Lampu butik itu terang benderang, wangi parfum menyambut begitu pintu kaca terbuka. Rak-rak pakaian tertata rapi, dan di sudut ada tirai ruang pas yang tertutup setengah. Aku berdiri di ambang pintu seperti orang tersesat, menatap lautan baju perempuan yang tidak kumengerti satu pun.
"Cari apa, Mas? Boleh saya bantu?"
Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di dekat kasir, tersenyum ramah. Rambutnya panjang tergerai, seragam butiknya rapi, name tag di dadanya bertuliskan Citra.
"Anu, Mbak. Saya cari kado. Buat adik saya."
"Adiknya umur berapa? Cewek ya?"
"Dua puluh lima. Cewek."
Citra mengangguk, lalu berjalan menghampiriku. "Budgetnya berapa, Mas?"
"Ya, tiga ratus ribuan lah."
"Oke. Ikut saya."
Begitulah awal perkenalanku dengan Citra. Umurnya dua puluh tujuh, sudah empat tahun kerja di butik itu. Profesional, sabar, dan cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat. Ia membantuku memilih blouse dan rok, menjelaskan soal ukuran, warna kulit, sampai model yang lagi tren. Aku yang buta fashion cuma bisa mengangguk-angguk.
Akhirnya aku beli satu set blouse krem dan rok plisket. Adikku suka, katanya pas banget. Aku tidak tahu itu karena pilihanku atau pilihan Citra. Kemungkinan besar yang kedua.
Seminggu kemudian aku kembali ke butik itu. Alasannya cari kado lagi, kali ini buat teman kantor. Bohong. Aku cuma pengen ketemu Citra.
"Lho, Mas yang kemarin," sapanya ceria. "Adiknya suka kadonya?"
"Suka banget. Makasih ya, Mbak."
"Panggil Citra aja."
"Arif."
Sejak itu aku jadi sering mampir. Kadang dua minggu sekali, kadang seminggu sekali. Alasannya selalu cari kado. Buat teman, buat sepupu, buat siapa saja yang bisa kupikirkan. Dompetku menipis, tapi aku tidak peduli.
Citra selalu melayaniku dengan sabar. Ia hafal seleraku sekarang, atau lebih tepatnya selera perempuan-perempuan fiktif yang kubuat-buat sebagai alasan. Kami jadi akrab. Ngobrol soal kerjaan, soal macet, soal film.
Namaku Arif, tiga puluh satu tahun, karyawan swasta yang hidupnya monoton. Kantor, kos, kantor, kos. Citra adalah satu-satunya warna dalam rutinitasku yang abu-abu.
Kunjungan keempatku, aku datang jam makan siang. Butik sepi, Citra sedang makan bekal di ruang kasir.
"Eh, Mas Arif. Lagi makan nih," katanya sambil menutup kotak bekalnya, agak malu.
"Nggak apa-apa, lanjut aja. Aku lihat-lihat dulu."
"Nggak enak. Temenin ngobrol aja sini." Ia menggeser kursi. "Udah makan?"
"Belum. Nanti aja."
Ia membuka kembali kotak bekalnya. "Nih, icip. Ayam kecap buatanku."
Aku mengambil sepotong. Enak. "Kamu masak sendiri?"
"Iya. Anak kos juga, Mas. Ngekos di belakang butik." Ia tertawa. "Nasib anak rantau."
Kami ngobrol hampir setengah jam lamanya. Soal kos-kosannya yang bocor kalau hujan, soal ibunya di kampung yang tiap telepon nanya kapan nikah, soal cita-citanya buka butik sendiri suatu hari nanti.
"Amin," kataku. "Nanti aku jadi pelanggan pertama."
"Janji ya."
"Janji."
Hari itu aku pulang tanpa beli apa-apa. Tapi rasanya seperti menang lotre. Untuk pertama kalinya, Citra terlihat sebagai manusia biasa, bukan cuma pramuniaga yang ramah. Anak kos, rantau, dimasakin ibu lewat telepon. Sama sepertiku.
Suatu Sabtu sore aku datang lagi. Butik sepi, cuma ada aku dan Citra. Karyawan lain sudah pulang duluan.
"Sepi ya," kataku.
"Iya. Sabtu sore orang-orang pada ke mal yang gede." Citra duduk di kursi kasir. "Mas Arif mau cari kado buat siapa lagi nih?"
Aku tertawa. "Kali ini jujur. Nggak cari kado. Cuma pengen mampir."
Ia tertegun, lalu tersenyum. "Akhirnya ngaku juga."
"Kelihatan banget ya?"
"Dari kunjungan ketiga juga udah kelihatan, Mas." Ia terkekeh. "Alasan kadonya makin ngawur. Kemarin buat siapa? Teman SMA yang udah sepuluh tahun nggak ketemu?"
Kami tertawa bersama. Suasana jadi santai, akrab, tanpa sekat penjual dan pembeli.
"Ngomong-ngomong, Citra nggak bosen kerja di sini? Empat tahun kan lama."
"Bosen sih kadang. Tapi gajinya lumayan, bosnya baik." Ia memainkan pulpen di tangannya. "Lagipula aku belum tahu mau kerja apa lagi."
"Pacar nggak protes kerja sampai malam terus?"
Citra terdiam sesaat. Senyumnya memudar. "Udah nggak ada."
"Nggak ada apa?"
"Pacar." Ia menatapku. "Putus dua bulan lalu."
Aku merasa bersalah sudah bertanya. "Maaf."
"Nggak apa-apa." Ia menghela napas. "Dia selingkuh. Sama teman sekantornya. Ketahuan dari chat."
"Ya ampun."
"Tiga tahun pacaran, Mas. Tiga tahun." Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat mengedipkannya pergi. "Maaf, jadi curhat."
"Nggak apa-apa. Aku pendengar yang baik."
Ia tersenyum tipis. "Iya, kelihatan. Makanya aku betah ngobrol sama kamu."
Percakapan itu berlanjut hampir satu jam. Butik tetap sepi. Di luar, langit mulai gelap. Citra cerita soal mantannya, soal rencana-rencananya yang buyar, soal takutnya mulai dari nol lagi di umur dua puluh tujuh.
"Aku ngerti," kataku. "Aku juga pernah. Pacaran empat tahun, putus setahun lalu. Dia nikah sama orang lain."
"Serius?"
"Serius. Undangannya masih kusimpan. Nggak tahu buat apa."
Kami tertawa, tawa orang-orang yang pernah patah hati dan belajar menertawakannya.
"Mas Arif," kata Citra tiba-tiba. "Boleh aku jujur?"
"Boleh."
"Aku seneng kamu sering mampir. Tiap kamu datang, hariku jadi lebih enak." Ia menatapku. "Aku tahu kamu datang bukan buat beli baju."
Jantungku berdegup kencang. "Terus aku datang buat apa?"
"Buat aku." Ia tersenyum malu-malu. "Kan?"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku bangkit dari kursiku, berjalan ke kasir, dan menggenggam tangannya yang ada di meja.
Ia tidak menarik tangannya.
Kami berpandangan cukup lama. Lampu butik yang terang membuat semuanya jelas. Tidak ada yang disembunyikan. Matanya yang indah menatapku dengan berani dan ragu sekaligus.
"Citra," bisikku.
"Jangan ngomong," katanya. "Nanti aku mikir."
Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku ke ruang belakang butik. Ada gudang kecil dan ruang istirahat karyawan. Pintu ditutupnya. Suara dari depan butik meredup.
Ruang istirahat itu sempit. Ada sofa, dispenser, dan loker karyawan. Lampu neonnya terang.
Kami berdiri berhadapan. Napasnya terdengar jelas. Aku bisa mencium parfumnya, wangi bunga yang lembut.
"Aku udah lama pengen ini," bisiknya.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu ketiga kali datang dengan alasan kado yang ngawur."
Aku tertawa kecil, lalu mendekat dan menciumnya. Pelan dulu, memberi ruang untuk mundur.
Ia tidak mundur. Bibirnya yang lembut menyambutku. Tangannya naik ke tengkukku. Ciuman itu makin dalam, makin lapar. Ada rasa lipstik manis di bibirnya.
Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping. Seragam butiknya ketat di bagian yang tepat, mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.
Kami berciuman cukup lama di ruang sempit itu. Dunia luar tidak ada. Tidak ada butik, tidak ada pelanggan, tidak ada masa lalu yang menyakitkan. Hanya kami berdua.
Tanganku mulai berani. Menyusup ke balik blusnya, menyentuh kulit punggungnya yang halus. Ia mendesah di mulutku.
"Mas," bisiknya di sela ciuman. "Kunci pintunya."
Aku mengunci pintu ruang istirahat. Klik. Suara itu membuat jantungku berdegup makin kencang.
Citra mulai membuka kancing blus seragamnya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Di bawah blus itu ia memakai kamisol tipis berwarna hitam.
"Cantik," bisikku.
Ia tersipu, tapi tidak berhenti. Kamisolnya dilepas, menyisakan bra hitam berenda. Dadanya yang selama ini cuma bisa kulihat dari balik seragam, sekarang nyaris terpampang di depanku. Penuh, kencang, indah.
Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat dan halus. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Bra-nya kubuka. Ia membiarkanku. Dadanya yang ranum menyambutku, putingnya sudah mengeras.
Aku membaringkannya di sofa yang sempit. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai, pipinya memerah. Cantik sekali.
Aku menciumi dadanya dengan lembut, lalu turun ke perutnya yang rata. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya menjambak rambutku.
Rok seragamnya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di ruang istirahat butik yang terang benderang itu, dan anehnya aku tidak merasa malu. Yang kurasakan cuma gairah yang meluap.
Tubuhnya indah. Ramping, kulit mulus, kaki jenjang. Ia bukan model, tapi di mataku ia lebih cantik dari model mana pun.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak pelan dulu. Sofa berderit pelan mengikuti ritme kami. Tangannya mengelus punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku.
"Jangan pelan-pelan," bisiknya.
Aku mempercepat gerakanku. Ia mendesah makin keras, tidak peduli lagi suaranya terdengar sampai depan atau tidak. Untung butiknya sepi.
Keringat mulai membasahi tubuh kami. Napas kami memburu. Lampu neon di atas kami terasa makin terang, makin panas.
Ia mencapai puncaknya dengan tubuh bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam di sofa yang sempit, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.
"Gila," bisiknya akhirnya.
"Gila yang enak."
Ia tertawa kecil. "Kalau ada pelanggan datang gimana?"
"Pintu depan kan dikunci? Jam tutup?"
"Setengah jam lagi."
Kami berpakaian kembali dengan cepat. Ia merapikan seragamnya, aku merapikan kaosku. Tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi di ruang istirahat itu.
Sebelum aku pulang, ia memberiku kantong belanja kecil. Isinya dasi.
"Buat apa?" tanyaku.
"Kado. Biar alasanmu mampir berikutnya lebih masuk akal." Ia mengedipkan mata. "Bilang aja mau cari dasi yang cocok."
Aku tertawa. "Kamu pinter."
Sejak hari itu, aku jadi pelanggan dasi. Tiap dua minggu aku mampir cari dasi. Koleksi dasiku sekarang ada belasan, padahal aku jarang pakai dasi.
Tapi yang kucari bukan dasi. Yang kucari adalah satu jam di ruang istirahat, di sofa yang sempit, dengan perempuan yang membuat hidupku yang monoton jadi berwarna.
Citra tidak pernah tahu, setiap kali aku masuk butik itu dan melihatnya tersenyum dari balik kasir, dadaku selalu sesak.
Bukan karena lampu butik yang terang. Tapi karena dia.
Dan setiap kali pintu kaca itu terbuka dengan bunyi khasnya, aku tahu hariku akan baik-baik saja.
