Minyak panas berdesis waktu adonan pisang dicelupkan ke wajan. Asap tipis mengepul, membawa aroma bawang putih dan kunyit yang bikin perut keroncongan. Antrean sore itu lumayan panjang. Tukang ojek, anak kos, ibu-ibu pulang belanja. Semua menunggu di depan gerobak hijau bertuliskan "Gorengan Mbak Endang".
"Tahu isi lima, tempe dua, Mbak," kataku.
Mbak Endang menoleh dan tersenyum. "Joko. Tumben telat."
"Macet, Mbak."
Ia sudah hafal aku. Dua tahun jadi pelanggan tetap, tiap sore pulang kerja mampir. Kadang tidak perlu pesan, ia sudah menyiapkan kantong kresek berisi tahu isi lima dan tempe dua. Kesukaanku.
Mbak Endang itu janda. Umurnya tiga puluh empat, dua tahun lebih tua dariku. Suaminya meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung. Sejak itu ia jualan gorengan di ujung gang, menghidupi dirinya dan ibunya yang sudah sepuh.
Ia cantik dengan cara yang sederhana. Kulitnya sawo matang, rambutnya selalu dikonde, tangannya cekatan membolak-balik gorengan. Kalau tertawa, matanya menyipit dan suaranya renyah. Banyak pelanggan laki-laki yang betah antre lama-lama, bukan cuma karena gorengannya enak.
Aku sendiri tidak pernah berpikir macam-macam. Ia seperti kakak bagiku. Tempatku curhat soal kerjaan, soal macet, soal hidup. Ia pendengar yang baik.
Tiga bulan lalu, suatu Minggu pagi aku tidak sengaja papasan dengannya di pasar. Ia belanja bahan dagangan, aku beli sarapan. Ia memintaku membantunya mengangkat belanjaan ke motornya. Sejak itu, kadang aku menemaninya belanja kalau pas libur. Ia mengajariku memilih tahu yang bagus, tempe yang pas matangnya, pisang yang manis untuk pisang goreng.
"Kamu calon suami idaman nih," godanya suatu kali. "Bisa belanja, bisa angkat-angkat."
"Calon suami siapa?"
"Ya siapa aja yang beruntung." Ia mengedipkan mata, lalu tertawa.
Aku ikut tertawa waktu itu. Tidak kepikiran apa-apa. Tapi belakangan aku sadar, setiap kali ia menggoda seperti itu, ada sesuatu di matanya yang tidak ikut tertawa. Sesuatu yang sepi.
Suatu sore di bulan Oktober, langit mendung sejak siang. Aku mampir seperti biasa jam setengah enam. Antrean sepi karena orang takut hujan.
"Mbak, kayak biasa," kataku.
"Iya. Duduk dulu."
Aku duduk di bangku plastik di samping gerobak. Mbak Endang menggoreng pesananku. Langit makin gelap. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering.
"Mbak, kayaknya mau hujan gede," kataku.
"Iya nih. Mudah-mudahan dagangan habis dulu."
Tapi hujan tidak menunggu. Belum sempat gorenganku matang, rintik turun. Lalu deras. Sangat deras. Dalam hitungan detik gerobak kehujanan. Mbak Endang panik menutupi wajan dan adonan dengan terpal plastik.
Aku ikut membantu. Kami berdua menarik terpal, mengikatnya ke tiang gerobak. Bajuku basah kuyup. Bajunya juga. Daster bunga-bunga yang ia kenakan menempel di tubuhnya.
"Ya ampun, basah semua," keluhnya.
"Ke teras rumah Mbak aja. Nanti gerobaknya."
Rumahnya tepat di belakang gerobak, cuma lima langkah. Kami berlari ke terasnya yang beratap. Napas kami memburu. Hujan mengguyur gang dengan suara gemuruh.
Kami berdua tertawa. Lucu memang. Dua orang dewasa kehujanan seperti anak kecil.
"Masuk dulu, Mas Joko. Ganti baju. Nanti masuk angin."
"Nggak usah, Mbak. Nanti juga kering."
"Jangan ngeyel. Aku ambilin kaos almarhum suamiku. Muat kok."
Ia masuk ke dalam, lalu kembali membawa kaos oblong dan handuk. Aku mengganti bajuku di kamar mandi kecil di samping teras. Kaosnya agak kebesaran, tapi nyaman.
Waktu aku keluar, Mbak Endang sudah membuat teh manis panas dua gelas. Ia juga sudah berganti daster kering.
"Duduk," katanya.
Kami duduk di teras, menatap hujan yang belum juga reda. Teh manis hangat di tangan. Bau gorengan masih menempel di baju kami.
"Rugi nih hari ini," gumamnya. "Adonan masih banyak."
"Besok digoreng lagi bisa?"
"Nggak enak. Adonan nginep rasanya beda." Ia menghela napas. "Ya sudahlah. Rezeki nggak ke mana."
Aku menatapnya. Di bawah cahaya lampu teras, wajahnya terlihat lelah. Tapi tetap cantik.
"Mbak capek ya?"
"Capek sih enggak. Udah biasa." Ia menyeruput tehnya. "Cuma kadang... ya gitu."
"Gitu gimana?"
Ia menoleh padaku. "Mas Joko tahu nggak rasanya pulang ke rumah yang sepi? Ibu udah tidur. Nggak ada yang nanya dagangan habis atau enggak. Nggak ada yang mijitin bahu."
Dadaku sesak mendengarnya.
"Empat tahun, Mas. Empat tahun aku menjanda. Awalnya aku pikir aku kuat. Ternyata makin lama makin berat."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mendengarkan saja.
"Orang lihat aku ketawa-ketawa di gerobak, dikira aku bahagia. Padahal..." suaranya bergetar. "Padahal tiap malam aku nangis sendirian."
Tanganku terulur sendiri, menggenggam tangannya yang ada di meja. Tangannya kasar karena minyak panas dan kerja keras, tapi hangat.
Ia menatap tanganku, lalu menatapku. Tidak menarik tangannya.
"Mas Joko tahu nggak, kenapa aku selalu ingat pesananmu?" tanyanya pelan.
"Karena aku pelanggan tetap?"
"Bukan." Ia tersenyum tipis. "Karena tiap kamu datang, hariku jadi lebih ringan. Ada yang nanya kabarku. Ada yang dengerin ceritaku. Hal kecil, tapi buatku besar."
Dadaku terasa penuh. Aku tidak menyangka kehadiranku berarti sebesar itu baginya.
"Aku juga senang mampir, Mbak. Gorengannya enak, yang jual lebih enak dilihat."
Ia tertawa, tapi tawanya basah. "Kamu bisa aja."
Hujan di luar belum juga reda. Malah makin deras. Petir menyambar jauh.
"Mas Joko baik banget," bisiknya. "Dua tahun jadi pelangganku, nggak pernah nawar, nggak pernah rewel. Kadang bantuin angkat galon. Kamu kayak... kayak adekku sendiri."
Kata "adek" itu seharusnya jadi rem. Tapi caranya menatapku tidak seperti kakak menatap adek.
"Mbak..." kataku pelan.
Ia bergeser duduk, lebih dekat. Aku bisa mencium aroma minyak goreng bercampur sabun mandi dari tubuhnya. Daster barunya tipis, berwarna biru muda.
"Aku boleh jujur?" bisiknya.
"Boleh."
"Aku nggak mau kamu jadi adekku."
Jantungku berdegup kencang. Hujan masih deras di luar. Dunia menyusut tinggal teras kecil ini.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu, memberi kesempatan untuk mundur.
Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat. Ciuman itu makin dalam, makin lapar. Ada rasa teh manis di bibirnya.
Tanganku melingkar di pinggangnya. Tubuhnya hangat dan berisi, pas dalam pelukanku. Daster tipisnya bukan penghalang. Aku bisa merasakan setiap lekuknya.
"Ke dalam," bisiknya di sela ciuman.
Ia menuntunku masuk ke rumahnya. Ruang tamu kecil yang rapi. Foto almarhum suaminya di dinding. Aku sempat ragu, tapi ia menutup mataku dengan tangannya sekilas.
"Jangan lihat sana," bisiknya. "Lihat aku."
Kami masuk ke kamarnya. Sederhana tapi bersih. Bau melati samar-samar.
Di dalam kamar yang temaram, kami berdiri berhadapan dengan napas memburu.
"Yakin?" tanyaku, memberinya kesempatan terakhir.
Ia mengangguk. "Empat tahun aku nunggu. Jangan tanya lagi."
Ia melepas dasternya sendiri. Perlahan. Di bawahnya ia memakai bra dan celana dalam berwarna krem. Tubuhnya indah. Berisi di bagian yang tepat, kulit sawo matang yang mulus.
Aku melepas kaos pinjaman itu, lalu celanaku sendiri. Kami berdiri telanjang berhadapan, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Mengagumi.
Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai di bantal, pipinya memerah.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Bra-nya kubuka. Dadanya yang penuh dan ranum menyambutku. Ia mendesah keras dan menjambak rambutku.
Tanganku turun, menyusuri perutnya, menemukan tempat yang sudah basah dan siap. Ia mengangkat pinggulnya, mengundang.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar-lebar untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak pelan dulu. Saling merasakan. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.
"Mas," bisiknya. "Jangan pelan-pelan."
Aku mempercepat gerakanku. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Keringat bercampur. Di luar hujan masih turun, tapi kami tidak peduli.
Ia mendesah makin keras. Kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap gerakanku.
"Aku mau..." katanya terputus-putus.
"Lepasin aja, sayang."
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang masih memburu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang tergerai.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Buat apa?"
"Aku janda. Kamu bujangan. Orang bakal ngomong."
"Biarin orang ngomong." Aku mengecup keningnya. "Kita berdua yang tahu."
Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah kulihat darinya.
Hujan mulai reda. Ia bangun dan berganti daster. Aku mengembalikan kaos pinjaman dan memakai bajuku yang sudah agak kering.
Sebelum aku pulang, ia membungkus gorengan untukku. Tahu isi lima, tempe dua. Seperti biasa. Tapi kali ini ia menambah bakwan dua, gratis.
"Buat besok pagi," katanya.
"Makasih, Mbak."
"Joko," katanya tiba-tiba. "Besok mampir ya? Seperti biasa."
"Seperti biasa," jawabku.
Aku pulang malam itu dengan kantong gorengan hangat dan hati yang hangat juga.
Sejak sore hujan itu, ritual soreku berubah. Bukan cuma beli gorengan. Tapi juga mampir lebih lama, bantu membereskan gerobak, minum teh di teras. Dan kadang, kalau hujan turun dan gang sepi, ada ritual lain di dalam rumah kecil itu.
Pernah suatu sore ibunya bertanya kenapa aku sering mampir. Mbak Endang menjawab santai, katanya aku pelanggan paling setia dan suka bantu-bantu. Ibunya mengangguk-angguk sambil tersenyum, tidak curiga apa-apa. Aku menahan senyum waktu itu, dan Mbak Endang mencubit lenganku diam-diam di bawah meja.
Ibunya tidak pernah tahu. Para pelanggan tidak pernah tahu.
Yang mereka tahu, Gorengan Mbak Endang tetap yang terenak di gang. Antreannya tetap panjang. Mbak Endang tetap tersenyum renyah.
Mereka tidak tahu, senyum itu sekarang ada alasannya.
Dan setiap sore, waktu aku datang dan memesan seperti biasa, ia selalu menjawab sama.
"Tahu isi lima, tempe dua ya?"
Aku selalu mengangguk.
Padahal yang biasa itu sudah tidak biasa lagi. Tidak sama sekali.
Dan setiap gigitan tahu isi itu sekarang terasa lebih gurih. Mungkin karena dimasak dengan cinta. Atau mungkin karena aku yang memasaknya dengan mataku sendiri, setiap sore, sambil menatap perempuan yang membuatnya.
