Trk-trk-trk. Jarum mesin jahit itu bergerak cepat, menusuk kain biru tua dengan ritme yang hampir seperti musik. Pita meter berwarna kuning melingkar di leher perempuan yang duduk di balik mesin, dan jari-jarinya yang lincah menuntun kain melewati sepatu mesin dengan ketelitian seorang ahli bedah. Bau kapur jahit dan kain baru memenuhi ruko kecil berukuran tiga kali empat meter itu, tempat puluhan kemeja setengah jadi tergantung di gantungan seperti pasien yang menunggu giliran diperiksa.
Jatmiko berdiri di depan cermin tinggi di sudut ruangan, mencoba jas hitam yang masih dipenuhi tusukan jarum pentul. Pria tiga puluh empat tahun itu bekerja sebagai karyawan bank, dan minggu depan ada acara gala dinner kantor yang mengharuskan semua manajer tampil rapi. Kemeja putihnya sudah disetrika licin, dasi merah marun tergantung longgar di leher, dan keringat tipis membasahi pelipisnya karena lampu ruko yang terasa hangat.
Sudah tiga tahun Jatmiko menjadi pelanggan di sini. Penjahit bernama Bu Yani itu berusia tiga puluh enam tahun, seorang janda yang ditinggal suaminya meninggal tiga tahun silam karena serangan jantung. Tubuhnya ramping dengan lekuk yang masih terjaga, rambutnya yang hitam panjang selalu disanggul rapi saat bekerja, dan matanya yang tajam mampu membaca ukuran tubuh seseorang hanya dengan sekali pandang.
"Jasnya sudah hampir jadi, Pak Jatmiko. Coba angkat tangannya," kata Bu Yani sambil bangkit dari mesin jahit.
Jatmiko mengangkat kedua tangannya seperti disuruh. Bu Yani mendekat, pita meter masih melingkar di lehernya, dan mulai memeriksa jahitan di bagian bahu. Jari-jarinya menyentuh kain, meraba, menekan, memastikan tidak ada lipatan yang salah. Sentuhannya profesional, tapi Jatmiko merasakan kehangatan yang merambat dari ujung jari perempuan itu setiap kali kulit mereka bersentuhan tanpa sengaja.
"Lengan kirinya kurang satu senti, Pak. Nanti saya betulkan," gumam Bu Yani sambil mencatat di buku kecilnya.
"Bu Yani tidak pernah salah ukur. Saya percaya penuh," jawab Jatmiko sambil tersenyum.
Bu Yani tertawa kecil. Tawa yang renyah, yang sudah lama tidak terdengar seceria itu, bahkan oleh telinganya sendiri. Sejak suaminya meninggal, hidupnya hanya berisi mesin jahit, kain, dan kesepian yang menumpuk seperti sisa potongan benang di lantai ruko. Pelanggannya banyak, tapi tidak ada yang benar-benar mengajaknya bicara selain soal ukuran dan model.
"Kapan jasnya harus diambil, Pak?" tanya Bu Yani sambil melepas jarum pentul satu per satu dari bahu jas.
"Acara gala dinner-nya hari Sabtu malam. Kalau bisa Jumat sudah jadi, biar ada waktu kalau perlu diubah."
Bu Yani mengangguk sambil berpikir. Hari ini sudah hari Rabu sore. Artinya ia punya waktu dua hari untuk menyelesaikan jas itu dengan sempurna. Bukan pekerjaan yang mustahil, tapi ia harus lembur. Dan anehnya, ia tidak keberatan. Justru ada semangat baru yang menyala di dadanya, semangat yang sudah lama padam.
"Bisa, Pak. Jumat sore silakan ambil. Saya lembur dua malam ini."
"Wah, merepotkan sekali. Nanti saya kasih tip lebih," kata Jatmiko.
"Tipnya cukup dengan testimoni ke teman-teman kantor, Pak. Biar pelanggan saya tambah banyak," canda Bu Yani.
Jatmiko tertawa. Ia melepas jas itu dengan hati-hati dan menyerahkannya. Saat tangan mereka bertemu di kain jas, ada jeda sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Mata mereka bertemu. Bu Yani cepat-cepat menunduk, pipinya sedikit merona.
Jumat sore, langit mendung menggantung rendah di atas kota. Jatmiko datang ke ruko Bu Yani tepat pukul lima, membawa sekantong buah sebagai ucapan terima kasih. Pintu ruko setengah terbuka, dan suara mesin jahit masih terdengar dari dalam. Bu Yani tampak lelah, lingkaran hitam tipis di bawah matanya menunjukkan dua malam lembur yang ia janjikan.
"Pak Jatmiko, jasnya sudah jadi. Coba dipakai," sapa Bu Yani sambil menyerahkan jas yang tergantung rapi di gantungan.
Jatmiko mencoba jas itu di depan cermin. Hasilnya sempurna. Bahunya pas, lengannya pas, potongannya membuat tubuhnya terlihat lebih tegap dan berwibawa. Ia berputar, memeriksa dari semua sisi, dan mengangguk puas.
"Luar biasa, Bu. Ini jas terbaik yang pernah saya pakai," puji Jatmiko tulus.
Bu Yani tersenyum lebar, rasa lelahnya seketika terbayar. "Alhamdulillah kalau cocok. Duduk dulu, Pak, saya buatkan teh."
Mereka duduk di dua kursi plastik di sudut ruko, di antara tumpukan kain dan pola kertas. Teh manis hangat mengepul dari dua cangkir. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi jalanan dan menimbulkan bau tanah yang khas.
"Sudah lama Ibu menjahit?" tanya Jatmiko, memecah keheningan yang nyaman.
"Sejak umur dua puluh, Pak. Dulu belajar dari ibu saya. Setelah menikah, suami saya yang modalin buka ruko ini. Sekarang sudah enam belas tahun berjalan."
Jatmiko mengangguk. Ia tahu cerita itu, sepotong-sepotong, dari obrolan selama tiga tahun menjadi pelanggan. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Bu Yani bercerita lebih panjang. Tentang suaminya yang dulu sopir truk antar kota, tentang bagaimana mereka membangun usaha ini dari nol, tentang malam-malam sepi setelah kepergiannya.
"Tiga tahun, Pak. Tiga tahun saya tidur sendirian di rumah itu. Kadang saya ngobrol sama mesin jahit saking sepinya," kata Bu Yani dengan tawa getir.
Jatmiko merasakan sesuatu menusuk dadanya. Ia sendiri belum menikah di usia tiga puluh empat, sibuk dengan karier di bank, dan sering merasa hampa saat pulang ke apartemennya yang sunyi. Kesepian Bu Yani terasa akrab, seperti cermin dari kesepiannya sendiri.
"Kita sama, Bu. Saya juga sering ngobrol sama televisi di apartemen," kata Jatmiko, dan mereka tertawa bersama.
Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar jauh, dan lampu ruko sempat berkedip. Bu Yani bangkit untuk menutup pintu ruko lebih rapat, dan saat ia kembali duduk, kursinya tanpa sadar bergeser lebih dekat ke Jatmiko.
Obrolan mereka mengalir. Dari soal jahitan, ke soal makanan favorit, ke soal film, ke soal mimpi-mimpi yang tertunda. Bu Yani bercerita bahwa ia dulu ingin punya butik sendiri, tapi modal tidak pernah cukup. Jatmiko bercerita bahwa ia dulu ingin jadi arsitek, tapi orang tuanya memaksanya masuk perbankan.
"Kita berdua sama-sama hidup di jalan yang bukan pilihan kita ya, Pak," kata Bu Yani pelan, menatap cangkir tehnya.
"Tapi kita masih bisa belok, Bu. Belum terlambat," jawab Jatmiko, menatap wajah perempuan itu.
Hening. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar. Bu Yani mengangkat wajahnya, dan mata mereka bertemu lagi. Kali ini tidak ada yang menunduk. Ada sesuatu yang mengalir di antara mereka, sesuatu yang hangat dan mendesak, sesuatu yang sudah lama tidak dirasakan keduanya.
Tangan Jatmiko bergerak perlahan, menyentuh tangan Bu Yani yang bertumpu di lututnya. Perempuan itu tidak menarik tangannya. Justru jemarinya membalas, menggenggam dengan lembut.
"Bu Yani," bisik Jatmiko.
"Ya, Pak?" Suaranya bergetar.
"Saya boleh jujur? Tiga tahun jadi pelanggan, saya selalu menunggu-nunggu saat fitting. Bukan karena bajunya. Karena Ibu."
Air mata menggenang di pelupuk mata Bu Yani. Sudah tiga tahun tidak ada yang mengucapkan kata-kata seperti itu padanya. Sudah tiga tahun ia merasa tidak terlihat sebagai perempuan, hanya sebagai penjahit.
"Saya juga, Pak," bisiknya. "Tiap Bapak datang, ruko ini rasanya hidup."
Jatmiko mendekat. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya ragu, lalu semakin dalam dan penuh kerinduan. Tangan Jatmiko membelai pipi Bu Yani, menghapus air mata yang jatuh, sementara tangan perempuan itu mencengkeram kemeja Jatmiko.
Mereka pindah ke ruang belakang ruko, sebuah ruangan kecil tempat Bu Yani biasa beristirahat di sela pekerjaan. Ada dipan tipis, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke gang sempit. Hujan masih turun, menciptakan tirai suara yang menutupi dunia luar.
Di atas dipan itu, dengan pakaian yang terlepas satu per satu, dua orang dewasa yang sama-sama kesepian itu menemukan kehangatan yang lama hilang. Sentuhan Jatmiko lembut dan penuh perhatian, seolah ia sedang menangani sesuatu yang berharga dan rapuh. Bu Yani membalas dengan gairah yang tertahan selama tiga tahun, tubuhnya melengkung dan bergetar di bawah sentuhan pria itu.
Pita meter kuning yang tadi melingkar di leher Bu Yani kini tergeletak di lantai, terlupakan. Yang ada hanya napas yang memburu, bisikan nama, dan janji-janji tanpa kata. Jatmiko mencium setiap inci kulit perempuan itu dengan penuh hormat, dan Bu Yani memeluknya erat seolah takut pria itu akan menghilang seperti mimpi.
Mereka bercinta dengan perlahan, menikmati setiap detiknya, tidak terburu-buru. Bagi Bu Yani, ini adalah pertama kalinya dalam tiga tahun ia merasa diinginkan sebagai perempuan. Bagi Jatmiko, ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang lama ia merasa benar-benar hidup, bukan sekadar menjalani rutinitas.
Setelahnya, mereka berbaring berdampingan di dipan sempit itu, berbagi selimut tipis. Hujan sudah reda, menyisakan bunyi tetesan air dari atap seng. Bu Yani menyandarkan kepalanya di dada Jatmiko, mendengarkan detak jantungnya yang masih berdebar.
"Pak Jatmiko tidak menyesal?" tanya Bu Yani pelan.
"Menyesal kenapa? Saya justru bersyukur," jawab Jatmiko sambil mengelus rambut perempuan itu yang sudah terurai dari sanggulnya. "Bu Yani perempuan yang luar biasa."
Bu Yani tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, senyum itu sampai ke matanya.
Malam itu Jatmiko tidak langsung pulang. Mereka mengenakan pakaian kembali, lalu Bu Yani menjahitkan kancing jas yang sempat lepas saat fitting tadi, dengan Jatmiko memperhatikannya bekerja. Gerakan tangannya yang teliti kini terasa berbeda di mata Jatmiko, lebih hidup, lebih bermakna.
"Jumat depan saya antar kain batik, Bu. Mau dibuatkan kemeja untuk acara kantor lagi," kata Jatmiko saat berpamitan di depan ruko.
"Silakan, Pak. Dengan senang hati," jawab Bu Yani, dan ada binar baru di matanya.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Jatmiko menjadi pelanggan yang paling sering datang, bukan hanya untuk menjahit, tapi untuk Bu Yani. Kadang ia datang hanya untuk minum teh dan mengobrol. Kadang ia membantu membereskan ruko saat sepi. Dan kadang, saat ruko sudah tutup dan hujan turun, mereka mengulang malam Jumat yang mengubah segalanya.
Bu Yani kembali tertawa. Ruko kecil itu kembali hidup. Dan pita meter kuning yang melingkar di lehernya kini terasa seperti kalung keberuntungan, bukan sekadar alat kerja.
Di acara gala dinner hari Sabtu itu, Jatmiko tampil paling rapi di antara semua manajer. Jas hitamnya pas sempurna, dan senyumnya tidak pernah lepas. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kerapian itu ada tangan-tangan teliti seorang penjahit janda yang telah menjahitkan kembali hatinya yang lama robek.
Dan setiap kali Jatmiko memakai jas itu, ia teringat ritme mesin jahit, pita meter yang melingkar, dan perempuan yang mengajarinya bahwa cinta bisa datang dari tempat yang paling tidak terduga, bahkan dari sebuah ruko penjahit kecil di sudut kota.
