Bau minyak tawon menyengat lembut di udara. Dari speaker kecil di sudut ruangan mengalun gamelan pelan, genderang dan saron yang ritmis seperti detak jantung yang tenang. Handuk hangat menempel di punggungku, uapnya naik ke wajah, membuat kelopak mataku berat.
"Aduh, Pak Budi, punggungnya keras banget minggu ini," kata sebuah suara perempuan di belakangku. "Angkat galon lagi ya?"
Aku tertawa kecil, wajahku terbenam di lubang sandaran kursi pijat. "Ketahuan. Di gudang lagi sepi orang, jadi semua dikerjain sendiri."
Itu Rosa. Tiga puluh dua tahun, terapis pijat refleksi di Griya Pijat Sehat, tempat langgananku dua tahun terakhir. Tangannya ajaib. Jemari yang lentur tapi kuat, tahu persis di mana ototku tegang dan seberapa keras harus menekan.
Aku, Budi, tiga puluh enam tahun, karyawan logistik di sebuah perusahaan distributor. Kerjaanku mengangkat, menurunkan, mencatat, mengangkat lagi. Punggungku adalah korban utama. Dulu aku coba pijat di beberapa tempat, tapi sejak ketemu Rosa, aku tidak pernah pindah.
Rosa itu janda. Suaminya meninggal empat tahun lalu karena serangan jantung. Ia punya satu anak perempuan umur delapan tahun yang tinggal sama ibunya di kampung. Rosa tinggal sendirian di kos tidak jauh dari tempat pijat ini.
Ia cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat. Rambutnya panjang dan selalu dikuncir rapi waktu kerja. Kulitnya kuning langsat, senyumnya manis. Seragam terapisnya, atasan putih dan celana training hitam, tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang proporsional.
Aku selalu minta diterapi Rosa. Kalau Rosa libur, aku lebih pilih pulang daripada diganti terapis lain. Pemilik tempat pijat, Pak Haji, sampai hafal. "Rosa lagi ada tamu, Pak Budi. Mau nunggu setengah jam?" Dan aku selalu bilang mau.
Minggu lalu aku datang dengan leher yang kaku karena salah bantal. Rosa memijat leherku hampir dua puluh menit, fokus, tidak banyak bicara. Waktu selesai, ia menepuk bahuku pelan.
"Udah, ganteng lagi," candanya.
Aku tertawa. "Berarti kemarin jelek?"
"Kemarin kucel. Sekarang ganteng." Ia menyerahkan handuk hangat untuk mengelap minyak. "Jangan begadang main HP, makanya."
Perhatian kecil seperti itu yang bikin aku betah. Rosa tidak cuma memijat. Ia merawat. Ia ingat keluhanku minggu lalu, ia ingat aku tidak suka minyak yang terlalu panas, ia ingat aku selalu minta tambahan sepuluh menit di bagian pinggang.
Sore itu hari Kamis. Tempat pijat sepi. Hujan rintik-rintik di luar membuat orang malas keluar. Cuma ada aku dan satu pelanggan lain di ruangan sebelah, yang ditangani terapis bernama Yuli.
"Pak Budi mau paket yang biasa? Sembilan puluh menit?" tanya Rosa sambil menyiapkan minyak.
"Yang biasa, Mbak."
"Mbak terus. Panggil Rosa aja, Pak. Kita kan udah kenal dua tahun."
Aku tersenyum. "Ya udah. Rosa."
Sesi dimulai. Tangannya bekerja di punggungku dengan gerakan yang sudah kuhafal. Menekan di sepanjang tulang belakang, memutar di belikat, menekan titik-titik di pinggang. Sakit yang enak. Rasa nyeri yang perlahan luluh.
"Rosa kerja di sini udah lama?" tanyaku untuk mengisi keheningan.
"Lima tahun, Pak. Eh, Budi." Ia terkekeh. "Susah ya manggil nama doang."
"Nggak apa-apa, panggil Pak juga boleh."
"Ogah. Berasa tua."
Kami tertawa. Tangannya tidak berhenti bekerja. Ia pindah ke bahuku, meremas otot trapezius yang kaku seperti batu.
"Capek ya jadi terapis?" tanyaku.
"Capek sih. Tapi lumayan. Anakku bisa sekolah, ibuku bisa berobat." Ia berhenti sejenak. "Cuma kadang... ya gitu."
"Gitu gimana?"
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya melambat, gerakannya jadi lebih lembut, hampir seperti belaian.
"Kadang aku iri sama pelanggan," katanya pelan.
"Iri kenapa?"
"Mereka datang ke sini buat disentuh. Buat dirawat. Dibikin nyaman." Suaranya mengecil. "Aku tiap hari nyentuh orang, tapi nggak ada yang nyentuh aku."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Gamelan masih mengalun, tapi seperti dari jauh. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang.
"Rosa..."
"Maaf ya, Budi. Ngelantur." Ia tertawa kecil, tapi tawanya hambar. "Jangan dimasukin hati."
"Tapi aku masukin hati."
Tangannya berhenti. Aku mengangkat kepalaku dari lubang sandaran dan menoleh. Ia berdiri di samping kursi pijat, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Aku serius," kataku. "Kamu tiap minggu bikin punggungku enakan. Kamu rawat aku. Masa aku nggak boleh rawat kamu balik?"
Ia menatapku lama. Lalu perlahan, ia duduk di kursi kecil di sebelahku. Tangannya yang tadi berhenti di bahuku, sekarang menggenggam tanganku.
"Tanganku kasar ya?" tanyanya pelan.
"Tanganmu ajaib."
Kami diam. Hujan di luar makin deras. Dari ruangan sebelah terdengar suara Yuli pamit ke pelanggannya. Lalu pintu depan berbunyi. Pelanggan itu pulang. Tinggal kami berdua di tempat pijat yang sepi.
Rosa berdiri dan mengunci pintu depan. "Biar nggak ada yang masuk," katanya. Lalu ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram di sudut ruangan.
Jantungku berdegup kencang. Ini bukan bagian dari paket sembilan puluh menit.
Ia kembali ke sampingku. "Budi, aku boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku udah lama nggak disentuh sebagai perempuan. Bukan sebagai terapis. Sebagai perempuan." Ia menggigit bibir bawahnya. "Kamu... kamu mau?"
Aku bangkit dari kursi pijat. Handuk yang menutupi punggungku melorot. Aku tidak peduli. Aku berdiri menghadapnya.
"Rosa, kamu yakin?"
Ia mengangguk. Lalu ia yang mendekat duluan dan menciumku.
Bibirnya lembut dan hangat, ada rasa minyak tawon yang samar. Ciuman itu awalnya ragu, seperti ia lupa caranya. Tapi kemudian ia menyerahkan diri sepenuhnya. Tangannya yang ajaib itu melingkar di leherku, menarikku merapat.
Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Tubuhnya ramping tapi berisi, hangat dalam pelukanku. Seragam putihnya tipis; aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.
Kami berciuman cukup lama di tengah ruangan pijat yang temaram, diiringi gamelan yang masih mengalun pelan. Rasanya sureal. Seperti mimpi.
Tanganku mulai menjelajah. Naik ke punggungnya, turun ke pinggangnya. Ia mendesah di mulutku. Desahan itu membuat darahku berdesir.
"Ke belakang," bisiknya. "Ada ruang istirahat terapis."
Ia menuntunku ke sebuah ruangan kecil di belakang. Ada kasur lipat, lemari kecil, dan kipas angin. Pintu ditutupnya dan dikunci.
Di dalam ruangan sempit itu, kami saling menatap dengan napas memburu. Lampu ruangan itu lebih terang, dan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Pipi memerah, mata berkilat, bibir sedikit bengkak karena ciuman.
"Cantik," bisikku.
Ia tersenyum malu, lalu mulai membuka kancing seragamnya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Seragam putih itu melorot, menyisakan ia dalam balutan bra dan celana dalam berwarna hitam.
Tubuhnya indah. Kulit kuning langsatnya mulus. Dadanya penuh dan kencang. Perutnya rata dengan sedikit lekuk di pinggang.
Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat dan lembut, wangi minyak tawon bercampur parfum melati. Aku menciumi lehernya, dan ia mendesah panjang.
"Pelan-pelan," bisiknya. "Aku udah lama nggak... jadi pelan-pelan aja."
"Iya, sayang. Pelan-pelan."
Aku membaringkannya di kasur lipat. Kasur itu sempit, jadi kami harus merapat. Justru itu yang kuinginkan. Tidak ada jarak di antara kami.
Aku menciumi seluruh tubuhnya dengan sabar. Leher, bahu, dada. Setiap ciuman disambut desahan lembut. Tangannya yang ajaib itu sekarang menjelajah tubuhku, meremas bahuku, mengelus punggungku.
Bra-nya kubuka. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan lembut, dan ia melengkungkan punggungnya, mendesah lebih keras.
"Rosa..."
"Jangan berhenti."
Celana dalamnya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang berhadapan di ruang istirahat yang sempit itu. Bau minyak tawon masih menempel di kulit kami, bercampur aroma tubuh yang makin memanas.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, lembut, dalam. Sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang lambat dan dalam. Tidak terburu-buru. Seperti sesi pijat yang paling nikmat, setiap gerakan disengaja dan dinikmati. Tangannya mengelus wajahku, menatapku dalam-dalam.
"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen banget disentuh."
Aku mencium keningnya, lalu bibirnya, sambil terus bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Kasur lipat berderit pelan mengikuti ritme kami.
Pelan-pelan gerakannya bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak mengimbangi setiap gerakanku. Kukunya yang pendek menancap di bahuku.
"Jangan pelan-pelan lagi," pintanya dengan suara serak.
Aku mempercepat. Napas kami memburu. Di luar hujan masih turun, tapi kami tidak peduli. Dunia menyusut tinggal ruangan kecil ini.
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama di kasur lipat yang sempit itu. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang tergerai.
"Gila," bisiknya sambil tertawa kecil.
"Gila yang enak."
Ia mengangkat wajahnya menatapku. "Budi, ini nggak akan jadi masalah kan? Kamu pelanggan tetapku."
"Justru itu. Aku bakal makin sering datang."
Ia tertawa, lalu mencium pipiku. Kami berpakaian kembali. Ia merapikan seragamnya, aku merapikan kaosku. Tidak ada kecanggungan. Hanya kehangatan.
Sebelum aku pulang, ia memijat bahuku sebentar. "Bonus," katanya. "Biar besok nggak kaku lagi."
"Bonusnya keterlaluan."
Sesi sembilan puluh menit itu berakhir jadi hampir tiga jam. Pak Haji tidak protes. Mungkin ia tahu, atau mungkin ia tidak mau tahu.
Sejak sore itu, ritualku berubah. Bukan cuma pijat tiap Kamis. Tapi juga mampir kadang Selasa atau Sabtu, dengan alasan punggung kaku. Rosa selalu tersenyum waktu melihatku masuk.
"Pak Budi, Rosa lagi kosong. Mau langsung?" tanya Pak Haji.
"Mau," jawabku selalu.
Dan setiap kali pintu depan dikunci dan lampu utama dimatikan, ada sesi tambahan yang tidak ada di daftar harga. Sesi yang cuma kami berdua yang tahu.
Punggungku sekarang jarang sakit. Entah karena pijatannya, atau karena ada yang lain yang menyembuhkan. Mungkin keduanya.
Yang jelas, tiap Kamis sore aku selalu datang dengan punggung kaku dan pulang dengan senyum lebar. Kadang Pak Haji menggodaku waktu membayar di kasir.
"Pak Budi, kok makin seger tiap habis pijat?"
Aku cuma nyengir. Biar jadi rahasia kami.
Rosa bilang tangannya ajaib. Tapi yang ajaib sebenarnya bukan tangannya. Yang ajaib adalah apa yang terjadi waktu tangan itu berhenti memijat dan mulai memeluk.
