pelipisnya. Rambut sanggulnya terurai sebagian.
"Mas... terus..." bisiknya parau.
Aku mempercepat tempo. Ia memejamkan mata, kepalanya bersandar ke dinding, dan tubuhnya menegang — mencapai puncaknya dalam diam yang bergetar.
Beberapa detik kemudian aku menyusulnya.
Kami berdiri diam beberapa saat, terengah-engah, masih berpelukan. Lalu ia tertawa kecil.
"Gila ya kita," bisiknya.
"Bu Sari yang mulai," balasku sambil tersenyum.
"Iya, saya yang salah," katanya sambil mencubit lenganku pelan. "Jangan bilang siapa-siapa ya, Mas."
"Tentu."
Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai keramik. Aku membantunya memasangkan kembali kancing blus yang tadi kubuka dengan terburu-buru — jari-jariku masih gemetar. Ia memperhatikanku sambil tersenyum geli.
"Mas grogi ya?" godanya.
"Abis ini jantung saya mau copot, Bu."
Ia tertawa pelan, lalu mengecup pipiku sekilas — kecupan yang manis dan anehnya terasa tulus, berbeda dari gairah membara beberapa menit lalu.
Kami berberes dengan cepat. Ia merapikan blus dan sanggulnya di depan cermin kecil. Dalam dua menit, ia kembali menjadi Bu Sari yang anggun — seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketika kami keluar, Bu Lestari sudah kembali ke dapur. "Lho, Mas Hendra belum pulang?"
"Baru mau pamit, Bu. Makasih tehnya," kataku santai.
Di teras, Bu Sari sudah berdiri di dekat motornya. Ia menoleh padaku sekilas dan tersenyum — senyum yang kali ini hanya aku yang tahu artinya.
Aku menyalakan mobil dan pulang. Di jalan, ponselku bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal:
"Besok arisan di rumah saya. Datang antar Dina ya, Mas. - Sari"
Aku tersenyum sendiri sepanjang jalan pulang. Di lampu merah, aku membalas singkat:
"Siap, Bu. Saya antar sampai depan pintu."
Balasannya masuk hampir seketika: "Jangan cuma sampai depan pintu."
Aku tertawa pelan sambil menyimpan ponsel. Malam ini arisannya sudah bubar — tapi sepertinya arisan yang berikutnya akan jauh lebih menarik.