Ting. Pintu otomatis minimarket terbuka dengan bunyi khasnya. Udara dingin berembus ke wajah, bercampur aroma kopi instan dan pembersih lantai.
Jam satu pagi. Lampu neon putih menyala terang, memantul di lantai keramik yang mengkilap. Lorong-lorong rak terlihat kosong. Tidak ada pelanggan lain. Hanya aku dan deru mesin pendingin di sudut ruangan.
Aku berjalan pelan ke rak minuman. Mengambil dua kaleng kopi hitam dingin. Lalu ke rak rokok di belakang kasir.
"Malam, Mas," sapa kasir itu sambil tersenyum.
"Malam," jawabku.
Ini ritualku hampir setiap malam. Sudah tiga bulan. Insomnia membuatku tidak bisa tidur sebelum jam tiga pagi, dan minimarket 24 jam di ujung gang kos adalah satu-satunya tempat yang masih buka dan masih hidup di jam segini.
Namanya Novi. Aku tahu dari name tag di dadanya. Umurnya dua puluh enam, ia pernah cerita waktu kami ngobrol suatu malam yang sepi. Bukan mahasiswi, bukan anak magang. Karyawan tetap yang sudah tiga tahun kerja di minimarket ini. Belum menikah. Tinggal sama ibunya di kampung sebelah.
Aku sendiri, Ilham, dua puluh sembilan tahun, kerja sebagai desainer grafis lepas. Kerja dari kos, begadang tiap malam, tidur jam empat subuh. Hidup berantakan tapi aku menikmatinya.
"Kopi dua, rokok satu," katanya sambil memindai barang-barangku. Tangannya lincah. "Total dua puluh tujuh ribu."
Aku membayar dengan uang pas. Ia mengembalikan kembalian receh dan permen mint, seperti biasa.
"Masih belum bisa tidur, Mas?" tanyanya.
"Belum. Kamu? Ngantuk?"
"Udah biasa. Tiga tahun shift malam, badan udah nyerah protes."
Aku tertawa. Lalu seperti biasa, aku tidak langsung pulang. Aku duduk di kursi plastik di area makan kecil di sudut minimarket, membuka kaleng kopi, menyalakan rokok. Novi kembali ke kursinya di kasir, memainkan HP.
Kadang kami ngobrol. Kadang diam saja. Ada kenyamanan aneh di antara kami, dua orang yang sama-sama terjaga di jam orang lain tidur.
Malam itu hujan turun. Awalnya rintik, lalu deras. Aku mendengar bunyi hujan menghantam atap seng di atas parkiran. Novi menoleh ke jendela kaca.
"Hujan," gumamnya.
"Iya. Untung aku bawa payung."
"Payung lipat kecil itu? Basah juga."
Aku tertawa. "Ya udah, basah dikit."
Ia berdiri dan berjalan ke pintu, mengunci dari dalam. "SOP kalau hujan deras gini. Takut ada yang nekat maling."
"Kamu sendirian terus jaga malam?"
"Iya. Dulu berdua, tapi yang satu resign. Belum ada gantinya."
"Nggak takut?"
"Awalnya takut. Lama-lama bosen takutnya." Ia kembali duduk. "Yang paling berat bukan takutnya, Mas. Sepinya."
Aku mengangguk. Aku paham sepi jam satu pagi.
"Pacar kamu nggak protes kerja malam terus?" tanyaku.
Ia tertawa kecil. "Nggak punya pacar."
"Masa? Cantik gini."
"Cantik doang nggak cukup, Mas. Laki-laki maunya yang bisa diajak jalan malam minggu. Aku malah tidur siang."
"Ya cari yang shift malam juga."
"Ide bagus. Tapi di mana? Di sini pelanggannya bapak-bapak beli rokok sama anak nongkrong beli es teh."
Kami tertawa bersama. Tawanya renyah, memecah kesunyian minimarket.
Hujan makin deras. Petir menyambar jauh. Lampu neon berkedip sekali, lalu mati total. Gelap.
"Ya ampun!" seru Novi.
Aku meraba-raba HP di sakuku dan menyalakan senter. Cahaya putih menyorot wajah Novi yang kaget. Di belakangnya, rak-rak minimarket terlihat seperti siluet raksasa.
"Listrik padam," kataku.
"Gensetnya ada, tapi nyalanya manual. Di gudang belakang." Suaranya sedikit gemetar. "Mas, temenin aku ke belakang."
Aku mengangguk. Kami berjalan beriringan ke koridor belakang, diterangi senter HPku. Gudang itu sempit, penuh kardus stok barang. Novi jongkok di depan panel genset dan menekan beberapa tombol. Mesin menderu pelan, lalu lampu menyala kembali. Tapi hanya lampu darurat yang redup kekuningan, bukan neon putih yang terang.
"Genset cuma kuat lampu sama kulkas," jelasnya. "AC mati."
Udara langsung terasa pengap. Kami kembali ke depan. Minimarket terlihat beda dalam cahaya kuning redup. Lebih hangat, lebih intim. Hujan masih deras di luar.
"Anget ya," kata Novi sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Iya."
Ia membuka dua botol air mineral dingin dan memberiku satu. Kami duduk di kursi plastik, tidak di kasir dan di area makan, tapi bersebelahan, menghadap jendela kaca yang berembun.
"Mas Ilham," katanya tiba-tiba. "Boleh aku nanya?"
"Boleh."
"Kamu insomnia kenapa? Pasti ada sebabnya."
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah nanya itu. Orang-orang cuma bilang "jangan begadang" atau "minum susu anget".
"Dulu aku kerja kantoran," kataku akhirnya. "Target, lembur, bos galak. Tidurku berantakan sejak itu. Sekarang udah freelance, tapi pola tidurnya nggak balik-balik."
"Kasihan."
"Nggak apa-apa. Malah gara-gara insomnia aku kenal kamu."
Ia menoleh. Dalam cahaya kuning redup, wajahnya terlihat lembut. Tidak ada lagi senyum profesional kasir. Yang ada senyum perempuan biasa.
"Mas bisa aja," katanya pelan.
Kami diam. Hujan menjadi satu-satunya suara. Aku bisa mencium parfumnya, wangi yang manis dan segar, bercampur aroma kopi dari napasku sendiri.
Tanganku yang memegang botol air bersentuhan dengan tangannya. Kami berdua tidak menarik tangan.
"Novi," kataku pelan.
"Iya?"
"Aku..."
Aku tidak menyelesaikan kalimatku. Aku malah mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu.
Ia tidak mundur. Malah memejamkan mata dan membalas. Bibirnya lembut dan dingin karena air mineral. Tangannya naik ke pipiku.
Ciuman itu makin dalam. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang. Tiga bulan aku datang ke minimarket ini tiap malam, dan tidak pernah kubayangkan malam ini akan seperti ini.
Tanganku melingkar di pinggangnya. Seragam minimarketnya yang longgar tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Ia ramping tapi berisi di tempat yang tepat.
"Mas," bisiknya di sela ciuman. "Jangan di sini. Ada CCTV."
Ia menunjuk kamera kecil di sudut langit-langit. Lampu merahnya masih menyala, merekam dalam gelap.
"Gudang," bisiknya. "Di sana nggak ada kamera."
Jantungku berdegup makin kencang. Ia berdiri dan menarik tanganku. Kami berjalan cepat ke gudang belakang, melewati koridor sempit. Pintu gudang ditutupnya. Kuncinya diputar. Klik.
Di dalam gudang yang remang-remang, di antara tumpukan kardus mie instan dan air mineral, kami berdiri berhadapan dengan napas memburu.
"Yakin?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Aku udah lama pengen. Tiap malam kamu datang, aku... aku nungguin."
Pengakuan itu membuat darahku berdesir. Ternyata bukan cuma aku yang merasakan sesuatu selama tiga bulan ini.
Aku menciumnya lagi, kali ini tanpa ragu. Ia membalas dengan lapar. Tangannya menarik kaosku ke atas. Aku melepasnya. Lalu tanganku membuka kancing seragamnya satu per satu.
Di balik seragam itu ia memakai tank top putih tipis. Dadanya yang selama ini tersembunyi ternyata indah. Tidak besar, tapi kencang dan ranum.
"Kamu cantik," bisikku.
"Jangan ngomong. Cium aku."
Aku menurut. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke tumpukan kardus di belakangnya. Tangannya menjambak rambutku.
Tank topnya kulepas. Ia tidak memakai bra. Mungkin karena gerah, mungkin karena memang kebiasaannya. Dadanya yang mungil menyambutku dengan puting yang sudah mengeras.
Aku menciuminya dengan lembut. Ia melenguh pelan dan meremas bahuku.
Celana seragamnya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di gudang minimarket yang pengap, dikelilingi kardus-kardus, dengan suara hujan sebagai musik latar.
Tubuhnya indah. Kulitnya putih bersih, mungkin karena jarang kena matahari. Perutnya rata, kakinya jenjang. Ada tahi lalat kecil di pinggang kirinya.
Aku mengangkatnya dan mendudukkannya di atas tumpukan kardus yang kokoh. Ia terkesiap lalu tertawa kecil.
"Kardus mie instan," bisiknya. "Jadi saksi."
"Biarin."
Aku berlutut di depannya. Ia membuka kakinya untukku. Aku mencium pahanya yang mulus, naik perlahan. Ia bersandar dengan kedua tangan di kardus, kepalanya mendongak, mendesah panjang.
Waktu mulutku menemukannya, ia menjerit tertahan dan menjambak rambutku kuat-kuat. Tubuhnya melengkung. Aku tidak berhenti sampai kakinya gemetar dan ia memohon dengan suara serak.
Lalu aku berdiri. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena gairah yang meluap.
"Masuk," bisiknya. "Aku udah nggak tahan."
Aku mendekat. Ia melingkarkan kakinya di pinggangku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, basah. Sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang cepat dan putus asa. Tumpukan kardus bergoyang. Beberapa kardus kecil jatuh ke lantai. Kami tidak peduli.
"Jangan berhenti," desahnya. "Jangan berhenti."
Tangannya mencakar punggungku. Kukunya menancap. Keringat membasahi tubuh kami. Udara gudang yang pengap membuat semuanya terasa lebih intens.
Ia mencapai puncaknya dengan jeritan tertahan yang ia redam dengan menggigit bahuku. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukanku. Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan, dan beberapa detik kemudian aku menyusul dengan erangan panjang.
Kami terdiam cukup lama, masih menyatu, masih terengah-engah. Kepalanya bersandar di dadaku. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Gila," bisiknya.
"Gila yang enak."
Ia tertawa kecil. "Jangan bilang siapa-siapa ya."
"Rahasia kita."
Kami berpakaian kembali dengan cepat. Merapikan kardus yang jatuh, memastikan tidak ada jejak. Waktu kami keluar dari gudang, lampu utama sudah menyala kembali. Listrik pulih. Neon putih kembali terang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Novi kembali ke kursinya di kasir. Aku mengambil kopiku yang tertinggal di meja. Kami saling pandang dan tersenyum, senyum yang hanya kami berdua yang mengerti artinya.
Hujan mulai reda. Aku pamit pulang jam dua lewat.
"Malam, Mas," katanya, profesional seperti biasa. Tapi matanya berkedip nakal.
"Malam, Novi."
Aku berjalan pulang di bawah hujan rintik, dengan payung lipat kecil yang tidak banyak membantu. Bajuku basah. Tapi aku tersenyum sepanjang jalan.
Malam berikutnya aku datang lagi jam satu, seperti biasa. Kopi dua, rokok satu. Total dua puluh tujuh ribu.
Tapi sekarang ada yang beda. Waktu ia mengembalikan kembalian dan permen mint, jarinya menyentuh telapak tanganku sedikit lebih lama.
"Masih belum bisa tidur, Mas?" tanyanya, seperti biasa.
"Belum," jawabku, seperti biasa. "Kamu? Ngantuk?"
"Udah biasa," katanya, seperti biasa.
Tidak ada yang berubah di permukaan. Minimarket tetap terang, lorong tetap kosong, pintu otomatis tetap berbunyi ting setiap ada yang masuk.
Tapi setiap malam, di antara bunyi ting itu, ada rahasia kecil milik kami berdua. Rahasia yang dimulai di gudang belakang, di antara kardus mie instan, di malam hujan saat listrik padam.
Dan setiap malam, aku bersyukur aku insomnia.
