CERITA DEWASA

Bioskop Tengah Malam

Layar raksasa berkedip-kedip memancarkan cahaya biru pucat ke seluruh studio. Deretan kursi merah berlapis beludru terbentang kosong di depannya, hanya terisi beberapa titik kepala yang berserakan. Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam, dan studio nomor tiga itu terasa seperti gua raksasa yang sunyi. Bau popcorn dan karpet berdebu bercampur dengan dinginnya semburan AC yang menusuk kulit.

Pramudya duduk di baris H, kursi nomor dua belas, dengan gelas soda besar yang sudah setengah kosong di tangannya. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu memang sengaja memilih jadwal paling malam. Setelah seminggu penuh dikejar deadline dan rapat yang tidak ada habisnya, ia butuh dua jam untuk tidak memikirkan apa pun selain cerita di layar. Film horor Indonesia yang sedang tayang bukan pilihan favoritnya, tapi jam segini hanya itu yang tersisa.

Di sebelah kanannya, dua kursi terpisah, seorang perempuan duduk sendirian. Rambutnya panjang tergerai, mengenakan jaket denim dan celana jeans. Dari sudut matanya, Pramudya sempat menangkap wajahnya saat lampu studio masih menyala tadi. Cantik, dengan hidung mancung dan bibir yang tidak memakai lipstik berlebihan.

Film baru berjalan dua puluh menit ketika perempuan itu bangkit dari kursinya. Ia melangkah pelan di kegelapan, lalu duduk di kursi tepat di sebelah Pramudya. Kursi nomor sebelas. Jarak di antara mereka kini hanya sandaran tangan.

"Maaf," bisiknya pelan. "Di sana dingin banget. AC-nya langsung ke leher."

Pramudya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Santai aja. Di sini juga dingin sih, tapi mendingan."

"Aku Ayunda," katanya, masih berbisik. "Kamu sendirian juga?"

"Pramudya. Iya, butuh hiburan setelah seminggu kerja."

Mereka kembali menatap layar. Filmnya bercerita tentang rumah tua di desa yang dihuni arwah penasaran. Suara gamelan yang sumbang mengiringi adegan demi adegan. Penonton lain nyaris tidak bersuara. Mungkin hanya ada tujuh atau delapan orang di studio sebesar itu.

Lima belas menit berlalu. Ayunda mulai sering bergerak gelisah di kursinya. Setiap kali adegan menegangkan muncul, tangannya mencengkeram sandaran tangan. Pramudya melirik sekilas. Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun itu, yang tadi menyebut umurnya saat mereka bertukar cerita singkat tentang pekerjaan, ternyata penakut juga.

"Kamu oke?" bisik Pramudya saat Ayunda menutup sebagian wajahnya dengan tangan.

"Filmnya serem banget," jawabnya dengan suara bergetar. "Aku nyesel nonton ini sendirian. Temenku batal di menit terakhir."

Adegan berikutnya menampilkan sosok bayangan melintas di lorong rumah tua. Musik berhenti total. Hening. Lalu suara jeritan melengking memecah studio. Ayunda spontan meraih lengan Pramudya dan merapat. Tubuhnya gemetar kecil.

"Sorry, sorry," katanya cepat, tapi tangannya tidak melepaskan lengan Pramudya.

"Nggak apa-apa," jawab Pramudya. "Aku juga kaget tadi."

Sejak saat itu, Ayunda tidak lagi menjaga jarak. Ia duduk miring menghadap Pramudya, lututnya hampir menyentuh lutut Pramudya. Setiap adegan menegangkan membuatnya semakin merapat. Pramudya bisa mencium aroma parfumnya, sesuatu yang manis bercampur segar, seperti bunga melati.

Di tengah film, saat adegan hantu menampakkan wajahnya dengan tiba-tiba, seluruh studio seperti menahan napas. Ayunda membenamkan wajahnya ke bahu Pramudya. Tangan Pramudya refleks merangkul bahunya, menenangkannya.

"Udah lewat," bisik Pramudya. "Aman."

Ayunda mengangkat wajahnya. Dalam cahaya redup dari layar, mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Napas Ayunda terasa hangat di pipi Pramudya. Ada sesuatu di tatapan itu, bukan hanya ketakutan. Ada rasa penasaran, ada keberanian yang tumbuh dari keintiman yang tidak direncanakan.

"Kamu baik banget," bisik Ayunda. Tangannya masih bertengger di lengan Pramudya, tapi kini genggamannya berubah. Lebih lembut, lebih disengaja.

Pramudya merasakan jantungnya berdebar lebih kencang dari saat adegan horor tadi. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, jarinya bergerak pelan mengusap bahu Ayunda yang tertutup jaket denim.

Mereka duduk seperti itu cukup lama, pura-pura menonton film, padahal perhatian keduanya sudah tidak lagi di layar. Setiap kali Ayunda bergeser, bahunya bergesekan dengan dada Pramudya. Setiap kali Pramudya bernapas, ia menghirup aroma rambut Ayunda yang baru saja dicuci.

"Aku jarang nonton sendirian," bisik Ayunda tiba-tiba. "Biasanya sama mantanku. Tapi kami putus tiga bulan lalu."

Pramudya mengangguk pelan. "Aku juga. Maksudku, aku juga lagi sendiri. Udah hampir setahun."

"Enak ya, nonton tengah malam gini. Sepi. Nggak ada yang berisik."

"Iya. Apalagi kursinya empuk."

Ayunda tertawa kecil, suara yang tertahan agar tidak mengganggu penonton lain. Tawanya membuat tubuhnya bergetar di pelukan Pramudya. Tanpa sadar, rangkulan Pramudya semakin erat.

Film memasuki babak ketiga. Suasananya semakin mencekam. Tapi bagi Pramudya dan Ayunda, ketegangan yang mereka rasakan bukan lagi berasal dari layar. Tangan Ayunda kini bergerak dari lengan Pramudya ke dadanya, meraba pelan di atas kaosnya. Pramudya menoleh, memastikan tidak ada yang memperhatikan. Kursi-kursi di sekitar mereka kosong. Penonton lain duduk jauh di baris depan.

Ayunda mendongak. "Kamu keberatan?" bisiknya.

Pramudya menggeleng. Ia justru menunduk, dan bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya ragu-ragu, lalu semakin dalam. Manis. Hangat. Jantung Pramudya seperti mau meledak. Tangan Ayunda melingkar di lehernya, menariknya lebih dekat.

Mereka berciuman cukup lama, disamarkan oleh gelapnya studio dan suara film yang menggelegar. Tangan Pramudya yang semula di bahu Ayunda kini turun ke pinggangnya, lalu merambat pelan. Ayunda tidak menolak. Malah ia bergeser hingga hampir duduk di pangkuan Pramudya, kakinya terlipat di kursi.

"Pindah ke pojok yuk," bisik Ayunda dengan napas tersengal. "Di sana lebih sepi."

Baris paling belakang, pojok kiri, benar-benar kosong. Mereka pindah dengan gerakan cepat namun hati-hati, membawa jaket dan tas masing-masing. Di sana, jauh dari penonton lain dan tertutup bayangan, mereka merasa seperti memiliki studio itu sendirian.

Ayunda duduk di pangkuan Pramudya, menghadapnya. Tangannya membuka kancing jaket denimnya sendiri, lalu melemparkannya ke kursi sebelah. Di baliknya ia mengenakan kaos tipis berwarna putih. Pramudya bisa melihat lekuk tubuhnya dengan jelas dalam cahaya layar yang berkedip.

"Kamu yakin?" tanya Pramudya, menatap matanya dalam-dalam.

Ayunda mengangguk mantap. "Aku mau. Kamu?"

Sebagai jawaban, Pramudya menciumnya lagi, kali ini lebih berani. Tangannya menyusup ke balik kaos Ayunda, merasakan kulit punggungnya yang halus dan hangat. Ayunda melenguh pelan, suaranya tenggelam dalam ledakan suara dari speaker studio.

Jari-jari Ayunda tidak kalah berani. Ia meraba dada Pramudya, lalu turun ke perutnya, merasakan otot-otot yang menegang di balik kaos. Pramudya mengangkat sedikit tubuhnya agar Ayunda lebih leluasa. Napas mereka berpacu, bercampur menjadi satu.

Pramudya melepaskan kaos Ayunda dengan perlahan, dibantu oleh Ayunda sendiri yang mengangkat kedua tangannya. Dalam temaram cahaya layar, tubuh Ayunda tampak seperti pahatan. Pramudya menatapnya dengan kagum, lalu mencium lehernya, turun ke bahu, dan semakin turun.

Ayunda memejamkan mata, kepalanya terkulai ke belakang. Tangannya mencengkeram rambut Pramudya. "Terus," bisiknya.

Suara film menjadi latar yang aneh namun menggairahkan. Jeritan hantu di layar berpadu dengan desahan mereka yang tertahan. Kursi bioskop yang empuk bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuh mereka.

Pramudya membuka celananya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memeluk Ayunda. Ayunda membantu, jemarinya yang lincah menyelesaikan apa yang dimulai Pramudya. Lalu dengan gerakan luwes, ia menurunkan celana jeansnya sendiri hingga ke lutut, lalu menendangnya ke lantai.

Mereka menyatu dalam kegelapan studio bioskop, diiringi musik horor yang semakin intens. Ayunda menggigit bibirnya agar tidak bersuara terlalu keras. Pramudya memeluknya erat, merasakan setiap lekuk tubuh perempuan itu. Gerakan mereka awalnya pelan dan hati-hati, takut menarik perhatian, tapi gairah membuat ritme itu semakin cepat dan dalam.

Keringat mulai membasahi dahi Pramudya meski AC bertiup kencang. Ayunda membisikkan namanya berulang-ulang di telinganya, suaranya parau dan penuh hasrat. Pramudya merasakan tubuh Ayunda menegang, lalu bergetar hebat dalam pelukannya. Beberapa detik kemudian, ia menyusul, menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Ayunda untuk meredam suaranya.

Mereka diam cukup lama, tetap berpelukan, mengatur napas. Film di layar sudah memasuki adegan penyelesaian. Hantu itu akhirnya berhasil diusir. Lampu studio perlahan menyala, tanda film akan segera selesai.

Ayunda segera merapikan pakaiannya dengan cekatan. Pramudya melakukan hal yang sama. Mereka saling pandang dan tertawa kecil, seperti dua anak nakal yang baru saja melakukan kenakalan.

"Gila," kata Ayunda sambil merapikan rambutnya. "Aku nggak nyangka malam ini jadi kayak gini."

"Aku juga," jawab Pramudya jujur. "Tapi aku nggak nyesel."

Mereka keluar dari studio bersama para penonton lain yang masih mengucek mata. Di lobi bioskop yang terang benderang, Ayunda tampak sedikit salah tingkah, tapi senyumnya tidak hilang dari wajahnya.

"Mau minum kopi dulu?" tawar Pramudya. "Masih jam satu. Warung kopi depan masih buka kayaknya."

Ayunda mengangguk. "Boleh. Aku juga belum ngantuk."

Mereka berjalan berdampingan keluar dari mal yang sudah sepi. Tangan mereka bersentuhan, lalu tanpa dikomando, jari-jari mereka bertautan. Pramudya melirik Ayunda. Perempuan itu menatap lurus ke depan, tapi senyum di bibirnya melebar.

Di warung kopi tenda depan mal, mereka duduk berhadapan dengan dua gelas kopi panas. Obrolan mengalir santai, tentang pekerjaan, tentang film-film favorit, tentang kenapa mereka sama-sama memilih nonton tengah malam. Ayunda ternyata bekerja sebagai desainer grafis di sebuah agensi, hanya beda beberapa blok dari kantor Pramudya.

"Kita tukeran nomor ya," kata Ayunda sambil menyodorkan ponselnya. "Siapa tahu bisa nonton bareng lagi. Yang nggak horor kali ini."

Pramudya tertawa. "Setuju. Komedi romantis aja."

Mereka bertukar nomor, lalu mengobrol sampai kopi mereka habis dan pemilik warung mulai membereskan kursinya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Ayunda memesan ojek online, Pramudya menunggu sampai mobilnya datang.

Sebelum naik, Ayunda berbalik dan mencium pipi Pramudya sekilas. "Makasih buat malam ini," bisiknya. "Yang paling seru bukan filmnya."

Pramudya tersenyum lebar. "Sama-sama. Hati-hati di jalan."

Mobil ojek itu melaju pergi, meninggalkan Pramudya sendirian di trotoar yang sepi. Ia menatap layar ponselnya, nama Ayunda sudah tersimpan di kontak. Malam yang awalnya hanya pelarian dari penat berubah menjadi awal dari sesuatu yang tidak ia duga.

Sambil berjalan menuju parkiran motornya, Pramudya berpikir bahwa kadang hal terbaik dalam hidup datang tanpa rencana. Seperti memilih jadwal nonton paling malam, duduk di kursi yang kebetulan kosong di sebelah perempuan asing, dan membiarkan malam berbicara sendiri.

Ia menyalakan motornya dan melaju pulang, dengan senyum yang tidak mau hilang dari wajahnya.

bagikan