CERITA DEWASA

Janda Penjual Sate Madura

Asap putih mengepul dari bara arang, membawa aroma daging kambing yang dibakar dan bumbu kecap manis. Tusuk-tusuk sate berdesis di atas panggangan, tetesan lemak jatuh dan menimbulkan lidah api kecil yang menjilat-jilat. Di balik kepulan asap itu, seorang perempuan mengipas bara dengan kipas bambu, gerakannya lincah dan penuh pengalaman.

Itu pemandangan yang selalu kutemui setiap Jumat malam, di sudut jalan dekat perempatan lampu merah. Gerobak sate Madura milik Mbak Yati.

Aku sudah menjadi pelanggannya selama dua tahun. Setiap Jumat malam, sepulang kerja, aku selalu mampir. Kadang beli sepuluh tusuk, kadang dua puluh kalau ada teman kos yang nitip. Rasanya tidak pernah berubah, selalu pas di lidah dan selalu membuatku ketagihan. Tapi sejujurnya, bukan cuma satenya yang membuatku kembali.

Mbak Yati itu cantik. Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun, tubuhnya padat berisi, kulitnya sawo matang yang berkilau kena panas bara. Rambutnya selalu digelung sederhana, dan senyumnya ramah pada setiap pembeli. Ia janda, itu kudengar dari Pak RT yang juga langganan. Suaminya meninggal lima tahun lalu karena sakit, dan sejak itu ia menghidupi dirinya dengan jualan sate warisan almarhum suaminya.

"Rendra! Seperti biasa?" sapanya malam itu, begitu melihatku turun dari motor. Suaranya lantang tapi hangat.

"Seperti biasa, Mbak. Dua puluh tusuk, bumbunya yang banyak," jawabku sambil duduk di bangku plastik yang sudah disediakan.

Langit malam itu mendung. Angin berembus lebih kencang dari biasanya, membuat asap sate berputar-putar. Aku yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan distribusi, umurku tiga puluh dua tahun, dan Jumat malam adalah ritual pelepas penatku. Duduk di pinggir jalan, makan sate panas, melihat hiruk pikuk kota yang mulai sepi.

Mbak Yati membakar sate pesananku dengan cekatan. Tangannya yang terbiasa memutar tusuk-tusuk itu bergerak cepat. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

"Sepi ya, Mbak, malam ini?" tanyaku, melihat jalanan yang lengang.

"Iya, Mas. Mendung begini orang malas keluar. Dari tadi baru lima pembeli," katanya sambil tersenyum tipis. Ada lelah di wajahnya malam itu.

Aku mengangguk. Sate pesananku datang, masih mengepul. Aku makan perlahan, menikmati setiap gigitan. Dagingnya empuk, bumbunya meresap. Di kejauhan, guntur menggelegar pelan.

"Mbak, kayaknya mau hujan deres nih," kataku sambil menatap langit yang makin gelap.

Mbak Yati menengadah. "Waduh, iya. Padahal arang masih banyak." Ia tampak cemas. Gerobaknya tidak beratap penuh, hanya terpal kecil yang tidak akan cukup menahan hujan deras.

Belum sempat ia berbuat apa-apa, titik-titik air mulai jatuh. Awalnya rintik, lalu makin deras dalam hitungan menit. Pembeli yang tinggal dua orang segera pergi. Mbak Yati panik, berusaha menutup bara dengan seng, tapi angin meniupkan air hujan ke mana-mana.

"Mbak, biar aku bantu!" Aku berdiri dan menghampiri gerobak.

Kami berdua bergerak cepat. Aku membantu menurunkan terpal besar yang biasa ia pakai menutup gerobak saat pulang. Hujan makin deras, baju kami basah kuyup dalam sekejap. Mbak Yati menarik terpal dari satu sisi, aku dari sisi lain. Tangan kami beberapa kali bersentuhan, dingin dan basah.

"Mas Rendra, makasih banyak ya," katanya dengan napas terengah setelah gerobak tertutup rapat. Rambutnya yang digelung kini terurai basah, menempel di pipi dan lehernya. Ada sesuatu yang berbeda melihatnya seperti itu, lebih manusiawi, lebih dekat.

"Sama-sama, Mbak. Terus ini gimana? Mbak pulang sekarang?"

Ia menggeleng. "Nunggu reda dulu. Kalau maksain jalan, gerobak bisa oleng. Rumahku di gang belakang pasar, lumayan jauh."

Kami berteduh di bawah kanopi ruko yang tutup di seberang jalan. Hujan turun seperti tirai, suara gemuruhnya menenggelamkan suara kota. Kami duduk di undakan ruko, baju basah menempel di badan. Aku bisa mencium aroma minyak telon bercampur asap sate dari tubuhnya.

"Mas Rendra baik banget sih," kata Mbak Yati pelan, menatap hujan. "Jarang ada pembeli yang mau bantu begini."

"Ah, biasa aja, Mbak. Sesama manusia harus saling bantu."

Ia tersenyum, lalu terdiam cukup lama. Hanya suara hujan yang mengisi keheningan. Lalu ia berkata, suaranya lebih pelan, "Mas tahu nggak, aku janda udah lima tahun."

Aku mengangguk pelan. "Aku pernah dengar."

"Lima tahun, Mas. Lima tahun aku tidur sendirian, makan sendirian, nangis sendirian kalau lagi capek. Orang lihat aku ketawa-ketawa jualan, dikira aku kuat terus. Padahal kadang aku pengen juga ada yang nanya, Mbak capek nggak."

Ada getar di suaranya. Aku menoleh. Matanya berkaca-kaca, tapi ia buru-buru menyekanya dengan ujung jilbab yang ia pakai.

"Mbak Yati itu perempuan hebat," kataku sungguh-sungguh. "Nggak semua orang bisa bertahan kayak Mbak."

Ia menatapku. Dalam remang cahaya lampu jalan yang menembus tirai hujan, matanya terlihat begitu dalam dan lelah. Lalu perlahan, ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tubuhnya gemetar sedikit, entah karena dingin atau karena emosi.

Aku tidak bergerak. Jantungku berdebar kencang. Aroma tubuhnya kini begitu dekat, campuran keringat, asap, dan sesuatu yang manis.

"Mas Rendra nggak keberatan kan?" bisiknya.

"Nggak, Mbak. Nggak keberatan sama sekali."

Hujan masih deras. Tanganku yang semula diam di pangkuan, perlahan kuletakkan di bahunya. Ia tidak menolak. Malah ia bergeser lebih dekat, hingga sisi tubuhnya menempel di tubuhku. Panas tubuhnya terasa menembus baju basahku.

"Mbak dingin ya?" tanyaku.

Ia mengangguk kecil. Aku melepas jaket motorku yang agak kering di bagian dalam dan menyampirkannya ke bahunya. Saat tanganku menyentuh bahunya, ia menengadah menatapku. Jarak wajah kami tinggal sejengkal.

Waktu seperti berhenti. Aku bisa mendengar napasnya yang memburu. Matanya menatap bibirku, lalu kembali ke mataku. Ada pertanyaan di sana, dan ada jawaban yang sama-sama kami tahu.

Aku menunduk perlahan, memberinya kesempatan untuk mundur. Ia tidak mundur. Bibir kami bertemu.

Ciuman pertama itu lembut, ragu-ragu, basah oleh air hujan yang menetes dari rambut kami. Lalu Mbak Yati melingkarkan tangannya di leherku dan menarikku lebih dalam. Ciumannya berubah menuntut, lapar, seperti lima tahun kesepian yang tumpah sekaligus.

Tanganku merambat ke pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya yang padat di balik baju basah. Ia mengerang pelan di sela ciuman kami. Suara hujan menutupi segalanya, memberi kami keberanian.

"Mbak..." aku berbisik di sela napas, "yakin?"

Ia mengangguk tanpa membuka mata. "Aku butuh ini, Mas. Aku butuh merasa hidup lagi."

Kami berdiri, masih berpelukan, dan ia menarikku ke sisi ruko yang lebih gelap, terlindung dari jalan oleh gerobak satenya yang tertutup terpal. Di sana, di bawah kanopi yang bocor di beberapa titik, kami saling melepaskan rindu yang tak pernah kami akui.

Bajunya yang basah menempel erat, mencetak jelas bentuk tubuhnya. Aku menyentuhnya dengan hati-hati dulu, menghormati, lalu ia sendiri yang menuntun tanganku. "Nggak usah ragu, Mas," bisiknya, suaranya serak.

Malam itu, di tengah hujan deras yang tak kunjung reda, kami bercinta dengan tergesa tapi penuh perasaan. Setiap sentuhan seperti obat bagi kesepiannya, dan setiap desahannya seperti pengakuan bahwa ia masih perempuan yang hidup dan berhasrat. Aku memeluknya erat, merasakan tubuhnya yang hangat bergetar di pelukanku. Tangannya mencengkeram punggungku, kukunya menancap pelan, seolah takut aku akan menghilang seperti mimpi.

Kami bergerak dalam ritme yang lambat dan dalam, tidak terburu-buru. Aku ingin ia merasakan setiap detiknya, ingin menghapus lima tahun kesepian itu dengan kehangatan tubuhku. Ia membisikkan namaku berulang-ulang di telingaku, suaranya bergetar, dan setiap bisikannya membuat darahku berdesir. Keringat bercampur sisa air hujan di kulit kami, membuat setiap sentuhan terasa licin dan panas.

Ketika akhirnya kami mencapai puncak bersama, ia memelukku begitu erat sampai aku sulit bernapas. Tubuhnya mengejang pelan, lalu melemas sepenuhnya di pelukanku. Air matanya menetes, tapi kali ini ia tersenyum. "Lima tahun, Mas," bisiknya dengan suara parau, "lima tahun aku lupa rasanya dipeluk begini."

Setelahnya, kami duduk kembali di undakan, napas masih memburu. Mbak Yati bersandar di dadaku, dan aku melingkarkan tanganku di tubuhnya. Hujan mulai mereda, tinggal rintik-rintik.

"Mas nyesel?" tanyanya pelan.

Aku menggeleng dan mencium keningnya. "Nggak. Mbak?"

Ia tersenyum, senyum yang berbeda dari senyum penjual sate yang biasa kulihat. Senyum ini lebih lembut, lebih jujur. "Nggak. Makasih ya, Mas. Malam ini aku ngerasa jadi perempuan lagi, bukan cuma janda penjual sate."

Kami duduk diam cukup lama. Lalu Mbak Yati bangkit dan merapikan pakaiannya. "Udah reda. Aku pulang dulu ya, Mas. Gerobaknya biar di sini aja, besok pagi aku ambil sama adikku."

"Aku anterin sampai gang pasar ya, Mbak. Gelap dan licin."

Ia mengangguk. Kami berjalan beriringan menembus sisa hujan, sesekali tangan kami bersentuhan dan saling menggenggam erat. Di mulut gang, ia berhenti.

"Mas Rendra," katanya, menatapku dalam-dalam, "Jumat depan datang lagi ya. Satenya gratis buat Mas."

Aku tertawa kecil. "Kalau gratis terus, Mbak bisa bangkrut."

"Bangkrut duit nggak apa-apa," katanya sambil tersenyum nakal, "asal nggak bangkrut rasa."

Ia berbalik dan berjalan masuk gang dengan langkah ringan, meninggalkan aroma sate dan kenangan malam hujan di belakangnya. Aku menatap punggungnya sampai hilang di tikungan, lalu naik motor pulang dengan senyum yang tak bisa kuhilangkan.

Sejak malam itu, Jumat malamku tidak pernah sama lagi. Aku tetap datang untuk satenya yang lezat, tapi kini ada alasan lain yang membuatku selalu menantikan akhir pekan. Kadang setelah gerobak tutup, Mbak Yati mengajakku mampir ke rumahnya yang sederhana di gang belakang pasar. Kami minum teh manis panas, mengobrol tentang apa saja, dan tak jarang malam berakhir dengan kami berdua yang saling menghangatkan di kamarnya yang sempit tapi nyaman.

Ia tidak lagi menangis sendirian. Dan aku tidak lagi sekadar pelanggan. Di antara asap sate dan bara arang, kami menemukan sesuatu yang tidak kami cari tapi sama-sama kami butuhkan. Dan setiap kali Mbak Yati menyapaku dengan "Seperti biasa?", aku tahu jawabannya selalu lebih dari sekadar dua puluh tusuk sate.

bagikan